Menanyakan Kemurnian Aqidah Calon Gubernur Sumut Usungan PKS


misbahonline.wordpress.com/2008/04/18/menanyakan-kemurnian-aqidah-calon-gubernur-sumut-yang-diusung-pks/

 

18 04 2008

Berita detik.com tanggal 16 April 2008

Setelah dinyatakan unggul dalam Pilkada Sumut versi quick count, calon Gubernur Sumut Syamsul Arifin berziarah ke makam Tengku Rizal Nurdin, mantan Gubernur Sumut yang meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat Mandala pada tahun 2005. Ziarah itu dilakukan untuk menghormati Rizal Nurdin yang dianggapnya sebagai abang, guru, dan bekas pemimpinnya.”Saya sudah biasa berziarah ke sini,” kata Syamsul Arifin usai memanjatkan doa di depan makam Rizal Nurdin,

 

Demikianlah reaksi kemenangan Syamsul Arifin, calon gubernur Sumut. Berita ini harusnya mengagetkan para kader Islam dipartai yang mengusungnya, PKS. Karena ternyata aqidah dari orang yang dicalonkan akan memimpin mereka terkontaminasi dengan perbuatan yang beresiko masuk dalam katagori syirik Akbar. Atau paling tidak ikut andil dalam menyebarkan perbuatan bid’ah yang sesat.

Semoga artikel yang berhubungan dengan perbuatan Syamsul Arifin (pernah dimuat dalam Buletin Al Jihad edisi 9 / 23 Agustus 2002) dibawah ini, bisa memberikan penjelasan.

FITNAH KUBURAN MERUSAK AQIDAH UMMAT

Judul di atas bukan hanya suatu pernyataan tanpa bukti, tetapi fakta yang menunjukkan bahwa sebagian kaum muslimin, khususnya di Indonesia, masih terjerumus dalam penyembahan (pengkeramatan) terhadap wali-wali tertentu dan tempat-tempat yang dianggap dikeramatkan. Di antara mereka ada yang mendatangi kuburan wali fulan untuk mengais berkah agar usahanya berhasil, jodoh, kesaktian, atau berbagai permintaan yang lainnya.
Fitnah yang menggerogoti aqidah kaum muslimin itu disebabkan jauhnya mereka dari ajaran tauhid yang didakwahkan oleh para Rasul, dan sedikitnya jumlah dai yang menyeru kepada agama tauhid dan memberantas kesyirikan.

Sesungguhnya fitnah ini pula yang pertama kali menimpa ummat manusia di zaman Nabi Nuh ‘alaihi salam. Allah ta’ala mengkhabarkan keadaan mereka: “Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan mereka melakukan tipu daya yang amat besar.’ Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.’ Dan sesungguhnya mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia.” (Nuh: 21-24)

Al-Imam Al-Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Patung-patung yang ada pada kaum Nuh menjadi sembahan orang-orang arab setelah itu. Patung Wadd menjadi sembahan Bani Kalb di Dumah Al-Jandal; Suwa’ bagi Bani Hudzail; Yaghuts bagi Bani Murad dan juga Bani Ghuthaif di Al-Juruf di tengah Saba’; Ya’uq bagi Bani Hamdan; Nasr bagi Himyar, kemudian keluarga Dzil Kala’i. Mereka adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan pada kaumnya agar meletakkan patung-patung mereka di majlis-majlis mereka dan memberi nama (patung-patung) itu dengan nama-nama (orang-orang shalih tersebut). Mereka kemudian melakukannya. (Awalnya) tidak disembah. Akhirnya setelah mereka meninggal dan ilmu dilupakan, (patung-patung tersebut) disembah.” (Hadits Al-Bukhari no 4920, lihat Fathul Bari 8/667)

Ibnu Jarir Ath-Thabari menukil ucapan Muhammad bin Qais dalam tafsirnya: “Mereka adalah kaum yang shalih dari bani Adam yang mempunyai pengikut-pengikut. Ketika mereka wafat, pengikut mereka berkata: ‘Seandainya kita membuat gambar-gambar mereka, kita semakin asyik untuk beribadah ketika mengingat mereka.’ Kemudian mereka pun membuatnya. Ketika mereka (generasi pertama, ed.) wafat, datanglah generasi selanjutnya. Iblis mulai melancarkan tipu dayanya terhadap mereka, katanya: ‘Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menyembah mereka. Mereka meminta hujan dengan perantara tokoh-tokoh tersebut.’ Akhirnya mereka menyembah (patung orang-orang shalih itu).” (Jami’ul Bayan 12/254)

Mereka telah mengumpulkan dua fitnah yang besar, yaitu fitnah kubur dan fitnah patung-patung. Kedua fitnah inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bahwa Ummu Salamah radliyallahu ‘anha menyebut gereja yang bernama Marya yang ia lihat di negeri Habasyi (Ethiopia, ed.) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menyebutkan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah suatu kaum yang apabila seorang hamba atau laki-laki yang shalih di antara mereka wafat, mereka membangun masjid di atas kuburannya dan membuat gambarnya di dalam tempat ibadah itu. Mereka adalah sejelek-jelek makhluq di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Al-Bukhari 434 dan Muslim 53 8)

Asy-Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Oleh karena itu Allah dan rasul-Nya melarang mendirikan masjid di atas kuburan. Inilah pada umumnya yang menjerumuskan ummat-ummat terdahulu ke dalam syirik akbar (syirik besar) atau yang lebih rendah dari itu (yaitu syirik ashghor). Kesyirikan akibat mengagungkan kuburan orang-orang yang diyakini keshalihannya lebih dekat kepada hati manusia dibanding syirik akibat menyembah pohon atau batu. Oleh sebab itu, kita sering menjumpai pelaku-pelaku tersebut duduk dengan tenang dan khusyu’ di sisi kuburan, melakukan ibadah yang tidak pernah mereka lakukan di rumah-rumah Allah dan di waktu sahur (sepertiga waktu malam, ed.). Bahkan di antara mereka ada yang sujud menghadap kuburan dengan harapan memperoleh berkah dari shalat dan do’a di sisi kuburan tersebut, yang tidak pernah mereka harapkan ketika di masjid. Karena mafsadah (kerusakan) inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan sumbernya. Bahkan dengan tegas beliau melarang sholat di pekuburan sama sekali, meskipun ia tidak bermaksud mencari berkah dengan sholat di tempat itu. Jika seseorang sholat di sis kuburan dengan tujuan untuk mendapat berkah dengan sholat di tempat itu, ini sesungguhnya penentangan kepada Allah dan rasul-Nya, menyelisihi agama-Nya, dan melakukan kebid’ahan yang tidak diijinkan oleh Allah. Dan kaum muslimin telah sepakat berdasarkan yang mereka ketahui dengan pasti dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini bahwa sholat di sisi kuburan –kuburan siapapun– adalah terlarang.” (Di dalam kitabnya Iqtidho’ Shirathal Mustaqim jilid II hal 680-681, cetakan Maktabah Ar-Rasyid)

Hukum Menjadikan Kuburan sebagai Masjid

Menjadikan kuburan sebagai masjid mengandung tiga pengertian:

1. Sujud di atas kuburan.
2. Sholat dan do’a menghadap kuburan.
3. Membangun masjid di atas dan bermaksud sholat di atasnya.

Demikian keterangan para ulama yang dinukil Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Tahdzirus Sajid hal. 21-27.

Ibnul Qayyim berkata: “Penyebab kebid’ahan dan kesyirikan yang paling besar adalah sholat di sisi kuburan, menjadikannya sebagai tempat sujud dan membangun masjid di atasnya. Hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang menjadikan kuburan sebagai masjid dan sikap beliau mengenai hal ini adalah mutawatir.”

Oleh karena itu, umumnya madzhab-madzhab yang ada menyatakan dengan tegas larangan membangun masjid di atas kuburan dan sholat menghadapnya, sebagai wujud ittiba’ (mengikuti sunnah yang shahih dan sharih). Pengikut Imam Ahmad dan selain mereka dari pengikut Imam Malik dan Syafi’i menegaskan haramnya hal itu. Sebagian kelompok (dalam hal ini madzhab hanafiyyah) menyatakan hukumnya makruh secara mutlak. Tetapi sepantasnya pernyataan mereka itu dibawa kepada (pengertian) makruh yang berarti haram karena berbaik sangka kepada ulama dan agar tidak ada anggapan bahwa mereka membolehkan perbuatan yang telah mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang larangan dan laknat bagi pelakunya.

Jundub bin Abdullah Al-Bajali berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum beliau wafat: “Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah jika ada di antara kalian menjadi kekasihku, karena sesungguhnya Allah menjadikan aku sebagai kekasih sebagaimana Dia mengambil Ibrahim sebagai kekasih. Seandainya aku mengambil kekasih dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakr sebagai kekasih. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid-masjid sesungguhnya aku melarang kalian dari perbuatan tersebut.” (HR Muslim no 532).

Bahkan di akhir hayat walaupun dalam keadaan sakaratul maut, beliau masih sempat melarang menjadikan kuburan sebagai masjid dan melaknat ahlul kitab yang melakukan hal itu untuk mengingatkan ummatnya agar tidak melakukan hal yang sama. ‘Aisyah radliyallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika sakit dan tidak mampu berdiri: “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid (tempat ibadah, ed.).” Seandainya tidak karena itu, niscaya kuburan beliau ditampakkan. Tetapi (para shahabat) khawatir kalau kuburan beliau dijadikan masjid. (HR. Al-Bukhari 1330 dan Muslim 529)

Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya sejelek-jelek manusia adalah orang yang mengalami terjadinya hari qiyamat, dan orang-orang yang menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid-masjid.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban dengan sanad yang hasan).

Disebutkan bahwa Umar bin Al-Khaththab melihat Anas bin Malik sholat di sisi kuburan. Maka dia berkata: “Awas kuburan, awas kuburan!” Ini menunjukkan bahwa larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak yang terlewat, adapun perbuatan Anas radliyallahu ‘anhu tidaklah menunjukkan dia meyakini kebolehannya karena mungkin dia tidak melihatnya atau tidak mengetahui bahwa itu adalah kuburan atau dia lupa. Maka ketika Umar radliyallahu ‘anhu mengingatkannya, dia tersadar.” Dalam Shahih Al-Bukhari 1/523

Lebih keras dari larangan tadi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sholat menghadap kuburan sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Martsad, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan kalian sholat menghadap kubur dan jangan kalian duduk di atasnya.” (HR. Muslim no 972)

Dengan demikian jelaslah bagi kita perihal fitnah yang menimpa ummat ini yaitu terjatuhnya mereka kepada laknat Allah ketika mereka terseret oleh kebodohan mereka dalam amalan yang menuju kesyirikan bahkan ada yang telah menjadikan kuburan sebagai tempat praktek berbagai kesyirikan. Maka tidaklah heran kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdo’a: “Ya Allah, janganlah engkau jadikan kuburanku sebagai patung yang disembah. Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid.” (HR. Ahmad, Al-Humaidi, dan Abu Nu’aim dengan sanad yang hasan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

Dari penjelasan di atas dapatlah kita ketahui bahwa fitnah kuburan ini sangat dahsyat, oleh karena itu marilah kita memohon perlindungan kepada Allah sebagaimana Rasul-Nya memohon dari berbagai kejelekan yang menyeret kepada murka Allah dan adzab-Nya. Amin ya Rabbal Alamin. Wallahu a’lam bish

Satu Tanggapan

  1. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://agama.infogue.com/menanyakan_kemurnian_aqidah_calon_gubernur_sumut_usungan_pks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: