Selamat Jalan Ibuku Tercinta Sang Bayi Proklamasi


Selamat Jalan Ibuku Tercinta Sang Bayi Proklamasi

Oleh : Togar Lubis

HUT kemerdekaan RI tahun ini mungkin akan menjadi hari yang paling menyedihkan bagiku. Bukan saja hanya dikarenakan setelah 63 tahun Indonesia merdeka ternyata rakyat Indonesia masih banyak yang miskin, namun tanggal tersebut adalah tanggal kelahiran Ibuku tercinta. Ya, Ibuku Hj. Nurhamidah Nst yang telah melahirkan dan membesarkanku tersebut lahir tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 atau bertepatan dengan diproklamirkannya kemerdekaan negeri ini.

Kenapa harus bersedih, bukankah seharusnya bergembira ? Bagaimana tidak bersedih, “Bundaku” tersebut telah dipanggil Sang Khalik pada tanggal 13 Mei 2008 lalu. Sialnya, saat ibu meninggal dunia aku sedang tidak berada di rumah. Saat itu aku sedang berada di Jakarta memperjuangkan agar hukum benar-benar ditegakkan oleh para penegak hukum di negeri ini.

Aku terkenang masa-masa silam. Ibuku adalah sosok yang kuanggap merupakan perempuan terbaik di dunia. Sebab sepengetahuanku, ibuku ini tidak pernah memarahi anak-anaknya dengan perkataan yang keras apalagi sampai kasar. Aku juga menilai bahwa Ibuku juga termasuk seorang istri yang terbaik didunia. Bahkan saat-sat aku bertengkar dengan istriku aku selalu berkata : “Jika kau mau cari contoh istri yang baik, contohlah ibuku, andaikan kau bisa bersikap 25% dari sifat beliau saja aku sudah bahagia”.

Sebab sebagai istri dari ayahku, ibuku begitu hormat, setia dan tidak pernah membantah apapun ucapan ayahku. Padahal ayahku termasuk seorang ayah yang kuanggap tidak begitu baik. Berprilaku kasar, keras kepala walau taat beragama. Maklum, menurut ibuku, ayah adalah anak kandung mantan Komandan Pemberontak PRRI Permesta di Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

Biasanya, saat ibu masih hidup setiap tanggal 17 Agustus kami pada kumpul di rumah ibu. Kemudian kami akan membawa Ibu menonton pawai drum band di kota Tanjung Pura, Langkat, dan hanya itulah kado yang sangat teristimewa yang kami berikan kepada Ibu.

Namun ada satu hal yang sangat kusyukuri, yakni proses meninggalnya ibu begitu cepat. Menurut adikku, ibuku meninggal setelah sholat magrib. Kemudian sebagai baktinya pada sang suami (Ayahku) yang sudah 5 bulan sakit dan tidak dapat duduk dan berdiri, ibuku mengganti pakaian ayah. Setelah selesai mengganti pakaian ayah, ibukupun langsung meninggal di samping ayah. Tidak ada kesan dia hendak pergi selama-lamanya, apalagi pesan untuk ditinggalkan pada keluarga. Waktu itu sekitar pukul 17.15 Wib.

Sekitar pukul 17.45 Wib, istriku menelpon sambil menangis. “Yah, Opung udah tidak ada” katanya diseberang sana dan langsung menutup telepon. Saat itu aku langsung berasumsi bahwa yang meninggal dunia adalah ayahku. Aku tidak begitu terkejut, sebab 4 bulan sebelumnya saat aku hendak meninggkan Kabupaten Langkat aku telah menyampaikan permohonan maaf pada ayah. Saat itu ayah juga berkata “ Gar, andaikan ayah tidak berumur panjang maka maafin kesalahan ayah selama ini”. Mendengar kalimat ayah tersebut aku menangis, kupeluk dia dan berkata : “Ayah tidak perlu minta maaf sama aku, sebagai anak aku yang harus banyak minta maaf pada ayah”. Kemudian aku mengirim SMS memberitahukan kabar duka ini sedikitnya kepada 60 orang keluraga dan teman-temanku.

Namun sekitar pukul 21.30 Wib, aku menerima SMS dari teman yang isinya menyatakan bahwa yang meninggal dunia bukan ayahku melainkan ibuku. Mendengar itu aku shock, termenung dan tidak membalas SMS tersebut. Kubuka Laptop, kulihat photo ibu beserta aku dan anakku, kemudian menangis sejadi-jadinya di kama hotel.

Sekitar pukul 22.00 Wib aku telepon Mayjend (Pur) Tri Tamtomo, kusampaikan kabar ini dan tidak lama kemudian beliau datang ke kamar hotel. Begitu bertemu Pak Tri langsung memeluk dan mengucapkan kata-kata agar aku tabah dan tidak surut menyuarkan suara rakyat.

Atas bantuan Pak Tri inilah akhirnya aku bisa pulang dengan pesawat pertama dari Jakarta. Sesampainya dirumah sekitar pukul 11.00 Wib, jenasah ibuku sudah hendak dimandikan dan aku beserta abang dan adikku segera mengangkatnya ke kamar mandi. Setelah dikhafani dan disholatkan kemudian jenazah ibu dibawa ke kuburan yang dekat dengan rumahku. Aku juga yang menerima jenazah ibu di liang lahat.

Ada satu hal yang sampai saat ini masih terpikir olehku. Jenazah ibu walau sudah 15 jam meninggal tidak kaku seperti biasanya jenazah lainnya yang pernah kuketahui. Tubuhnya lentur, wajahnya tenang bagaikan orang lagi tidur. Namum ada satu hal juga yang sangat kusesali, saat hidupnya aku tidak sempat bersimpuh dikakinya untuk memohon maaf atas segala kesalahanku selama ini padanya.

“Selamat jalan Ibunda, Selamat Jalan Sang Bayi Proklamasi. Semoga di Akhirat nanti kita bertemu lagi”.

Satu Tanggapan

  1. AMin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: