PILGUBSU DAN UNJUK RASA, Catatan #1 Untuk Dugaan Ijazah Palsu H.Syamsul Arifin


PILGUBSU DAN UNJUK RASA

Oleh : Togar Lubis

              Pasca terpilihnya Alm. Tengku Rizal Nurdin dan Rudolf Pardede sebagai Gubernur dan Wkl. Gubernur Sumatera Utara tahun 2003 lalu, gedung DPRD Sumut dan Mapoldasu seakan tidak pernah sepi dari aksi unjuk rasa. Issu yang diusung para demonstran tersebut adalah menuntut penegak hukum agar segera menuntaskan kasus dugaan ijazah palsu Wakil Gubsu Rudolf Pardede.  Seringnya aksi unjuk rasa ini membuat sejumlah kalangan masyarakat Sumut “gerah”, khususnya para supir angkutan umum di kota Medan. Sebab akibat seringnya unjuk rasa ini jalanan yang memang sudah macet bertambah macet.   Diantara massa yang termasuk paling sering melakukan unjuk rasa saat itu adalah para simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Publik menganggap hal itu aneh, sebab salah satu partai yang ikut mengusung pasangan T.Rizal Nurdin dan Rudolf Pardede untuk maju sebagai Cagubsu dan Wkl. Gubsu saat itu adalah PPP.    

            Pilgubsu dan unjuk rasa, dua kata yang menjadi satu kalimat ini mungkin akan kembali terulang di Sumatera Utara. Prediksi ini bukan tanpa alasan, sebab salah satu calon kuat yang diyakini berbagai pihak akan menjadi Gubernur Sumut 2008-2013 yaitu H. Syamsul Arifin, SE juga terindikasi mempergunakan ijazah palsu. Mungkin secara kebetulan salah satu partai yang mendukung Cagubsu ini juga adalah PPP.        

            Dugaan ijazah palsu H. Syamsul Arifin ini mencuat ke public pada tahun 2003 lalu saat dilansungkannnya pilkada Kabupaten Langkat. Saat mengajukan diri sebagai Balon Bupati Langkat periode ke-2, H. Syamsul Arifin kembali melampirkan Surat keterangan pengganti STTB SMEA sebelumnya ditambah dengan surat keterangan pengganti ijazah SD dan SMEP dengan alasan ijazah aslinya hilang sesuai dengan surat tanda penerimaan laporan kehilangan barang yang dikeluarkan oleh Polsek Stabat Nomor Pol. : STPL.KB/286/XII/2002 tanggal 12 Desember 2002. Dalam laporan/pengaduannya ke Polsek Stabat, H. Syamsul Arifin yang saat itu menjabat sebagai Bupati Langkat mengaku telah kehilangan satu lembar ijazah asli Surat Tamat Belajar Sekolah Rakyat Negeri (SR) dan ijazah asli SMEP dengan Nomor Ijazah LPA 060169 bertanggal 9 Nopember 1970. H. Syamsul Arifin juga mengaku bahwa kedua ijazah tersebut hilang dirumah dinasnya Jl. Proklamasi No. 41 Stabat.          

            Dari sejumlah pihak di Langkat berhasil dihimpun data yang menyebutkan bahwa H. Syamsul Arifin mengaku kehilangan ijazah SMEA-nya pada tahun 1995 sesuai dengan Surat Keterangan Polsek Pangkalan Brandan tanggal 23 Agustus 1995 dengan nomor Pol. SK /116/VIII/1995/Sbr. Atas Surat keterangan inilah Kanwil P dan K Sumut mengeluarkan surat keterangan pengganti STTB yang hilang dengan nomor 1020/105/MN/1996.S dan ditandatangani Ponijan Asri selaku Kabid. Dikmenjur. Surat keterangan pengganti ijazah STTB ini jugalah yang diajukan H. Syamsul Arifin sebagai syarat dalam pencalonannya menjadi Bupati Langkat periode pertama tahun 1998 lalu. Walau dalam surat keterangan ini banyak ditemui kejanggalan namun tidak terungkap kepublik, mungkin diakibatkan situasi negara  saat itu sedang kacau akibat tumbangnya rezim orde baru.          

           Pada pencalonannya yang ke-2, publik menemukan banyak kejanggalan, dalam surat keterangan pengganti Ijazah yang diajukan H. Syamsul Arifin sebagai persayaratan menjadi Balon Bupati Langkat. H. Syamsul Arifin ternyata tidak tamat SMEP Pangkalan Brandan pada tahun 1969 dan mengambil ijazah Extranen pada tahun 1970, tetapi Kasek SMPN 2 P.Brandan (dulunya SMEP) tanggal 20 Agustus 2003 mengeluarkan surat keterangan pengganti ijazah  dengan Nomor : 290/105/.3/SLTP/.08/S6/2003 yang isinya menerangkan bahwa H. Syamsul Arifin telah kehilangan ijazah SMEP dengan Nomor ijazah LPA 060169 tangal 9 Nopember 1970. Aneh, ijazah nomor tersebut adalah ijazah extranen yang dikeluarkan oleh   Dirjend. Pendidikan  tapi Kasek SMPN 2 P.Brandan Drs. Abdul Kadir menerbitkan surat keterangan pengganti ijazah H. Syamsul Arifin walau dalam buku induk siswa jelas dinyatakan bahwa Syamsul Arifin dengan No.Induk Siswa 308 dengan nomor ujian penghabisan 431/I tidak lulus pada tanggal 20 Nopember 1969.          

            Kejanggalan lainnya dalam surat keterangan pengganti ijazah H. Syamsul Arifin adalah surat keterangan pengganti Ijazah SMEA.  Dalam surat keterangan pengganti ijazah SMEA yang dikeluarkan  oleh Kabid. Dikmenjur Kanwil Depdikbud Sumut No. :1020/105//MN/1996.S bertanggal 25 Maret 1996 dan ditandatangani oleh Ponijan Asri terdapat sejumlah kejangalan seperti tahun tamat pelajaran  1972 dengan mempergunakan kurikulum pendidikan tahun 1974. Selain itu, penjumlahan nilai mata pelajaran juga tidak sesuai, yang seharusnya 159 dituliskan 160. Nilai yang diperoleh H. Syamsul Arifin dalam ijazah tersebut juga sangat buruk, 2 mata pelajaran bernilai 7,  15 mata pelajaran bernilai 6 dan 5 mata pelajaran bernilai 5.   bersambung ……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: