Rilis Masalah Anak Indonesia (Pertengahan Tahun 2008)


http://www.komnaspa.or.id/berita.asp?p=147
Jakarta, 18/07/08; Tahun 2008 telah memasuki pertengahan tahun, namun sepanjang tahun itu, tantangan dan penderitaan yang dialami anak-anak masih belum berakhir. Kekerasan terhadap anak, baik kekerasan fisik, psikis, dan seksual, masih menjadi fakta – yang nyata dan tidak tersembunyikan lagi. Karenanya, tidak tepat jika kekerasan terhadap anak dianggap urusan domestik, atau masalah internal keluarga – yang tidak boleh diintervensi oleh masyarakat, Pemerintrah, dan penegak hukum.

Kekerasan terhadap anak (fisik, psikis, seksual), selain tidak tersembunyikan lagi, juga membawa dampak yang permanen dan berjangka panjang. Karena itu, penanggulangannya perlu disegerakan, sekarang! Selain argumentasi itu, secara yuridis formal perintah melindungi anak-anak dari kekerasan sudah diamanatkan UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Bahkan, Pasal 28B ayat 2 UUD 1945, secara eksplisit menjamin perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

De facto, kenyataan yang penuh derita dialami anak-anak korban kekerasan, menjadi salah satu alasan penting mengapa perlu menghentikan kekerasan terhadap anak, sekarang! Fakta yang terjadi adalah semakin tahun semakin banyak kasus-kasus pelanggaran hak anak yang terjadi di Indonesia, hal ini bisa dicermati pada fakta dan data pelanggaran hak anak di Indonesia baik yang terpantau oleh PUSDATIN Komisi Nasional Perlindungan Anak maupun yang dilaporkan kepada Hotline Service Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat telah terjadi berbagai macam dan ragamnya pelangaran terhadap hak anak yang semakin tindak terkendali dan mengkhawatirkan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Padahal berdasarkan Ratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak, Indonesia sebagai negara pihak (state Party), berkewajiban bahkan terikat secara yuridis dan politis untuk melakukan langkah-langkah strategis guna menghormati (to respect), melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfill) hak-hak anak tanpa diskriminasi di seluruh wilayah hukum Republik Indonesia.

Atas dasar itu, itulah Komisi Nasional Perlindungan Anak merekomendasikan antara lain:

1. Mendorong Pemerintah untuk mencanangkan Gerakan Nasional Hentikan Kekerasan Terhadap Anak;
2. Mendesak pemerintah untuk melarang segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor Rokok;
3. Mendesak kepada penegak hukum untuk lebih sensitive hak anak yang sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hak Anak, UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dalam penanganan kasus-kasus pelanggaran hak anak;
4. Mendesak Pemerintah untuk memberikan layanan rehabilitasi yang komprehensif baik mental maupun fisik bagi anak-anak korban kekerasan hak anak dan tanpa dipungut biaya;
5. Mendesak Pemerintah untuk memberikan Jaminan Sosial Kesehatan bagi anak-anak dari keluarga miskin tanpa melalui birokrasi yang rumit dan mengeluarkan kebijakan publik yang menjauhkan pangsa pasar industri rokok pada anak-anak;
6. Agar Negara mengalokasikan anggaran 20% dari APBN untuk pendidikan sebagaimana amanat UUD 1945 dan menciptakan sistem pendidikan yang tidak deskriminatif bagi anak, khususnya anak-anak dari keluarga miskin;
7. Mendesak kepada negara untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro pada hak anak terutama memberikan perhatian yang serius dalam penghapusan perdagangan anak, eksploitasi seksual komersial anak, dan bentuk-bentuk pekerjaan yang berbahaya bagi anak, serta anak-anak korban napza dan psikotropika;
8. Menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, agar lebih pro aktif dalam melaporkan terjadinya pelanggaran hak anak dilingkungan sekitarnya kepada pihak yang berwajib;
9. Perlunya negara membentuk Kementerian Negara Perlindungan Anak, mengingat begitu dashyat dan kompleknya persoalan pelanggaran hak anak yang terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun serta sebagaimana dideklarasikan dalam Suara Anak Indonesia pada Kongres Anak Indonesia I sampai VI;
10. Menghimbau kepada media massa untuk menghapus pemberitaan dan/atau tayangan yang bersifat pornografi, mistik, dan kekerasan secara vulgar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: