Tragis, Derita Bocah Miskin “Dipenjarakan”, “Tolong Saya Om….”


Darwis, Langkat

“Hukum memang tidak punya hati. Tapi seharusnya orang yang menegakkan hukum itu sendiri yang sedikit memberikan hatinya untuk memberikan pertimbangan apakah seseorang itu pantas dan layak menjalani hukuman atas perbuatan yang ia lakukan”.

Kalau seorang pejabat yang diberi gaji oleh Negara serta diberi berbagai fasilitas masih juga melakukan kejahatan seperti mengkorupsi uang rakyat atau melakukan mark up dilingkungan kerjanya yang merugikan banyak rakyat, sepertinya pantas diberi ganjaran hukuman yang setimpal.

Tapi kalau seorang anak kecil yang karena kenakalannya harus menjalani hukuman didalam penjara hanya gara-gara masalah kecil yang seharusnya dapat diberikan pembinaan tanpa harus dimasukan kedalam hotel prodeo bergabung dengan para penjahat dewasa lainya, sepertinya sangat keterlaluan. Namun, kenyataan inilah yang dialami Su (13) pelajar kelas VI Sekolah dasar (SD) Pujidadi, Kecamatan Batang Serangan, Langkat.

Su (13) saat di Sel PN Langkat Stabat didampingi Ibunya

Atas perbuatan yang tidak sengaja ia lakukan, Su kini mendekam didalam rumah tahanan (Rutan) tanjung Pura bersama ratusan narapidana lainya. Pelajar yang bakal putus sekolah ini ketika diwawancarai Suara Pro Kontra dari balik jeruji besi sel PN (Pengadilan Negeri) Langkat di Stabat, Selasa (28/10) sebelum disidangkan mengaku kalau dirinya tidak tau menahu perihal ditangkapnya dirinya.

Cerita Su, saat itu tanggal (9/9) dirinya keluar rumah untuk mengembala lembu orang tuanya. Sambil menggiring hewan ternak peliharanya tadi, Su berjalan menuju kawasan perkebunan karet Batang Serangan. Setibanya dikawasan perkebunan ini, Su melepaskan ternaknya sambil duduk dibawah pohon karet mengamati gerak gerik ternaknya. Selang beberapa jam ditempat itu, tiba-tiba bocah malang ini didatangi petugas keaman perkebunan.

Tanpa basa-basi lagi, Su ditangkap dan langsung diboyong ke Posko Security perkebunan bersama satu setengah kilo getah (karet) milik perkebunan yang disangkakan telah dicuri Su. Meski telah menjelaskan kalau dirinya tidak melakukan pencurian ketika itu, namun petugas perkebunan tidak mau mengerti dan tetap memboyong Su ke Polsek Padang Tualang guna menjalani proses hukum selanjutnya.

“ Aku waktu itu sedang duduk-duduk dibawah pohon karet sambil menjaga lembu, tapi tiba-tiba datang Security kebun menangkap ku dari belakang dan langsung membawaku ke Pos Security, “ cerita Su dengan raut wajah yang cemas. Sejak saat itu Su terus mendekam didalam sel Polsek Padang Tualang sebelum ahirnya dikirimkan ke Rumah tahanan Negara di tanjung Pura.

“ Kalau bisa tolong saya Om , saya mau keluar dari sini, saya mau sekolah, “ timpal Su sambil menatap tajam kewajah wartawan Suara Pro Kontra. Menurut Su lagi, orang tuanya tidak dapat datang membesuknya karena keterbatasan ekonomi. “ Bapak saya kerjanya mocok-mocok, sedangkan mamak ngak ada kerjanya, makanya mereka ngak bisa datang kemari mungkin ngak punya ongkos om,” tambah 8 dari sembilan bersaudara ini.

Su yang duduk tersepit diantara kerumunan terdakwa lainya ini, hanya mampu menatap hampa keluar sel. “ Kasian kalilah anak ini, kok tega kalilah orang yang menangkapnya, gimanalah jadinya masa depan dia ini nanti ya, “ ngudemel seorang ibu berbicara dengan pengunjung sidang lainya.

7 Tanggapan

  1. semoga hakim berlaku bijak dan mempertimbangkan nuraninya. agar tak makin panjang daftar keanehan hukum di negeri ini

  2. Hati nurani, hati nurani. kejadian ini, sungguh tidak masuk diakal manusia.

  3. perlakuan berbeda sebenarnya utk tahanan anak2, bukannya di Indonesia sudah begitu?
    tapi tetap saja sih kejahatan ada konsekuensinya…
    harapan saya seperti arif, semoga hakimnya bijak

  4. Melihat gambarnya aja, membuat hati miris,,
    entah perasaan orang tuanya di rumah,,,
    Ibu yang melahirkannya, Bapak yang begitu susah membiayainya. Dia ingin sekolah bukan???
    Ya Alloh, jikapun anak ini bersalah, tolong beri sedikit kelonggaran untuknya memperbaiki diri,, dia masih anak-anak,,
    hidupnya pun sudah susah…

  5. “Hukum adalah hanya sebuah alat untuk mencapai keadilan,bila otak dan hati nurani masih bisa digunakan,gunakanlah…tak usahlah dulu diperkarakan secara hukum …kelewatan kali la sekuriti ini,macam tak punya anak saza kao,apa kata dunia,ayo kak seto mana suaramu,masih di semarang apa…”

  6. otak para2 penguasa di negara indonesia tercinta perlu di cuci sama kotorannya sendiri

  7. semoga indonesia ini merdeka dengan sesungguhnya
    bukan merdeka dari hurufnya saja
    anak kecil harus diberi bimbingan n teguran terlabih dahulu baru bisa diperkarakan jika terulang kali,tapi hukum harus fair
    coruptor saja bebas melanglang buana kemana mana dengan menggunakan uang rakyat yg multy milyar.lha ini kok seperti ini.sungguh kasihan anak kecil ini. hukum indonesia memang bisa dibeli dengan uang. sungguh tak berhati perut yg memperkarakan ini,nggak punya otak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: