Bentuk Inkonsistensi Pemimpin,


       H. Syamsul Arifin, SE “MUNAFIK” Dalam Hal Gelar Raja Batak

Oleh : Togar Lubis

Mabuk lagi …., mabuk lagi…….. Itulah salah satu lirik lagu dangdut yang pernah hits di era tahun 90-an. Dan mungkin itu pulalah gambaran situasi politik di Sumatera Utara sejak tahun 2007 lalu atau menjelang diselenggarakannya Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 16 April 2008 yang akan datang.

Dalam tulisan sebelumnya saya juga menulis sebuah artikel dengan  konteks yang sama dengan judul “Untuk Kepentingan Politik “Ustad” Jadi Munafik. Tulisan tersebut  menggambarkan bagaimana seseorang termasuk “ustad” sekalipun sanggup memungkiri apa yang terjadi dan yang mereka alami demi sebuah kekuasaan. Lalu, apa kaitannya dengan Inkonsistensi Pemimpin ?.

Salah seorang Calon Gubernur Sumatera Utara (Cagubsu) periode 2008-2013 H. Syamsul Arifin,SE termasuk salah seorang pemimpin dengan type seperti itu. Setidaknya, H. Syamsul Arifin, SE harus memungkiri apa yang pernah dia rasakan, alami  bahkan banggakan saat diangkat menjadi Raja Batak.

Coba simak  tulisan dan photo di bawah ini …..

Syamsul Arifin Silaban dalam sambutanya mengungkapkan keharuannya atas pengangkatan dirinya sebagai Raja Batak melalui prosesi adat yang mencerminkan ketulusan pada tanggal 15 Mei 2007 lalu.
”Cukup banyak penghargaan yang saya terima sebelum maupun setelah menjadi Bupati. Namun pengangkatan sebagai Raja Batak inilah yang paling mengharukan dan membanggakan. Karena saya meyakini, pengangkatan ini akan membawa berkah tersendiri buat saya”  kata Syamsul.
http://www.silaban.net/2007/05/21/pengetua-adat-negeri-limbong-restui-raja-batak-h-syamsul-arifin-se-jadi-gubsu/
                                                  Photobucket

Bandingkan dengan pernyataan berikut……

Ketua Umum PB MABMI H Syamsul Arifin,SE menegaskan dirinya tidak ada menerima penabalan ataupunpenganugerahan gelar Raja Batak dari pihak mana pun. Dirinya memang ada mengunjungi daerah Pusuk Buhit Sianjur Mulamula untuk berziarah dan disambut sangat akrab oleh masyarakat setempat.
“Oleh tokoh adat Ompung Limbong saya diulosi dan didoakan, bukannya diberi penganugerahan Raja Batak. Itu tidak mungkin terjadi karena tokoh adat di sana tidak mungkin memberikan gelar seperti itu dan saya pun tidak mungkin mau menerima gelar Raja Batak,” kata  H. Syamsul Arifin kepada SIB, Jumat (25/5/07) di Medan.

Lalu kenapa Syamsul Arifin harus memungkiri apa yang pernah diterimanya ? Tidak lain untuk kepentingan politik. Pasca pengangkatan dirinya menjadi raja batak, sejumlah tokoh-tokoh batak khususnya di Sumut memprotes keras pemberian gelar tersebut.  Pemberian gelar ini dirasakan telah telah melukai perasaan etnis Batak yang hanya mengakui bahwa Raja Batak hanyalah Sisingamangaraja yang bermarga Sinambela bukan Silaban.  

 Itulah gambaran seorang pemimpin di Langkat yang mencalonkan diri sebagai salah seorang calon pemimpin di Sumatera Utara. Bermulut manis dan pandai merangkai kata, gampang berdusta, suka memutar balikkan fakta dan ini merupakan ciri-ciri manusia munafik. Disatu sisi dikatakannya dirinya sangat terharu dan bangga menerima gelar tersebut, namun 10 hari kemudian dia katakan bahwa dirinya tidak mungkin mau menerima gelar Raja Batak. Haruskah orang yang tidak konsisten seperti ini yang kita angkat menjadi pemimpin? Keputusan ada pada anda. Salam.

Isi sebahagian dikutip dari Tanggapan Djandel DP Marbun:
Pada tanggal 26 Juli 2007 jam 1:01 pm dan  Tanggapan ismail:
Pada tanggal 2 Agustus 2007 jam 10:25 pm atas tulisan Silaban Brotherhood.htm 26 Mei 2007 dengan judul : H.Syamsul Arifin Bantah Dirinya Diberi Gelar Raja Batak

5 Tanggapan

  1. sekali Ipal tetap………… IPAL

  2. hahahah

    cocok ngelawak aja dia di API……..

    ke GE_ER an

    di angkat jadi raja batak

    sadar bang samsul……

  3. Statement ini mungkin sedikit naif..

    Pemberian gelar ini dirasakan telah telah melukai perasaan etnis Batak yang hanya mengakui bahwa Raja Batak hanyalah Sisingamangaraja yang bermarga Sinambela bukan Silaban

    Perasaan masyarakat batak terlukai bukan karena “HANYA mengakui Sisingamangaraja sebagai raja batak” apalagi karena “Marga Silaban” tetapi karena “YANG DIANGKAT sebagai RAJA BATAK sebenarnya BUKAN BATAK”.

    Sama halnya kita analogikan mengangkat orang bule jadi raja Indonesia biarpun si bule sudah berkewarganegaraan indonesia sekalipun.. seolah-olah, sudah tak ada lagi anak negri yang patut menjadi pimpinan di area sendiri. Itu faktanya.

    Kalau masalah marga X, marga Y, atau marga Z, tak tahukah Anda bahwa setiap orang batak adalah Raja ?

  4. Trimakasih bang atas masukannya. salam,

  5. Tidak lama lagi pejabat yang merasa tinggi mempunyai jabatan tinggi alias mempunyai pertahanan badan/penangkal diri (jimat gaib nadijalo sian datu najahat, pawang najahat,namarjujungan najahat,namarguru gaib najahat sian mantra mantra), akan direndahkan, dimusnahkan dan sangat sengsara. Kekuatan dunia akan dikalahkan oleh kekuatan Tuhan.
    Sahala roh perkumpulan raja raja ompung Batak di Pusuk Buhit termasuk Pinompar parsadaan Raja Simangarata, Raja Isumbaon. Ompung Toga Laut, Raja Lontung, Raja Borbor,Raja Sisingamangaraja I) akan angkat bicara, tidak lama lagi akan memberikan pelajaran kepada orang yang mencoreng nama baiknya
    (BERTOBATLAH semua para pejabat yang mengandalkan kekuatan dunia alias jimat na mardatu, karna sahala Ompung angka rajai nungnga bersatu di Pusuk Buhit,alana daging halaki (Ompui) do namate, alai tondi nai mangolu do.
    Tuhan Debata di Surgo nungnga mangalehon izin tu angka raja rajai (sahala Ompungi) mangalehon pelajaran tu angka halak najungkat termasuk angka pejabat namamentinghon dirina sendiri.
    Manat-manat! manang ahape tujuan hamuna lao tu Pusuk buhit, diboto halaki do (nasotarberingi), angka pangisi Pusuk Buhit ima tampatni angka raja raja Batak do disi.alana halaki nungnga dilehon izin oleh Tuhan Debata Di Surgo mampature angka pinomparna,
    Naburjui ingkon Jonjong di portibion, ima pesan ni halaki.
    pesanon (hajar/poda) on ingkon dipasahat hamu,alana sian parnipion do naro hataon tu manisia namangolu. pangidoan halaki (angka ompui di pusuk buhit), angka manisia ingkon mangulahon naburjodo marsihaholongan, halaki (ompui dipusuk buhit) cukup dihargai, alai molo na disembah Tuhan Debata di Surgoi do alana Debata di Surgoi do Raja di atas segala raja, tuan diatas segala tuan), Mauliate Horas ma dihamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: