“Saya Lebih Dulu Makan Garam”, Bentuk Egoisme Orang Tua


“Saya Lebih Dulu Makan Garam”, Bentuk Egoisme Orang Tua

Oleh : Togar Lubis

Mungkin kita semua sudah pernah atau sering mendengar perkataan tersebut. Kalimat itu adalah kalimat yang biasanya terlontar ketika seseorang yang lebih tua kalah dalam sebuah perdebatan dengan lawan yang lebih muda. Kalimat ini adalah kalimat yang menunjukkan ke-egoan seseorang atau tidak mau mengakui bahwa perkataan atau argumentasi seseorang yang jauh lebih muda darinya lebih benar dari pendapatnya.

Hal seperti ini juga pernah, bahkan sering saya alami. Bukan hanya dari orang lain tapi termasuk dari orang tua saya sendiri. Sekitar 2 tahun lalu disaat menjelang lebaran Idul Fitri, saya beserta abang, kakak dan adik berkumpul di rumah orang tua kami. Ada persoalan yang kami rasa harus kami musyawarahkan agar mendapatkan solusi yang terbaik. Seluruh abang adik berargumentasi, memberikan solusi. Namun apa jawaban sang ayah ? “Apa yang kalian katakan itu memang benar, kalian sudah pintar-pintar sebab semuanya sudah sarjana. Tapi itulah keputusanku dan kalian harus ingat bahwa aku lebih dulu makan garam dari kalian” katanya.

Kalimat-kalimat seperti itu sudah sejak lama saya dengar, bahkan ketika saya masih duduk di bangku SMA. Berontak ? Tidak. Yang mengucapkan kalimat tersebut adalah orang tua saya yang harus saya hormati.

Kalimat senada juga pernah saya dengar dari salah seorang pimpinan partai politik besar di Sumatera Utara. Saat itu ketika rapat pengurus parpol untuk menghadapi Pilkada, sejumlah pengurus memberikan saran dan mengeluarkan sejumlah argumen. Namun setelah semuanya selesai berbicara, si pimpinan hanya berkata : “apapun yang kalian katakan terserah, namun kalian harus ingat bahwa saya ketua disini”.

Disebabkan seringnya mendengar perkataan yang seperti itu baik dari orang tua saya sendiri maupun “orang tua – orang tua” lainnya, maka sejak dulu saya sudah berjanji pada diri sendiri agar jika suatu saat ketika saya telah menjadi orang tua tidak menjadi orang tua yang ego. Saya akan akui bahwa pendapat orang lain itu adalah benar jika memang logis dan benar walaupun itu keluar dari mulut seorang anak yang masih duduk di sekolah dasar. Mudah-mudahan saya tetap bisa selalu menjaga dan memenuhi janji saya. Bagaimana dengan anda ? Salam.

3 Tanggapan

  1. Semoga tensi dan darah tinggi orangtua kita tidak naik ketika menyatakan itu, karena kebanyakan garam itu, hmm..hehehe. Memang orangtua suka melihat kebelakang, orang yang masih muda suka melihat kedepan. Tampaknya hal ini alami, hehehe…Mari kita hormati mereka, selalu…kita hormat, tapi tetap kita lihat kedepan, iya kan pak?! Mungkin mereka hanya berbagi pengalaman saat mereka seperti kita, cuma situasi dan kondisi sebenarnya sudah berbeda. Lebih baik kita dengerin saja dan mereka bahagia dan senang. Ternyata sayapun demikian, tanda-tanda ketuaan sudah muncul…hehehe..

  2. Benar, Amanguda. Namun saya berharap yang masih muda termasuk saya agar tidak mempertahankan egoisme yang tidak beralasan jika nanti sudah menjadi tua.

  3. saya setuju dengan pendapat tuan2. akan tetapi konsep lebih dulu mkan garam ada benarnya… kita akan memahami konsep ini sekiranya sesuatu perkara yang bersifat adat atau budaya dan pantang larang sesuatu perkara lebih diketahui oleh orang yang lebih tua… hehehehe,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: