MUNDUR DARI JABATAN, SALAHKAH ?


MUNDUR DARI JABATAN, SALAHKAH ?

Mundur dari suatu jabatan mungkin merupakan sebuah hal langka di negeri ini, apalagi jabatan tersebut adalah jabatan fungsional yang biasanya banyak diperebutkan orang. Padahal sebenarnya sikap tersebut merupakan sebuah sikap terpuji, ksatria bahkan terhormat jika dilakukan dengan alasan sudah tidak mampu untuk mengemban tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Namun anehnya, dinegeri kita ini hal tersebut benar-benar sebuah hal yang langka. Di televisi kita sering menyaksikan tayangan bagaimana seorang pejabat yang sudah dinilai “gagal” orang rakyatnya malah berusaha dengan segala cara untuk tetap mempertahankan jabatan walau terus menerus menuai kritikan termasuk aksi unjuk rasa. Besarnya keinginan untuk tetap mempertahankan jabatan tersebut mungkin disebabkan jabatan tersebut begitu sulit untuk mendapatkannya atau mungkin sebuah jabatan yang “basah” hingga merupakan “ladang” bagi sebahagian orang yang lebih beroriantasi pada materi. Namun bagaimanapun juga jabatan tetaplah jabatan, tidak menjadi patokan apakah jabatan presiden atau hanya kepala desa, Menteri negara atau hanya Ketua Rukun warga.

Ada sebuah pengalaman menarik yang barusan dialami penulis tentang kata mundur ini. Disebabkan oleh suatu hal dirasakan yang sangat prinsipil, penulis memutuskan untuk mundur dari jabatan sebagai Ketua Tim Kampanye salah satu Calon Bupati Langkat yang berasal dari perseorangan. Namun yang diperoleh akibat keputusan tersebut hanyalah “fitnah dan caci maki” bahkan dicap sebagai penghianat walau mungkin mereka tidak mengetahui apa definisi dan kriteria seseorang hingga layak disebut sebagai penghianat. Padahal keputusan mundur dari suatu jabatan merupakan hak setiap orang yang juga harus dihormati. Bukankah jauh lebih baik menyatakan mengundurkan diri daripada tetap bertahan walau sebenarnya tidak sesuai dengan kata hati ?

Namun inilah realita, ternyata tidak semua orang dapat menerima dan dapat menghormatinya. Hal ini juga membuktikan bahwa penilaian terhadap mundurnya seseorang dari jabatan belum tentu baik menurut pandangan dan penilaian bagi semua orang . (Togar Lubis)

2 Tanggapan

  1. kayaknya tergantung sama orangnya pak
    sekalian mau ngasih tau untuk memasang logo baru bloggersumut
    bisa di comot di sini
    bloggersumut.net
    dipasang ya

  2. Di Jepang, dan negeri maju lainnya, mundur dari jabatan justru memberikan kesempatan kepada penggantinya untuk memperbaiki semua akibat kesalahannya demi kepentingan negara, bangsa atau masyarakat secara langsung. Sementara itu, yang bersangkutan mempertanggung jawabkan kesalahannya di muka pengadilan atau hukum. Pelatih sepakbola juga, mundur sudah hal biasa, di sana. Tampaknya mundur karena kegagalan, sudah termasuk dalam etika jabatan mereka.
    Di negeri tercinta, suatu kegagalan akan melahirkan berbagai alasan, termasuk menyalahkan orang lain bahkan temannya, …hehehe…etika kita kaleee….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: