MENILAI POLRI DENGAN “MATA HATI” (Artikel tahun 2004)


MENILAI POLRI DENGAN “MATA HATI”

Oleh : Togar Lubis

            Kepolisian kita baru saja merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-59 pada tanggal 1 Juli 2004 lalu. Menjelang ulang tahun Polri tersebut setidaknya terjadi dua peristiwa berskala Nasional dan mungkin menjadi catatan public tentang profesionalisme dan kinerja kepolisian kita. Yaitu, kasus salah tangkap tersangka pelaku penembakan Pendeta di Sulawesi dan VCD dukungan salah satu Calon Presiden oleh Kapolwil Banjarnegara.

          Masyarakat menganggap bahwa kinerja Polri belum professional dan bersikap independent sesuai dengan paradigma barunya. Mungkin anggapan ini benar, bahkan Polri juga tidak memungkirinya. Kritikan terhadap kinerja Polri tidak pernah habis, dan hal tersebut adalah wajar dalam demokrasi. Apalagi kritikan tersebut murni bertujuan agar kinerja Polri lebih professional sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.

         Bicara tentang kritikan, penulis teringat sebuah Anekdot yang menggambarkan bagaimana sebenarnya kinerja Polri kita. Anekdot ini sebenarnya sudah umum, bahkan para instruktur di kepolisian juga sering menceritakannya kepada para siswa sekolah kepolisian dan peserta pelatihan. Namun dengan tujuan agar dapat menganalisa dan menjadikannya sebagai bahan perbandingan sehingga kita dapat memahami apa sebenarnya kendala dan dilema yang dihadapi Polri, ada baiknya anekdot tersebut kembali penulis sajikan. Anekdot tersebut sebagai berikut :

 Pada suatu hari seorang Profesor spesialis bidang kepolisian Norwegia mengundang kepolisian beberapa Negara untuk mengikuti perlombaan Strategi pengungkapan kasus dan penangkapan tersangka tindak pidana. Dari sekian banyak Negara yang diundang ternyata hanya 3 perwakilan Negara yang hadir, yaitu Amerika, Israel dan Indonesia. Kepolisian Amerika sebagai negara yang sangat terkenal dengan kemajuan teknologinya ternyata hanya mengirimkan 2 unit pasukan polisi lengkap dengan peralatan tempur dan detector. Sedangkan kepolisian Israel mengirimkan 3 unit pasukan yang juga dilengkapi dengan sejumlah peralatan tempur serba canggih.

 Kepolisian Indonesia juga tidak mau ketinggalan dengan mengirimkan 20 unit pasukan dengan peralatan ala kadar yang dimilikinya. Seluruh anggota kepolisian yang dikirim oleh masing-masing Negara adalah personil yang terbaik di negaranya, sebab perlombaan tersebut adalah perlombaan yang mempertaruhkan kredibilitas kepolisian masing-masing Negara.

 Pada hari dimulainya perlombaan, panitia mengumumkan bahwa materi perlombaan adalah strategi kecepatan dan dan ketepatan waktu polisi menangkap seekor kelinci yang dilepaskan dalam hutan. Masing-masing perwakilan Negara menganggap bahwa materi lomba sangat gampang, sebab kelinci terkenal sebagai salah satu jenis hewan yang lamban dan tidak membahayakan.

Setelah diundi, polisi Amerika mendapat kehormatan sebagai peserta utama dan ternyata hanya dalam waktu 2 minggu mereka telah berhasil menangkap kelinci yang dilepaskan tersebut dan menyerahkannya dalam keadaan sehat pada panitia. Sedangkan polisi Israel memperoleh kesempatan kedua, dengan 3 unit pasukan yang dilengkapi peralatan tempur segera mengepung dan membombardir hutan lokasi kelinci tersebut dilepaskan. Pada minggu ke-3 mereka menyerahkan kelinci yang dilepaskan dalam keadaan mati akibat tertembak kepada panitia. Lalu bagaimana polisi Indonesia ?.

20 Unit pasukan dikerahkan, sebagian mengepung dengan melakukan pagar betis dan yang lainnya dikerahkan masuk kedalam hutan untuk memburu sang kelinci. Namun ternyata, kelinci yang dicari tidak juga ditemukan. Disebabkan perlombaan ini adalah menyangkut harga diri kepolisian sebuah Negara, sedangkan jumlah pasukan yang terbanyak yang dikirim untuk mengikuti perlombaan adalah polisi Indonesia dan telah ditargetkan serta diperintahkan oleh komandan pasukan harus berhasil menangkap kelinci tersebut dalam tempo 1 hari, maka para prajurit ini sudah kebingungan.

Norwegia adalah sebuah Negara yang terkenal dengan hewan beruangnya, dan hewan tersebut banyak ditemukan berkeliaran di dalam hutan. Akhirnya timbul kesepakatan para polisi Indonesia ini untuk menangkap beruang tersebut. Beruang ditangkap, digebuki beramai-ramai dan disuruh mengaku sebagai kelinci. Tak tahan menerima gebukan dan siksaan ratusan orang tersebut, akhirnya beruang ini mengaku bahwa dia adalah kelinci dan segera dibawa untuk diserahkan kepada panitia perlombaan. Tentu panitia bingung menerima seekor beruang, sebab yang diminta adalah kelinci. Tapi alangkah terkejutnya si Profesor sebagai Ketua Panitia  perlombaan ketika tanpa ditanya si beruang mengaku dan mengatakan, “Pak Profesor, saya adalah Kelinci !”.

        Anekdot di atas adalah salah satu kritikan tajam, namun disampaikan melalui gaya bahasa penuh humor dan bertujuan untuk memotivasi Polri sebagai penyidik tunggal pidana umum agar menghindarkan kesalahan seminimal mungkin dalam menjalankan tugasnya.

       Anton Tabah, seorang perwira Polri, dalam salah satu bukunya yang berjudul “Membangun Polri Yang Kuat (Belajar dari Macan-macan Asia), menyatakan bahwa banyaknya kritikan terhadap kinerja polisi lebih disebabkan oleh rumitnya pekerjaan tersebut. Disamping itu, pekerjaan kepolisian yang langsung menangani masalah-masalah masyarakat menuntut Polri bukan hanya sebagai “Law Enforcement Officer” tetapi juga sebagai “Social Maintanance Order, Social Problem Solver dan Crime Hunter, yang harus selangkah lebih maju di depan rakyatnya. Kelemahan professional berarti sangat principil bagi sebuah lembaga (institusi) Polri.

        Bicara tentang Profesionalisme, ada batasan menarik yang disampaikan oleh pakar kepolisian Amerika Serikat, Donald C.Whitlan, yang membagi kriteria profesi sebagai   berikut :

a.  Menggunakan teori ilmu pengetahuan untuk pekerjaannya.

b.  Keahlian yang didasarkan pada pelatihan atau pendidikan jangka panjang.

c.  Pelayanan  yang terbaik bagi pelanggannya.

d.  Memiliki otonomi dan cara mengontrol perilaku anggota profesi.

e.  Mengembangkan kelompok profesinya melalui asosiasi, seperti The International Chief Of Police Association yang cukup terkenal.

f.   Memiliki kode etik sebagai pedoman melakukan profesinya.

g.  Memilih profesinya sebagai pengabdian berdasarkan panggilan jiwanya.

h.  Memiliki kebanggan terhadap profesinya, bertanggung jawab penuh atas monopoli keahlian profesi.

            Dalam bukunya tersebut Anton Tabah juga mengemukakan : “Sekecil apapun kesalahan polisi mudah dilihat, dan sebesar apapun kebaikan dan keberhasilan polisi tidak tampak”. Palsafah kerja polisi ini sudah mendunia. Sering kita dengar di Eropa dengan ungkapan “Omdan Kabaar”, artinya, kepolisian adalah pekerjaan yang tidak kenal ucapan terima kasih. Yang ada hanyalah salah dan keliru, caci maki dan gerutu. Tapi bagi Polri ungkapan itu tidak dijadikan Legitimasi. “Biarlah, memang begitu”. Tidak, Polri harus terus berusaha memperbaiki sikap dan cara bekerjanya agar semakin professional.

            Melalui bukunya tersebut Anton Tabah telah  memberikan gambaran secara transparan, gamblang, tanpa menutup-nutupi bagaimana sebenarnya kondisi dan kendala serta dilema yang dihadapi Polri. Bahkan pada halaman 69 dalam bukunya tersebut ia mengemukakan, “belum ada kebanggan seorang polisi, belum nampak kesadaran akan wewenang umum. Bahkan yang mempola adalah : “harus sesuai KUHAP, harus dengan bukti yang cukup”. Pola fikir macam ini bukan saja membelenggu. Lebih dari itu, ragu bertindak, takut bertindak, takut salah dan muaranya demoralisasi anggota Polri tampak dimana-mana.

            Kritikan atau Social Control terhadap kinerja Polri harus tetap dan terus dilakukan oleh masyarakat. Namun disamping itu, kita juga harus dapat memberikan solusi terhadap institusi ini. Jika kritikan yang ditujukan kepada Polri bersifat membangun dan bertujuan agar Polri lebih professional, mungkin terlalu “Naif” jika Polri tidak dapat menerimanya dengan dada dan berjiwa besar. Yang sering terjadi adalah, ada kesalahan komunikasi dan tata cara serta penggunaan bahasa dalam penyampaian kritik tersebut. Untuk itulah dibutuhkan suatu cara atau metode dalam penyampaian kritik sehingga tujuannya tepat sasaran namun tidak dibenci karena kritikan itu.

            Mungkin pendapat Dale Carnegie, seorang ahli Marketing Amerika Serikat dalam bukunya yang berjudul  How to Win Friends and Infinence People perlu kita terapkan. Dale Carnegie yang terkenal dengan Carnegie Institute Of technologi – nya dalam buku tersebut mengisahkan sebagai berikut :

            “Pada suatu siang Charles Schwab lewat di salah satu pabrik bajanya. Ketika itu dia memergoki beberapa pegawainya sedang merokok. Persis di atas kepala mereka terletak tanda yang mengatakan “Dilarang Merokok”. Apakah Schwab  menunjuk tanda itu dan berkata : “tidak bisakah kalian        membaca ?”. Oh, Tidak, tidak demikian cara Schwab. Dia berjalan menghampiri orang-orang itu. Menyerahkan kepada masing-masing dari mereka sebatang cerutu, lalu berkata : “Saya akan menghargai kalau kalian merokok di luar”.

            Dari kisah di atas kita dapat menarik satu kesimpulan bahwa penyampaian kritik yang dilakukan oleh Charles Schwab tersebut jelas lebih lembut dan tidak menyinggung perasaan pegawainya. Apa yang dilakukannya lebih menggugah perasaan dan “Urat Malu” sehingga sasaran yang akan dicapai lebih tepat. Untuk apa kita harus berbicara keras dan kasar jika dengan kelembutan bisa merubah sesuatu ?.

            Percayalah, semua orang akan merasa tersinggung jika menerima ucapan dan perlakuan yang menyakitkan hati. Sebab pada dasarnya semua orang ingin dipuji dan merasa dianggap penting. Disisi lain, dari kisah tersebut ada satu hikmah yang dapat kita pedomani. Yaitu, bagaimana Charles Schwab si orang Amerika yang kadang kita anggap “Bar-bar” ternyata jauh lebih santun dan beretika dari kita orang Timur ?.

Untuk  kepentingan bangsa dan Negara serta kita semua, marilah kita terus memberikan kritikan dengan tujuan memotivasi Polri agar kinerjanya jauh lebih professional sesuai dengan paradigma barunya. Disamping itu kita harus terus menanamkan rasa kebersamaan di hati masyarakat bahwa Polri adalah bagian dari rakyat, milik rakyat, berasal dari rakyat dan ada untuk kepentingan rakyat. Mari kita terus mengkritik Polri, namun dengan cara yang lebih beretika, santun dan berbudaya. Mungkin cara demikian jauh lebih efektiv dan berhasil guna. Semoga !.

Daftar Pustaka :

1.   Anton Tabah, Membangun Polri Yang Kuat (Belajar dari Macan-macan AsiaCetakan pertama, 2001.

2.   Dale  Carnegie, How to Win Friends and Infinence People, 1983.

* Penulis adalah Koordinator Kelompok Studi dan Edukasi Masyarakat Marginal 

(K-SEMAR) Sumut.

* Artikel ini telah dipublikasikan di Surat Kabar Harian REALITAS, Selasa, 3 Agustus 2004 dan Majalah News Selecta, Edisi Nopember 2004.  

 

3 Tanggapan

  1. Bang Togar pande juga mengkritik dengan “lembut”. Artikel abang bagus-bagus, buat buku aja bang, pasti laku. Selamat ya atas tampilan baru Blog-nya, tampilan yang menggambarkan abang sebagai aktivis masyarakat miskin sejati. Terus berkarya bang, saya selalu dukung.

  2. salahkah aku, jika sekarang aku agak alergi dengan yang namanya polri? entah siapapun dan apapun jabatannya… sebisa mungkin menghindari berurusan dengan yang namanya polisi… memang masalah yang paling penting di negara ini adalah kepercayaan terhadap aparatur2nya… tapi mau bagaimana lagi, beliau2 itu tidak berusaha membuat kita percaya kpd mereka….

  3. for nanajhf, tidak ada yang salah. jika anda baca tulisan-tulisan saya diatas tentang sejumlah kasus pidana umum yang kebetulan saya sebagai pelapornya, mungkin sayalah orang yang “paling tidak percaya” terhadap kinerja Polri kita. Tapi kita masih tetap berharap POLRI dapat bekerja sesuai dengan paradigma barunya sebagao polisi yang Professional dan mandiri. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: