PILGUBSU 2008, MENGHARAP LEGITIMASI “RAKYAT JENUH”


PILGUBSU 2008,

MENGHARAP LEGITIMASI “RAKYAT JENUH

Oleh : *Togar Lubis

 

Sejak awal Januari 2007, sejumlah nama telah “memproklamirkan” diri sebagai Bakal Calon (Balon) Gubernur Sumatera Utara periode 2008 – 2013.  Sejak itu, para balon Gubernur ini juga mulai melakukan kunjungan ke sejumlah daerah Kabupaten/Kota, memohon dukungan, restu dan do’a. Dalam setiap kunjungannya, “badut-badut politik” ini berbicara tentang ekonomi dan kesejahteraan rakyat, pembangunan dan masa depan. Tapi, masihkah rakyat percaya dan mau memberikan legitimasi terhadap mereka ?.

Jika kita melihat secara objektif hasil pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di 65 desa Kabupaten Langkat 18 Desember 2007 lalu, mungkin para Balon Gubsu tersebut akan berfikir ulang untuk “bertempur habis-habisan” menjelang dan saat Pilkada yang direncanakan akan berlangsung April 2008 yang akan datang. Bagaimana tidak, walau panitia pilkades telah bekerja extra keras, namun sedikitnya di 30 desa hasil pemilihan tersebut tidak memenuhi 2/3 dari jumlah pemilih (qorum) sehingga beberapanya harus diulang dan sebahagiannya lagi dengan persetujuan para kandidat tetap dianggap sah.

Dari hasil pemilihan tersebut juga diketahui bahwa persentase tingkat kepercayaan masyarakat terhadap segala bentuk pemilihan jabatan public sangat kecil. Masyarakat terlihat terlalu apatis bahkan sudah begitu muak terhadap “janji dan bujuk rayu” para kandidat, sehingga mengambil sikap tidak memberikan suaranya kepada siapapun. Mereka lebih memilih tetap menjalankan aktivitasnya sehari-hari  walau undangan sebagai pemilih tetap mereka terima. Padahal para calon Kades tersebut merupakan sosok yang dikenal baik oleh para pemilih, sebab masih merupakan teman, tetangga atau bahkan memiliki pertalian darah (keluarga).

Hal inilah yang mungkin belum disadari oleh para calon Gubsu termasuk para Team Suksesnya (TS). Mereka sibuk “mengklaim” dirinya sendiri sebagai calon pemimpin yang bersih dari KKN, dekat dengan rakyat, amanah, aspiratif, sahabat semua suku dan segala bentuk symbol kebaikan lainnya. Padahal rakyat sudah tidak memandang itu semua, apalagi pasca melambungnya harga sembilan bahan kebutuhan pokok dan langkanya minyak tanah. Yang ada dalam pikiran rakyat saat ini adalah bagaimana caranya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan jika lebih beruntung dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Walaupun masyarakat sudah jenuh, ternyata mereka masih mau mendengarkan petunjuk dan arahan dari orang-orang yang selama ini mereka anggap sebagai orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib dan penderitaan rakyat. Mereka adalah kelompok atau orang-orang yang selalu siap membantu tanpa pamrih dan tetap ada jika masyarakat merasa telah terjadi ketidak adilan khususnya dalam proses hukum. Selanjutnya adalah orang-orang yang selama ini giat memperjuangkan hak-hak rakyat khususnya masyarakat miskin dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Jika yang terjadi adalah demikian, lalu apalagi program dan misi yang dipakai dan dijual oleh para TS untuk mempengaruhi pemilih agar menjatuhkan pilihannya terhadap kandidat yang dijagokan ?. Kunjungan, sanjungan dan sedikit bantuan sembako pada rakyat saat menjelang pilkada diyakini tidak akan dapat mempengaruhi sikap dan pilihan rakyat. Bantuan yang diberikan kandidat atau TS secara cuma-cuma pasti akan mereka terima, tapi soal memberikan suara ? nanti dulu.

 Dari gambaran di atas mungkin kita dapat menarik sebuah kesimpulan bersifat sementara, bahwa siapapun yang terpilih pada pemilihan Gubernur Sumatera Utara yang direncanakan akan berlangsung pada pertengahan April 2008 yang akan datang hasilnya tidak akan legitimed.. Pembuktiannya kita lihat di bulan Mei 2008. Salam.

 

* Koordinator Kelompok Studi dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-SEMAR) Sumut

 

 

7 Tanggapan

  1. polittikk… politik..
    bagi yg ga ngerti politik, diboongin jd percaya…hihi😀

  2. thk u ya sy jd ada tambahan bahan buat tugas kom politik hehehe
    kalo saya sih golput aja

  3. Kembali, Golput juga merupakan hak warga negara. Jika memang tidak ada sosok yang pantas untuk kita pilih, golput adalah pilihan terbaik. Sebab memilih pemimpin juga ada pertanggungjawabannya, minimal tanggung jawab moral. Salam dari K-SEMAR Sumatera Utara.

  4. anda saja yang sibuk kampanye, masyarakat sumut itu lebih banyak yang tidak peduli soal pilkada. sebab bagi mereka siapapun yang terpilih tidak akan merubah apa-apa. Apalagi yang terpilih itu Syamsul, ngurus langkat aja tidak becus apalagi sumut.

  5. GOLPUT adalah pilihan terbaik buat ku melihat kwalitas dan janji kampanye 5 pasang ca/cawagubsu saat ini.
    semuanya berjanji mau memajukan sumut tanpa malu2 berkoar2 akulah yg terbaik untuk sumut.

    No urut 1.
    Pendidikan gratis, pengobatan gratis bla…bla..bla…
    ingat zaman soeharto, kemudahan2 yg di dapat membuat sebagian rakyat indonesia malas untuk berbuat, subsidi di semua bidang terbukti menghancurkan sendi2 kehidupan dan efek dari itu sekarang di rasakan rakyat indonesia.

    bila semua gratis berati itu adalah pembodohan masyarakat yang paling nyata, berapa anggaran Gratis yg akan di kucurkan,siapa yg berhak mendapatkannya, siapa orang2 yg akan melaksanakan pemberian dana gratis tsb, bagaimana mekanismenya, ada gak payung hukum untuk dana gratis tsb karena yg namanya gratis paling gampang di sunat dan di selewengkan.
    ( gak bagus untuk jadi gubsu, karena 60% rakyat sumut masih miskin, kalo semua gratis berati gak ada pembangunan karena semua dana tersedot untuk itu )

    No urut 2.
    sumut kondusif mengalakan ekonomi kerakyatan berdasarkan hati nurani.
    di usung oleh PDIP pasangan ini begitu yakin dapat mewujudkan mimpinya, PDIP yang telah di tinggalkan rakyat karena tidak berrpihak lagi dan untuk pasangan ini tidak mempunyai prestasi dan kelebihan selama menjadi pemimpin di instasi tempatnya betugas.

    No urut 3
    Yang juga seorang walikota di kota terjepit, selama menjadi walikota juga tak banyak yg bisa dilakukannya dan tak ada pengembangan berarti serta kurangnya insvestor yg masuk untuk menanamkan modal yg dapat mengurangi pengangguran .

    No urut 4.
    Dengan pengalaman matang berorganisasi sedemikian, Suami dari Hj. Atika Rahman Panjaitan ini berkarir dengan melesat cepat, yaitu: Sekretaris pada Perkebunan Londut (1969-1971), Sekwilda Tk II Labuhan Batu (1971-1981), Biro Pemerintahan Umum Pempropsu (1980-1983), Asisten Kesra (1983-1984) merangkap sebagai Plt Bupati Asahan, Bupati Tapanuli Tengah (1988-1990), Inspektorat Propsu (1990-1994), Sekwildasu (1995-1998), dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Bid. Pem/Kessos (1997-2002) merangkap sebagai Plt Bupati Langkat (1999-2002).
    dengan seabrek pengalaman jadi pemimpin, calon yg satu ini ternyata kurang peka terhadap kemajuan daerah yg pernah dipimpinnya,dengan posisi penting sebagai ketua dprd sumut seharusnya masalah krisis listrik yg dialami sumut bisa teratasi mengapa dipilgubsu beliau berjanji akan bisa mengatasi krisis listrik dalam tempo 7 bulan serta masalah pengembalian uang 100 juta yg di terima dari walikota medan ketika KPK datang menangkap walikota & wakilnya, seharusnya uang itu dipertanyakan darimana dan tidak mungkin orang akan memberi uang begitu besar tanpa maksud tertentu ( rakus ).

    No urut 5.
    Bupati langkat yg terkait dengan ijazah palsu, selama beliau memimpin 2 periode gak pernah terdengar ada insvestor yg mau menanamkan modalnya di langkat yang ada hanya berita dukun as,banjir bandang, kemiskinan dan kelaparan serta sarana pendidikan dan pengobatan yg kurang.

    dari kelima pasang tersebut satupun tidak ada yg berani menyuarakan akan memberantas KORUPSI, KOLUSI dan NEPOTISME padahal pemerintahan SBY tengah gencar2nya melakukan hal tsb melalui KPK dan LSM yg benar2 peduli akan hal itu.
    apakah kelima pasang calon tsb takut kedoknya terbongkar bila brani menyuarakan sikat habis korupsi padahal bila korupsi yg di suarakan salah satu calon tersebut maka 90% rakyat sumut akan memilih calon tersebut di sertai dengan komitmen berani mundur bila hal itu tidak terlaksana.

  6. Ass. Waklab0e, Saya sependapat dengan anda. Salam hormaty dan persahabatan kami dengan anda.

  7. enggak ada ya, yang berjanji untuk menegakkan hukum ?, karena masalah yang ada di Sumatera dan Indonesia umumnya timbul karena kurangnya penegakan hukum. Bila hukum ditegakkan dengan sebenar-benarnya maka yang lain akan berjalan dengan sendirinya, sesuai dengan flatform yang dibuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: