Kisah Janda Miskin Korban “Perkosaan”, Nurlela Ngadu, Nurlela Jadi Tersangka


Tanjung Pura

Nasib Nurlela yang satu ini mungkin tidak sebaik yang dialami Nurlela TKI asal Kecamatan Gebang Kabupaten Langkat. Walau sempat diancam hukuman gantung di negeri jiran Malasyia, kisah Nurlela yang sudah sulit berbahasa Indonesia tersebut akhirnya “Happy Ending” apalagi Pemkab.Langkat mengangkatnya menjadi Duta Kartini.

Nasib yang menimpa Nurlela alias Keling (35), warga kecamatan Tanjung Pura ini ternyata lebih memilukan. Suaminya M.Admi, meninggal dunia akibat penyakit komplikasi yang telah lama dideritanya. M. Admi meninggal dunia tanpa meninggalkan harta, kecuali sebuah gubuk reot yang terletak di pinggiran Rel Kereta Api di Dusun V Kenanga, Desa Paya Palas, Kec.Tanjung Pura, Langkat. Nurlela juga bingung, bagaimana caranya menghidupi 3 orang anaknya Putri Nurazmi (14), Mutia Kumala (8) dan Topan Klana (4).

Nurlela Als Leling (38), didampingi ayah dan anaknya saat menjelaskan kronologis kasus tragis yang menimpanya pada Koordinator K-SEMAR Sumut Togar Lubis

Nurlela Als Keling (38), didampingi ayah dan Ibunya serta anaknya saat menjelaskan kronologis kasus tragis yang menimpanya pada Koordinator K-SEMAR Sumut Togar Lubis. janda Miskin yang tinggal di gubuk pinggiran rel kereta ini menjadi korban percobaan perkosaan seorang pengusaha tua, namun ketika kasus tersebut dilaporkan kepada Polisi malah ditetapkan sebagai tersangka

Nurlela menganggap kematian suaminya adalah takdir dari yang maha kuasa dan hal ini juga merupakan sebuah cobaan. Tapi ternyata, baru 2 minggu setelah kematian suaminya, cobaan lain datang menimpa. Sekitar jam 3 pagi, Nurlela alias Keling (35), Waga Dusun V Kenanga Desa Paya Palas, Kec. Tg.Pura, bersama 3 orang anaknya yang sedang tidur pulas harus terbangun akibat seseorang laki-laki dengan pakaian dan kopiah putih masuk ke dalam kelambu secara tiba-tiba dan lansung menerkamnya. Keterkejutan Nurlela semakin bertambah setelah diketahuinya laki-laki tersebut ternyata adalah H.Kamaluddin alias Wak Uden Cabai (55) tetangga depan rumah mereka. Nurlela faham betul, bahwa laki-laki itu adalah Wak Uden, sebab sehari-harinya Nurlela mengambil upahan mencuci pakaian keluarga Wak Uden.

Saat Nurlela bengong, Wak Uden langsung menciumi wajah dan sekujur tubuh Nurlela. Merasa dirinya akan diperkosa, Nurlela menjerit, dan jeritan tersebut ternyata membangunkan ketiga anaknya yang tidur bersamanya. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Wak Uden langsung kabur dan menghilang di kegelapan malam. Setelah merasa aman, Nurlela ditemani ketiga anaknya memberanikan diri memeriksa pintu rumah dan ternyata pintu rumahnya telah rusak akibat dibuka secara paksa oleh Wak Uden dengan mempergunakan sebilah parang dan Tang.

Pagi harinya kejadian percobaan pemerkosaan tersebut diceritakan Nurlela kepada para tetangga. Hal ini membuat salah seorang putra Wak Uden bernama Azhari alias Ai (35) marah. Sore harinya Ai datang sambil memegang sebilah parang dan mengancam Nurlela agar jangan terus bercerita kepada tetangga perihal percobaan pemerkosaan yang dilakukan orang tuanya. Satu hari kemudian, putra Wak Uden yang lain, Ilham (32) juga kembali mengancam Nurlela dengan mengatakan akan menembak dan membakar rumah Nurlela. Bukan itu saja, berselang 2 hari kemudian, Hj. Upik, istri Wak Uden juga mendatangi Nurlela. Tanpa membuka selopnya, Hj. Upik (56) lansung naik dan masuk ke rumah Nurlela dan mengatakan bahwa Nurlela manusia yang tidak tidak tau berterima kasih. “Anakmu sering kukasi makan tapi kau bilang sama orang-orang (warga) bahwa lakiku mau memperkosa kau” kata Hj. Upik saat itu. Bahkan Hj. Upik beberapa hari kemudian sempat melempar Nurlela dengan batu dan mengenai kakinya.

Menerima perlakuan, ancaman dan penghinaan yang dilakukan Wak Uden dan keluarganya ini, Nurlela beserta 3 orang anaknya hanya bisa menangis, dia tidak punya keberanian untuk melaporkan Wak Uden dan keluarganya ke polisi, sebab Wak Uden adalah seorang Kontraktor besar yang setiap tahunnya mendapat jatah proyek milyaran rupiah dan cukup terkenal di Kabupaten Langkat. Lagipula siapa yang akan percaya, bahwa Wak Uden yang telah bergelar Haji dan puluhan kali melaksanakan umroh ke tanah suci Mekah tersebut sanggup dan tega mencoba memperkosanya. Pikiran Nurlela hanya menerawang, menyesali mengapa suaminya begitu cepat meninggal dunia sehingga tidak ada lagi yang menghidupi dan melindungi mereka. “Bang, baru setengah bulan kau pergi, kami telah diperlakukan seperti ini” kata Nurlela di dalam hati saat itu sambil menitikkan air mata. Setelah kejadian tersebut, Nurlela juga tidak lagi mengambil upahan mencuci pakaian keluarga Wak Uden.

Nurlela sebenarnya tidak mau mengungkap kembali kejadian 5 tahun lalu, apabila putri Wak Uden bernama Saniah (35) tidak menghinanya. Pada pagi hari Rabu, 9 Agustus 2006 lalu, tanpa mengetahui apa penyebabnya Saniah datang menemuinya dan mengatakan “Kenapa kau bilang sama orang-orang bahwa Ayahku nikah lagi dengan Icik, dasar kau perempuan tidak beres” katanya. Mendengar perkataan Saniah tersebut Nurlela bingung dan berusaha untuk menanyakan apa persoalan sebenarnya mengapa putri Wak Uden tersebut datang dan langsungs marah-marah. Saniah bukannya menjelaskan malah menghina Nurlela dengan ucapan-ucapan yang menyakitkan hati. Merasa dihina, Nurlela mengancam akan mengadukan Saniah ke Polisi dengan tuduhan membuat perasaan tidak senang. Ancaman Nurlela tidak membuat Saniah bergeming apalagi takut. bahkan dengan congkaknya Saniah mengatakan, “kami banyak uang sedangkan kau makan saja susah, silahkan ngelapor kemana saja, apa ke polsek, Polres, Polda atau kemanapun kau mau kami tidak takut” kata Saniah saat itu.

Merasa dirinya dihina dan dicaci maki oleh Saniah, dengan hati berat akhirnya sekitar jam 11 siang harinya Nurlela melaporkan Saniah ke Polsek Tg.Pura. Nurlela juga ingin membuktikan, apakah benar orang kaya tidak bisa dihukum di Indonesia. Pengaduan Nurlela diterima oleh petugas SPK Polsek Tanjung Pura Bribda. Maulana. Dalam pengaduannya, Nurlela juga melaporkan kejadian 5 tahun silam yaitu percobaan pemerkosaan dan masuk ke dalam rumah dengan cara merusak pintu yang dilakukan H. Kamaluddin alias Uden cabe dan pengancaman pembunuhan dengan cara menembak dan membakar rumahnya yang diduga dilakukan Ilham dan Azhari (keduanya putra Uden cabe).

Satu bulan setelah Nurlela membuat pengaduan di Mapolsek Tg.Pura, kasus yang dilaporkannya tidak juga ditindak lanjuti oleh Polisi. “Ternyata benar, Polisi tidak akan berani menghukum orang kaya”, kata Nurlela di dalam hati. Namun kecurigaan Nurlela kepada Polisi tidak berlangsung lama. Sekitar bulan September lalu dirinya menerima surat panggilan dari Reskrim Polsek Tg.Pura. Nurlela senang, kecurigaannya bahwa Polsek Tg.Pura tidak akan menindak lanjuti pengaduannya langsung hilang dari hati. Tapi betapa terkejutnya Nurlela, setelah surat dengan amplop kuning yang diterimanya dibuka ternyata isinya adalah panggilan terhadap Nurlela untuk datang ke Polsek Tg.Pura menjalani pemeriksaan sebagai Tersangka atas laporan Polisi No. Pol.:LP/192/IX//2006/Lkt.Pura,tanggal 4 September 2006, An. Pelapor H. Kamaluddin alias H. Uden.

Walau merasa jengkel, Nurlela tetap menghadiri panggilan tersebut dan menjalani pemeriksaan di Unit Reskrim Polsek Tg.Pura , dan setelah memberikan keterangan dirinya diperkenankan pulang. Satu bulan kemudian, tepatnya tanggal 10 Nopember 2006, Nurlela kembali menerima surat panggilan dari Reskrim Polsek Tg.Pura dan menghadap Ipda A. Aslim pada hari Senin (13/11) untuk di dengar keterangannya sebagai tersangka dalam perkara tindak pidana membuat perasaan tidak senang dan penghinaan terhadap H. Kamaluddin. Surat panggilan dengan No. Pol. 200/XI/2006/Reskrim bertanggal 9 Nopember tersebut ditandatangani an. Kapolsek Tg.Pura, Kanit Reskrim Ipda A. Aslim.

Dalam pemeriksaan kemarin, Nurlela sempat mempertanyakan kepada Ipda A. Aslim mengapa pengaduannya pada bulan agusutus lalu samapai saat ini tidak ditindaklanjuti sedangkan menindaklanjuti pengaduan H. Kamaluddin pada bulan September dirinya telah 2 kali menjalani pemeriksaan, Kanit Reskrim Polsek Tg.Pura Ipda A. Aslim dengan nada marah mengatakan “ Itu urusan saya, untuk apa kau tanya-tanya”.

TIDAK BERSEDIA JADI SAKSI “WAK UDEN” NIKAH, ANTO JUGA JADI TERSANGKA

Apa sebenarnya kesalahan Nurlela sehingga diadukan Wak Uden dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polsek Tanjung Pura?. Ternyata selain Nurlela, ada seorang warga lainnya bernama Gusnianto alias Anto (42), yang diadukan sama oleh H.Kamaluddin dan ditetapkan sebagai tersangka, dalam kasus yang sama. Kasian dia, padahal Wak Udin pernah minta tolong agar anto mau menjadi saksi rencana pernikahan Wak Udin dengan Icik” terang Nurlela pada Wartawan beberapa waktu lalu.Anto beserta istri dan kedua anaknya saat berada di rumah Koordinator K-SEMAR Sumut ketika menceritakan kasus yag menimpanya. Anto juga dijadikan tersangka sebab tidak mau memberikan keterangan sesuai permintaan si pengusaha yang telah mencoba memperkosa Nurlela

Anto beserta istri dan kedua anaknya saat berada di rumah Koordinator K-SEMAR Sumut ketika menceritakan kasus yag menimpanya. Anto juga dijadikan tersangka sebab tidak mau memberikan keterangan sesuai permintaan si pengusaha yang telah mencoba memperkosa Nurlela

Bagaimana hubungan Wak Udin dengan Icik ? dan mengapa Anto juga ikut diadukan Wak Uden sebagai tersangka ke Polsek Tg.Pura?. Kepada wartawan Gusnianto alias Anto (42) menuturkan bahwa sekitar bulan Juni lalu dirinya beserta istri dan 2 orang anaknya menempati rumah di kebun milik Pak Awang, rumah tersebut berjarak 300 meter dari rumah H. Kamaludin. Tetangga Anto bernama Nursiah alias Icik (40), rumahnya hanya berkisar 10 meter dari rumah yang ditempati Anto. Setelah 2 minggu suami Icik meninggal dunia, H. Udin sering menemui Anto dipagi hari dan menanyakan apakah Icik ada di rumah.

Jika ada, biasanya malam hari sekitar jam 19 Wib setelah melaksanakan sholat magrib di mesjid H. Uden lengkap dengan kopiah putihnya akan datang dan masuk ke rumah Icik. Agar warga disana tidak curiga, sepeda motor H. Uden disembunyikan Anto dibelakang rumahnya. Kemudian Anto mengawasi sekitar rumah Icik agar sewaktu-waktu ada warga yang datang H. Uden cepat keluar dari rumah Icik. “H. Uden bisanya tidak lama di dalam rumah Icik, hanya berkisar setengah jam. Dan biasanya jika keluar selalu dari pintu belakang” kata Anto menceritakan kisah asmara H. Uden dengan Icik. Anto juga tidak mengetahui secara persis apa yang dilakukan H. Uden dengan Icik.


Setelah 2 bulan berhubungan, H. Uden mengatakan akan nikah dengan Icik dan Anto diminta untuk jadi saksi. Anto juga diminta H. Uden untuk menyampaikan kepada Icik bahwa mahar pernikahannya adalah 1 buah Al-Qur’an. Al-Qur’an tersebut ditinggalkan H. Uden di rumah rumah Anto. Beberapa hari kemudian H. Uden kembali datang dan menanyakan apakah Anto sudah menemui Icik. “Sudah saya jumpai, tapi Kak Icik tidak mau maharnya Al-Qur’an, dia mau uang Ji” jelas Anto pada H. Uden. “Kalau begitu sudahlah” bilang H. Uden waktu itu sambil membawa Al-Qur’an tersebut pulang.

Akibat seringnya H. uden datang ke rumah Anto sebelum masuk ke rumah Icik pada malam hari, akhirnya menimbulkan kecurigaan. Salah seorang warga disana bernama Zulkifli alias Endut (33) suatu hari menemui Anto dan mengatakan bahwa dirinya mencurigai H.Uden selingkuh dengan Istri Anto. Merasa tidak enak istrinya dicurigai berselingkuh Anto membela diri, “bukan dengan istriku, tapi dengan Kak Icik” kata Anto dan menjelaskan cerita yang sebenarnya.

Setelah pertemuan itu Anto tidak pernah lagi melihat H. Uden menemui Icik. Namun 2 minggu kemudian selepas sholat Magrib H. Uden kembali muncul menemui Icik, dan seperti biasanya Anto menyembunyikan sepeda motor H. Uden dibelakang rumahnya. Seminggu kemudian secara tidak sengaja Anto bertemu dengan H. Uden di Warung Kopi Gundaling Tg.Pura, H. Uden mengajak Anto untuk pulang bersama. Di atas sepeda motor dalam perjalanan pulang, H. Uden mengatakan, “ To, jika bapak tidak jadi menikah malam ini dengan Icik, maka bapak tidak akan datang-datang lagi. Jadi malam ini Bapak harus nikah, kau jadi saksinya dan bilang sama Icik kita jumpa di rumah Zulkifli. Rumah Zulkifli berada 300 meter dibelakang rumah Icik dan Zulkifli merupakan penjaga Kebun Sawit H. Uden.

Sesampainya di rumah, Anto kemudian lansung menemui Icik dan menyampaikan pesan H. Uden agar nanti malam bertemu di rumah Zulkifli. Sekembalinya ke rumah anto menjelaskan pada istrinya bahwa nanti malam H. Uden akan menikah dengan Icik dan dirinya diminta datang untuk jadi saksi. Mendengar itu, istri Anto mengatakan, “janganlah bang, kita orang miskin, rumah ajapun numpang. Abangkan tau H. Uden itu punya istri, anak-anaknya orang kaya, jika mereka keberatan kan jadi masalah sama bang” kata istri Anto memelas. Mendengar perkataan istrinya yang sangat ketakutan tersebut akhirnya Anto membatalkan niatnya untuk jadi saksi.

Pagi harinya ketika Anto hendak mengambil air di sumur (perigi) belakang rumah Icik, Anto sangat terkejut, disekitar sumur yang berada di bawah pohon jeruk itu banyak jejak tapak kaki manusia. Air sumur yang biasanya bening dan dipergunakan untuk keperluan air minum telah berubah seperti kubangan kerbau. Anto tidak tau apa penyebabnya, namun walau merasa jengkel dengan mempergunakan timba, air sumur tersebut dikurasnya. Siang harinya, Anto mendengar cerita dari para tetangga bahwa tadi malam H. Uden terjatuh kedalam sumur itu setelah pulang dari rumah Zulkifli.

Sejak itu Anto tidak pernah bertemu lagi dan melihat H. Uden datang kerumah Icik. Namun betapa bingungnya Anto ketika sekitar tanggal 8 September 2006 lalu menerima surat panggilan dari Polsek Tg.Pura untuk diperiksa sebagai tersangka atas laporan H.Kamaluddin alias H.Uden. Surat Panggilan itu ditandatangani Kanit Reskrim Polsek Tg.Pura Ipda. A. Aslim Dalam surat panggilan tersebut disebutkan bahwa Anto sebagai tersangka perkara pidana membuat perasaan tidak senang dan penghinaan.

Esok harinya Anto datang ke Polsek Tg.Pura, dan disana dia juga bertemu dengan Nurlela. Menurut pengakuan

Nurlela, dia juga dipanggil dalam kasus yang sama. Setelah menjalani pemeriksaan Anto dan Nurlela diperkenankan pulang. Tapi pada 8 Nopember kemarin surat serupa kembali diterima Anto dan Nurlela dan isinya tetap sama untuk didengar keterangannya sebagai tersangka dan menghadap Ipda A. Aslim.

Kepada wartawan, Anto dan Nurlela mengatakan tidak mengetahui apa kesalahan mereka. Namun mereka menduga bahwa laporan H.Kamaluddin adalah bermaksud agar Nurlela mencabut pengaduannya tanggal 9 Agustus lalu yang mengadukan H.Kamaluddin dan ketiga orang anaknya (Togar Lubis)

6 Tanggapan

  1. Ksemar mohon dibantu utk desakan pembangunan kembali jalan lintas tran kacangan yang sampai sa at ini belum diaspalt
    Dulu masa bupatinya Pak Samsul Arifin katanya mau diaspalt tapi sampai sekarang belum juga
    Pak Ngegosa mohon diperhatiin warga bapak karena penghasilan didaerah sana cukup tinggi antara lain sawit,padi,kelapa dan lain-lain

  2. kasian bgt nasib nurlele, tu H udin aja yg rakus, uda bau tanah bukannya tobat.

  3. malang banget nasibnya,,,

  4. kalau saya paling suka berusan sama orang punya duit pasti saya buat malu besar karna orang yang ber duit hanya kebanyak kan orang2 Sombong mereka lupa harta yg di miliki nya hanyalah barang Titipan dari TUHAN yang ESA, ” Siapa pun yang baca pesan ini Kalau ingin butuh Bantuan saya silahkan HUB: 082155720799 atau kirim Email Ke usainiahmad20@yahoo.com

  5. 4.
    aaa, on September 1, 2011 at 3:15 pm said:

    kalau saya paling suka berusan sama orang punya duit pasti saya buat malu besar karna orang yang ber duit hanya kebanyak kan orang2 Sombong mereka lupa harta yg di miliki nya hanyalah barang Titipan dari TUHAN yang ESA, ” Siapa pun yang baca pesan ini Kalau ingin butuh Bantuan saya silahkan HUB: 082155720799 atau kirim Email Ke usainiahmad20@yahoo.com

  6. Dasar polisi…bkn melindungii yng lmah..mlah memilih harta…yng bnar jadi salah..yng salah jdi tertawa.sungguh mata dunia tiada sempurna…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: