Kisah Miris Anak Negeri :Tak Punya Ongkos Persalinan, Sertifikat Masjid Jadi Jaminan


http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=8945

02/07/2008 14:22 wib – Daerah Aktual
Tak Punya Ongkos Persalinan, Sertifikat Masjid Jadi Jaminan

Yogyakarta, CyberNews. Untuk membantu tetangganya warga Prawirodirjan, Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta, merelakan sertifikat hak atas tanah masjid di kampung tersebut untuk jaminan rumah sakit. Karena pasangan Andi (24) dan Romlah (24), warga kampung setempat tidak bisa menebus istrinya selama perawatan di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta.

Untuk bisa membawa pulang istrinya, pasangan itu terpaksa harus meninggalkan sertifikat hak atas tanah masjid yang ada di sebelah rumahnya. Padahal masjid itu adalah milik warga dan masih secara aktif digunakan untuk beribadah. Namun karena kesulitan ekonomi yang mendera pasangan muda ini, memaksa pasangan itu berbuat demikian. ”Warga mengizinkan, tapi saya sebenarnya tidak rela,” kata Andi menjawab pertanyaan wartawan di kediamannya, Rabu (2/7).

Andi menuturkan, isterinya, Romlah pada 21 April lalu melahirkan. Namun, karena bayinya kembar tiga proses kelahiran itu harus melalui operasi Caesar. Dalam operasi itu, ketiga bayi lahir selamat meski mengalami kelainan jantung.

Ketiga bayi yang dinamai Muhammad Fadli, Muhammad Fadlan dan Muhammad Fadila itu, masing-masing beratnya, delapan, sembilan dan sepuluh ons. Saat melahirkan usia kandungan baru tujuh bulan. Artinya ketiganya dilahirkan premature, sehingga memerlukan perawatan yang intensif.

Romlah, usai operasi, hanya dirawat selama empat hari. Namun, ketiga bayinya itu harus dirawat selama 24 hari di rumah sakit terbesar di Yogyakarta itu. Pasangan yang tinggal bersama keluarga besarnya dalam sebuah rumah ukuran 4X8 meter untuk 20 jiwa itu kaget, setelah muncul tagihan dari RSUP Dr Sardjito.

Sebab, biaya perawatan itu sama sekali di luar dugaannya. Biaya keseluruhan jumlahnya mencapai Rp 53 juta lebih. Kalau tidak bayinya tidak boleh dibawa pulang dan konsekuensinya, biaya akan terus membengkak.

Melihat kenyataan itu, pasangan muda tidak bisa berbuat banyak, kecuali menangis dan menangis. Atas kebaikan warga yang hidup di lingkungan padat penduduk di tepi Sungai Code itu, akhirnya pasangan itu diizinkan menggunakan sertifikat hak atas tanah Masjid Fathul Qorib sebagai jaminan.

Sertifikat itupun kemudian dibawa ke RSUP Dr Sardjito. Dan sertifikat itu disimpan di Sardjito sebagai jaminan, untuk membawa pulang ketiga bayinya. Andi yang bekerja sebagai pembantu di Pasar Beringharjo itu tidak lagi bekerja sejak kelahiran anaknya. Ia tidak tahu harus ke mana mencari uang untuk menebus sertifikat yang kini ditahan oleh rumah sakit.

Upaya untuk memperoleh bantuan juga sudah dilakukan. Romlah mengaku sudah menemui Walikota Yogyakarta. Namun hanya mendapat sedikit bantuan. ”Ya terima kasih tetapi masih kurang,” katanya.

Pasangan dari keluarga miskin ini tidak mendapatkan BLT, Askeskin dan jaminan bagi keluarga miskin lainnya. Upaya memperoleh bantuan dari Pemkot Yogyakarta, membuahkan surat keterangan dari Dinas Kesehatan. Isinya, melalui Dinas Kesehatan, mendapat jaminan sebesar Rp 29 juta, sedang kekurangannya ditanggung keluarga. ”Tetap saja berat bagi kami,” katanya. ”Terus saya harus kemana lagi minta bantuan,” tambahnya.

(Sugiarto /CN05)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: