Polri Paradigma Baru,“BUKAN ALAT POLITIK DAN KEKUASAAN”


Oleh : Togar Lubis

Suatu hari sekitar bulan Pebruari tahun 2004 lalu, penulis berkunjung ke kantor polisi. Yang saya kunjungi adalah seorang perwira pertama Polri yang bertugas sebagai Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) di dalah satu Kepolisian Sektor (Polsek) di jajaran Polres Langkat.

Begitu bertemu, perwira pertama tersebut langsung menyapa dengan ramah tanpa sedikitpun memperlihatkan bahwa dirinya adalah sosok yang harus lebih dihormati dan ditakuti. Sikap akrab, ramah dan bersahabat perwira ini mengingatkan penulis tentang Polri Paradigma baru. Sepintas di atas meja kerjanya terlihat sebuah kalimat yang sangat menarik perhatian. Kalimat itu adalah “Polri paradigama baru adalah Pelindung, Pengayom dan Pelayan Masyarakat, Bukan Alat Kekuasaan Polri Yang Gila Kuasa !”.

Tulisan tersebut menimbulkan pertanyaan, benarkah seluruh atau sebahagian besar perwira dan anggota Polri kita telah bersikap demikian ?. Ataukah tulisan tersebut hanya “Kamuflase” semata yang sengaja dibuat dan diciptakan dengan tujuan untuk menutupi sikap arogansi Polri pada masa lalu. Kita tidak dapat pungkiri bahwa Polri pada masa lalu secara institusi maupun person telah dijadikan alat politik dan kekuasaan oleh para penguasa untuk mencapai tujuan dan mempertahankan “Status Quo” .

Bicara tentang polisi masa lalu setidaknya masa sebelum Polri mandiri tahun2001, kita diingatkan akan sekelompok orang dengan sosok yang sangat ditakuti. Asumsi ini bukan tanpa alasan, sebab pada masa lalu kebanyakan anggota polisi bertampang sangar dan berkumis tebal, berperilaku bengis, kejam, temperamental dan bahkan suka menyiksa serta mengintrogasi tersangka ketika sedang melakukan pemeriksaan.

Sikap yang tidak professional ini menyebabkan timbulnya anekdot yang menggambarkan bagaimana polisi kita sanggup memaksa “Beruang Mengaku Kelinci”. Sikap ini akhirnya menimbulkan ketakutan masyarakat. Jika para penjahat dan tersangka tindak pidana lainnya yang ketakutan, itu memang yang kita harapkan. Namun bagaimana jika para korban kejahatan dan saksi juga ikut ketakutan akibat seringnya diperlakukan seperti tersangka pada saat proses pemeriksaan dilaksanakan ?

Maka wajar jika masyarakat harus merasa “Alergi” jika harus berurusan dengan polisi.

Disisi lain, ulah oknum-oknum polisi yang meminta bayaran sejumlah uang kepada korban dengan tujuan agar pengaduan cepat diproses menyebabkan timbulnya image negatif “ Jika kehilangan ayam melapor ke polisi maka akan kehilangan kambing”.

Gambaran bagaimana ketakutan masyarakat terhadap polisi pada masa lalu mungkin tercermin dalam anekdot dibawah ini :

Seorang Ibu Rumah Tangga di sebuah desa panik ketika putra yang masih berumur 3 tahun menjerit dan menangis tiada henti tanpa diketahui apa penyebabnya. Segala cara telah dilakukan sang ibu, mulai dengan membujuk dan memberi iming-iming agar putranya kesayangannya tersebut berhenti menangis. Namun ternyata tangisan si bocah tidak juga berhenti sampai akhirnya si Ibu secara spontan berteriak “diam, jangan nangis, itu ada polisi !” . Mendengar kata “polisi” si anak langsung diam walau ketakutan dan masuk ke dalam rok ibunya untuk bersembunyi. Si Ibu merasa senang, namun tidak berapa lama kemudian si anak kembali menjerit serta lari ketakutan sambil berteriak “Mak, di dalam ada polisi”.

Anekdot diatas merupakan sebuah gambaran bagaimana sosok polisi begitu menjadi perhatian dan dikenal masyarakat. Sayangnya sampai saat ini image polisi kita yang lebih dikenal masyarakat masih sisi negatifnya.

Menurut A. Muis, Guru Besar Tetap Ilmu Komunikasi dan Hukum Unhas, perilaku yang sering nampak kurang terpuji di mata masyarakat Cuma dilakukan oleh oknum-oknum dan tidak dapat digeneralisasikan. Cuma, kesalahan-kesalahan kecil sekalipun yang dilakukan oknum bisa menyerempet nama baik instansi tempat si oknum itu bekerja mencari seseuap nasi. Itulah cara berfikir manusia pada umumnya dan bangsa kita khususnya. Tingkah laku seorang polisi memang sering menjadi perhatian masyarakat. Pasalnya, masyarakat selalu mengharapkan kinerja (performance) yang ideal dari orang-orang yang berseragam dan memakai senjata api mirip militer itu. Masyarakat menginginkan agar polisi berpenampilan sebagai pelayanan masyarakat dan penganyom bagi setiap warga sipil yang membutuhkan penganyomannya. Masyarakat ingin merasa akrab dengan polisi dan merasa aman berada dekat polisi. Bukan sebaliknya, enggan berjumpa polisi. (A. Muis, Polisi sebaiknya “Back to Basic”).

* Penulis adalah Koordinator Kelompok Studi dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-SEMAR)

Sumatera Utara

2 Tanggapan

  1. Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://politik.infogue.com/polri_paradigma_baru_bukan_alat_politik_dan_kekuasaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: