Hutan KSDA dan TNGL Langkat Segera Punah


HUTAN KSDA DAN TNGL DI LANGKAT AKAN SEGERA PUNAH

Masih Pantaskah Langkat Disebut Berseri ?

Oleh : Togar lubis

Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Langkat Timur Laut yang berdasarkan SK. Menteri Pertanian No.811/Kpts/Um/II/1980 tanggal 5 Nopember 1980 seluas 16 ribu Ha dan terletak di Kecamatan Tanjung Pura dan Secanggang kembali dirambah oleh para pengusaha untuk dijadikan areal perkebunan kelapa sawit. Puluhan alat berat (Escavator) kembali beraksi meluluhlantakkan hutan lindung tersebut tanpa mendapat tindakan baik dari BKSDA Sumut maupun aparat kepolisian.

Pada awal tahun 2005 lalu Polres Langkat beserta jajarannya begitu gencar menindak para perusak hutan KSDA ini. Beberapa orang pengusaha termasuk sejumlah warga Desa Tanjung Ibus Kecamatan Secanggang yang menebang kayu diareal tersebut walau hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan anak istrinya ditangkap dan ditahan serta diajukan pengadilan. Pihak BKSDA hadir dalam persidangan selaku saksi ahli dan memberi keterangan di hadapan Majelis Hakim bahwa lokasi tempat warga menebang kayu adalah hutan KSDA. Namun anehnya setelah beberapa orang warga tersebut menjalani hukuman di LP Tanjung Pura, pihak BKSDA Sumut kembali mengeluarkan surat keterangan bahwa lahan tersebut bukan termasuk areal KSDA.

Warga miskin tersebut akhirnya jadi “kambing hitam” atas kerusakan KSDA Langkat Timur laut, sedangkan para pengusaha yang pernah ditangkap dan ditahan oleh Polres Langkat sudah bebas menghirup udara segar dan kembali melakukan pengrusakan hutan KSDA. Para pengusaha ini ada yang bebas karena putusan pengadililan dan ada juga yang penahanannya ditangguhkan. Bahkan salah seorang pengusaha tersebut pada bulan September lalu mengajukan gugatan Praperadilan terhadap Polres Langkat.

Kenyataan ini menimbulkan asumsi bagi masyarakat bahwa para penegak hukum di Langkat tidak konsisten dalam penegakan hukum, bahkan dalam menerapkan peraturan terkesan tebang pilih. Dilain sisi ultimatum yang pernah diucapkan mantan Kapolres Langkat AKBP. Drs. Anang Syarif Hidayat beberapa bulan lalu agar semua pihak yang melakukan kegiatan di atas lahan KSDA segera meninggalkan kawasan tersebut ternyata hanya berlaku bagi masyarakat kecil, sedangkan bagi para pengusah ultimatum ini dianggap hanya “Gertak Sambal”. Terbukti, para pengusaha perambah hutan KSDA ini terus melakukan aksinya.

Keberanian para pengusaha ini bukan tanpa alasan, sebab mereka memiliki sertifikat tanah di atas lahan KSDA. Sertifikat tersebut ada yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Langkat maupun berupa Akte tanah yang dikeluarkan oleh mantan Camat Kecamatan Tanjung Pura Drs. Astaman. Mungkin atas keberanian Drs. Astaman menerbitkan akte tanah di atas lahan KSDA tersebutlah maka akhirnya Bupati Langkat H. Syamsul Arifin,SE menaikkan jabatannya menjadi Kabag. Tata Pemerintahan (Tapem).

Dari berbagai sumber yang berhasil dihimpun wartawan, pada saat Kecamatan Tanjung Pura dipimpin oleh Drs. Astaman inilah eksploitasi hutan KSDA LTL I dilakukan secara membabi buta oleh para pengusaha. Dalam menjalankan aksinya Drs. Astaman tidak sendirian, dia dibantu oleh Kades P. Cengal Jami’an dan seorang warga bernama Hermansyah alias Susah. Hermansyah bertugas melobi para pengusaha yang ingin membeli tanah dan Kades Jami’an menerbitkan Surat Keterangan tanah. Selanjutnya agar para pengusaha memiliki dasar hukum yang kuat untuk merambah hutan KSDA, Drs. Astaman menerbitkan Akte tanah untuk dan tasa nama para pengusaha.

Para Praktisi hukum dan kalangan Aktivis LSM di Langkat meyakini bahwa sampai kapanpun para pengusaha yang merambah hutan suaka ini tidak akan dapat ditindak sebelum sertifikat dan Akte

yang diterbitkan oleh BPN Langkat dan mantan Camat Tanjung Pura Drs. Astaman ini dibatalkan melalui putusan pengadilan. Sebab jika mengacu kepada hukum yang kita anut maka para pengusaha tersebut adalah pembeli beritikad baik yang wajib dilindungi undang-undang. Kenyataan inilah juga yang mungkin membuat Polres Langkat “gamang” dalam memproses para pengusaha perambah hutan KSDA, sebab memproses para pengusaha tidak segampang memproses para warga penebang kayu. Apalagi para warga miskin ini jelas tidak memiliki sertifikat tanah dan jika diperiksa dipastikan tidak akan bisa menyediakan membayar pengacara. Hal ini berarti hutan KSDA Langkat yang berdasarkan SK. Menteri Pertanian adalah seluas 16 ribu Hektar dalam waktu dekat dipastikan akan musnah dan akan menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat yang berdomisili di sekitar kawasan hutan tersebut khususnya bagi warga yang berprofesi sebagai nelayan tradisional.

Selain hancurnya hutan KSDA Langkat, hal yang sama juga terjadi pada kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Berdasarkan Laporan Yayasan Leuser Internasional (YLI) bahwa perambahan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) masih berlangsung. Menurut Nizar Tarigan selaku Rehabilitation Officer pada YLI, periode Maret-Juni 2006 ini ditemukan 347 kasus Illegal Logging di KEL dan anehnya kasus yang telah dilaporkan YLI tersebut belum satupun yang ditangani pihak yang berwajib. Dalam laporan YLI ini juga disebutkan bahwa pada tahun 2006 ini ditemukan 51 titik atau seluas 1300 Ha perambahan baru yang terjadi di Langkat.

Dari uraian di atas timbul pertanyaan di benak kita, mengapa Pemkab. Langkat melalui Biro hukumnya yang setiap tahun menghabiskan anggaran APBD lebih Rp. 1 milyar tidak mengajukan pembatalan sertifikat dan Akte tanah ini ke pengadilan ?. Dan mengapa Bupati Langkat H. Syamsul Arifin,SE bukannya memberikan sanksi terhadap mantan Camat Tanjung Pura Drs. Astaman ?. Mengapa pula Polri khususnya Polres Langkat sebagai penyidik tunggal tindak pidana umum tidak memproses mantan Kades Pematang Cengal Jami’an ?. Jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut mungkin tidak akan pernah terjawab. Yang jelas jika hal ini terus berlanjut dan tidak segera diantisipasi, maka dapat dipastikan hutan KSDA dan TNGL yang dulunya berseri di Langkat akan punah. Lalu masih pantaskah Langkat disebut BERSERI ?

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: