Islamic Centre Langkat Milik Siapa ?


Oleh : Hasan Basri/Stabat

Bagi masyarakat Langkat, khususnya yang berdomisili di jantung Ibukota kabupaten tersebut,yakni Stabat, nama Islamic Centre bukanlah suatu hal yang asing lagi bagi mereka. Menyebut Islamic Centre,pikiran masyarakat langsung tertuju pada sebuah gedung yang terletak di depan alun-alun (lapangan, red) T Amir Hamzah Stabat.

Bila ditelusuri, ternyata tak banyak masyarakat yang tahu tentang sejarah berdirinya gedung tersebut. Apalagi setelah nama Islamic Centre yang dahulunya sempat terukir indah dibagian depan gedung,kini sudah tak tampak lagi. Yang tampak, hanya gurat-gurat tulisan Islamic Centre yang tampak membekas seperti dipahat di atas tembok depan gedung tersebut. Sedangkan dibawahanya, tulisan Stabat-Langkat masih kokoh dan terpajang jelas.
Bila menilik masih kokohnya tulisan Stabat-Langkat di depan gedung tersebut, sepertinya ada yang tak lazim dibalik hilangnya nama Islamic Centre tersebut. Apakah hilang karena sudah lapuknya beton yang mengitari tulisan tersebut, atau sengaja dihilangkan, setidaknya mengundang tanya dibalik tak adanya lagi logo nama di depan gedung tersebut.
Praktis, hanya sebuah prasasti peresmian yang terletak dinding bagian samping kanan gedung, yang setidaknya dapat menjadi petunjuk bahwa gedung tersebut mulai resmi digunakan pada tanggal 14 April 1992 lalu. Dalam prasasti peresmian yang dilakukan Bupati Langkat ketika itu, H Zulfirman Siregar, disebutkan bahwa gedung yang terletak di Lingkungan I Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Stabat tersebut merupakan gedung IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) dan arena manasik haji yang merupakan wakaf, infaq, sadaqah, sumbangan pengurus, anggota kaum muslimin dan muslimat, serta pemerintah yang berada di dalam dan luar Kabupaten Langkat.
Walau disebut gedung IPHI dan arena manasik haji, namun sebuah nama bertuliskan Markazul Islam sempat tertera di depan gedung tersebut di awal-awal berdirinya. Saat Bupati Langkat dijabat Zulkifli Harahap, nama Markazul Islam yang sempat melekat di gedung tersebut diganti menjadi Islamic Centre.
Melihat dari nama Islamic Centre yang ditabalkan bagi gedung tersebut, setidaknya mudah dipahami bahwa di gedung tersebut diharapkan menjadi salah satu simpul pusat peradapan Islam di Langkat. Baik sebagai pusat pengkajian maupun pengembangan Islam di kabupaten yang berbatasan dengan Nanggroe Aceh Darussalam tersebut.Keberadaaan gedung yang berada di Ibukota Kabupaten Langkat dengan mayoritas penduduk muslim terbesar, dapat menunjukan peran strategisnya sebagai pusat pembaharuan menuju tata nilai kehidupan yang Islami.
Bak seperti Jakarta Islamic Centre (JIC) di Jakarta Utara, yang di dalamnya terdapat ruang-ruang yang digunakan untuk sekretariat ormas dan organisasi kepemudaan bernafas Islam serta pendidikan dan perpustakaan. Hadirnya gedung berlabel Islamic Centre di Langkat juga diharapkan dapat menampung organisasi-organisasi Islam berkantor di gedung tersebut. Apalagi, di gedung yang diresmikan Zulfirman Siregar tersebut terdapat sebuah aula yang dapat dijadikan sebagai ruang pertemuan dalam mengkaji pengetahuan, maupun pengkaderan ormas dan organisasi kepemudaan Islam.

Sayangnya, dibalik tingginya harapan untuk menjadikan gedung Islamic Centre di Langkat sebagai pusat pengkajian dan pengembangan Islam, pengelolaan terhadap asset umat Islam tersebut ternyata jauh panggang dari api.Sudah jarang terdengar, di gedung tersebut diselenggarakan kegiatan-kegiatan bernuansa Islam. Bahkan, para calon jamaah haji Langkat dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini ini juga sudah mulai jarang menggunakan gedung tersebut untuk arena manasik haji.
Pengelolaan
Bagi yang pernah menjejakan kaki ke areal Islamic Centre Medan , setidaknya janganlah terlalu berharap banyak bisa menemukan pemandangan yang serupa bila mengunjungi Islamic Centre Langkat di Stabat. Bahkan, pemandangan yang akan terlihat justru akan berbalik 180 derajat bila membandingkannya dengan Islamic Centre Medan yang dihuni oleh para penghafal-penghafal Al Qur’an.
Bahkan hanya soal kebersihan saja, di gedung tersebut ternyata tak bisa dihandalkan. Tak jelas, bagaiman sebenarnya peran pengelola sehingga gedung yang dibangun atas hasil keringat umat Islam tersebut nyaris tak terawat. Tak percaya ? Datang saja ke gedung tersebut dan lihat bagaimana suburnya illlang tumbuh bak seperti padi ditengah sawah. Tak itu saja, perhatikan pula bagimana joroknya kamar mandi dan WC di gedung tersebut. Bahkan, lantai dan dinding WC nyaris hitam di tumbuhi lumut.
Suburnya rumput dan illalang, serta joroknya kamar mandi di gedung tersebut, bukan berarti di dalam gedung tersebut tak ada yang mengelola dan menghuni.Tercatat, setidaknya ada sembilan organisasi yang menempati sejumlah ruangan di gedung tersebut. Dari sembilan tersebut, empat diantaranya merupakan organisasi bernafas Islam. Sedangkan lima lainnya, organisasi sejumlah profesi umum. Dari empat organisasi Islam yang membuka kantor secretariat di kantor tersebut, satu diantaranya bakal hengkang setelah di depak oleh pengelola, karena masuknya sebuah organisasi olahraga.
Untuk bisa menempati ruangan di gedung tersebut, menurut salah seorang pengurus organisasi yang berkantor digedung tersebut, pihak pengelola mengutip bayaran Rp 35 per bulan. Ironisnya, organisasi yang mendapat mandat untuk mengelola gedung tersebut malah bukan dari ormas atau organisasi pemuda bernafas Islam. Sebuah LSM bernama LSM Pemerhati Pemberdayaan Pertanian Kehutanan dan Pembangunan, justru ditunjuk sebagai pengelola gedung.
Tak jelas mengapa LSM yang bergerak di bidang pertanian dan kehutanan tersebut bisa mendapatkan mandat pengelolaan gedung bernuansa Islam tersebut. Padahal dilihat dari namanya dan latar belakang LSM tersebut, jelas-jelas bertolak belakang. Pantas saja, umat Islam di Langkat tak bisa berharap banyak gedung Islamic Centre tersebut bisa menjadi Pusat pengkajian dan Pengembangan Islam di daerah itu. Atau jangan-jangan, seiring dengan telah hilangnya lebel nama Islamic Centre dari gedung tersebut, pertanda sudah tak adanya lagi Islamic Centre di Langkat. Bila benar, lalu milik siapa kini gedung yang dibangun dari keringat umat muslim tersebut ???

Rubik Komentar :
Ketua Gerakan Pemuda Ka’bah Langkat
M. Amsal : Kita berharap tidak ada pengkaburan sejarah terhadap dibangunnya gedung Islamic Centre tersebut. Kalau itu milik umat Islam, kembalikan pengelolaanya kepada ormas Islam.kepada Bupati Langkat terpilih, kita berharap gedung Islamic Centre dapat dipulihkan keberadaannya. Sehingga bisa menjadi sentrum pengembangan syiar Islam bagi terwujudnya tata kehidupan bersendikan Islam.

-Tokoh Agama Pantai Gemi, Stabat
Ustadz Amir Hamzah :
Demi tegaknya sejarah pembangunan, nama Islamic Centre di Langkat harus ditabalkan kembali di gedung tersebut.

-Ketua Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Langkat
Muhammmad Bahri SH :
Saya kira, seluruh ormas dan organisasi kepemudaan Islam harus bersatu mempertanyaan keberadaan gedung Islamic Centre tersebut. Jangan sampai, asset umat Islam tak jelas keberadaannya. Bila statusnya kembali diperjelas, jadikan Islamic Centre sebagai pusat pengem,bangan kegiatan dakwah yang merangkul dan mensinergikan semua potensi umat.

Satu Tanggapan

  1. hi mas ksemar?

    pakabar?🙂 blogwalking aja nich… mo pulang gawe.. heheheh

    Ksemar : Kabar Baik Mbak z03r4, khabar Mbak gimana…? . Trims ya atas kunjungannya . Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: