TIM PENCARI FAKTA “DEMO MAUT”


TIM PENCARI FAKTA “DEMO MAUT”
Oleh:
Shohibul Anshor Siregar

Dibentuknya Tim Pencari Fakta (TPF) dalam tubuh DPRDSU dalam kaitannya dengan ‘demo maut” 3 Februari 2009 yang menuntut paksa persetujuan pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) dan yang menewaskan Ketua DPRDSU almarhum Abdul Aziz Angkat (AAA), sedikit banyaknya membersitkan harapan akan semakin terjaganya objektivitas dan kesempurnaan penanganan masalah hukum dan politik yang terkait dengan “demo maut” itu. Dalam kemandiriannya (independensi) TPF tentu saja tidak akan berhenti pada pembuatan penegasan pasal-pasal yang dikenakan oleh pihak Kepolisian terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab, atau sekadar menambahkan pasal lain tentang pencurian inventaris di Gedung DPRDSU saat terjadinya “demo maut”.

Ada hal yang amat menggembirakan dalam cerminan proses pembentukan tim ini. Konon secara aklamasi Sdr.Abdul Hakim Siagian, SH., M.Hum dari Fraksi Partai Amanat Nasional disepakati sebagai Ketua, meski dia sendiri tidak hadir dalam rapat pembentukan. Mungkin ini bisa menyiratkan kapabilisitas dan profesionalitas orang yang ditunjuk. Sebelum menjadi anggota legislatif Abdul Hakim Siagian, SH., M.Hum adalah seorang professional kondang dalam bidang hukum. Selain itu esprit de corps juga tercermin. Meskipun almarhum AAA berasal dari Fraksi Golkar, namun rasa tanggung jawab terhadap kasus yang menyebabkan kematian dirinya seakan terbagi rata tanpa melihat asal partai dan Fraksi. Patut pula dicatat, bahwa saat-saat terakhir yang amat mengerikan bagi alamarhum AAA juga terlihat pengorbanan dan keberanian luar biasa dari seorang legislator senior H.Azwir Sofyan, anggota Fraksi Partai Amanat Nasional yang berusaha memberi perlindungan terhadap AAA hingga ajal tiba di tengah perlakuan amat buruk dari para demonstran.

Tantangan Bagi TPF

Sejak awal banyak kalangan amat berharap bahwa pembentukan semacam Fact Finding Commission (komisi pencari fakta) atau apa pun namanya di lingkungan DPRDSU berkaitan dengan insiden “demo maut” setidaknya dapat berperan supportif terhadap kelancaran pelaksanaan tugas lembaga terkait dalam rangka penuntasan kasus ini. Sama pentingnya jika diharapkan bisa sekaligus menjadi pembanding terhadap keseluruhan proses penuntasan yang dilakukan pihak-pihak terkait tadi, termasuk proses peradilannya kelak. Tanpa substansi peran dan fungsi seperti itu sama sekali tidak diperlukan tim apa pun dan atau dengan nama apa pun. Justru dalam kewenangan, independensi, keahlian atau legitimasi politik yang kuat, sesungguhnya amat diinginkan adanya semacam poros yang bergerak memotivasi dan mendorong sekuat-kuatnya agar tak sebesar jarrah pun fakta tercecer, apalagi terabaikan dalam proses hukum dan upaya pencarian keadilan.

Semua tahu bahwa muatan politis kasus ini amat kental. Jika kelak masyarakat merasa ada penyimpangan dari proses yang wajar dan apalagi dirasakan menjauh dari perasaan keadilan masyarakat, tentu ada resiko yang amat berbahaya. Itu tidak boleh terjadi. Dalam posisi seperti itu pulalah patut diberi apresiasi atas terbentuknya tim pengacara beranggotakan 100 orang yang berdiri di pihak keluarga almarhum AAA. Masyarakat pasti mengharapkan mereka bekerja profesional, dalam arti terukur dan tak mencampuradukkan berbagai hal tak relevan yang menyebabkan objektivitas hasil temuannya diragukan.

Terhadap Tim bentukan DPRDSU ini mata masyarakat akan tertuju. Karena itu akan banyak dipersoalkan kelak masalah profesionalitas, objektivitas, integritas dan akuntabilitasnya sekaligus. Belum terlambat untuk menyarankan agar TPF dapat secara cermat menentukan agenda, mekanisme dan schedule kerja, serta standar ukuran hasil yang akan dicapai. Tanpa itu Tim ini tidak akan bisa membuahkan sesuatu yang diharapkan oleh perasaan keadilan masyarakat.

Rekomendasi “human error” Protap

Satu hal yang kini banyak dipersoalkan di tengah masyarakat ialah terbitnya rekomendasi Gubsu Syamsul Arifin atas usul pembentukan protap. Itu terjadi akhir tahun lalu. Ada pihak yang menganggap rekomendasi itu tidak terkait dengan “demo maut” dan mempersoalkannya bermakna mengalihkan fokus dari pencarian dalang di balik “demo maut”. Anggpan itu terasa amat simplistis. Jika yang dimaksud adalah usaha memperoleh gambaran komprehensif dari “demo maut” mulai dari prolog, nalog sampai epilognya kelak, maka sebaiknya tidak ada apriori. Lagi pula siapa yang percaya bahwa rekomendasi Gubsu itu tidak ada kaitan dengan “demo maut” protap? Sekuat apapun usaha menolak keterkaitan rekomendasi Gubsu dengan “demo maut” tentu saja tidak akan ada orang yang percaya. Harus pula diingat bahwa 60-an lebih orang yang sekarang sedang ditahan untuk dimintai keterangan oleh Kepolisian pasti akan membeberkannya kelak dalam persidangan di pengadilan.

Pada saatnya nanti pengadilan akan memerlukan keterangan tentang hal ini. Hanya saja perlu proporsionalitas, sehingga Gubernurpun tidak perlu khawatir akan adanya implikasi politik yang lebih luas. Akan sangat janggal jika misalnya karena kekhawatiran akan adanya implikasi politik yang lebih luas itu lalu Gubsu berketatapan hati untuk “buang badan” hingga RE siahaan (sekdaprovsu) dan pejabat lain yang ikut memberi paraf pada rekomendasi itu menjadi penanggung-jawab penuh. Semua ada porsi tanggungjawabnya. Misalkan berdasarkan pemeriksaan internal pemprovsu RE Siahaan harus memikul tanggung jawab, katakanlah dijatuhi sanksi sesuai aturan yang ada, hal itu barulah sebagian dari penyelesaian masalah. Penting dicatat bahwa mempersoalkan rekomendasi yang belakangan disebut “human error” itu bisa menjadi jembatan yang kuat untuk pencarian dalang di balik “demo maut”.

Penutup

Saat ini masih terlalu dini memberi penilaian terhadap kinerja TPF. Lebih baiklah menjalankan kewajiban untuk memberi support kepada Tim ini agar benar-benar bekerja objektif, profesional dan penuh integritas. Selain masalah objektivitas, profesionalitas dan integritas, kendala nyata yang harus diakui ialah soal manajemen waktu. Saat ini sebagian besar, kalau bukan keseluruhan, anggota DPRDSU sedang menghadapi tugas berat “mengkampanyekan diri sendiri” agar terpilih kembali pada periode 2009-2014. Hari H 9 April 2009 sudah semakin dekat, sedangkan tugas TPF sama sekali tidak boleh ditangguhkan. Memang tugas TPF ini adalah tantangan bagi negarawan sejati.

Penulis adalah: Koordinator Umum ‘nBASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya), dan Dosen Sosiologi Politik FISIP UMSU Medan.

3 Tanggapan

  1. mungkin itu bisa terjadi emang karna ada motif politik ya pak?

    Ksemar : “Kemungkina besar iya. Soalnya ketika Gubernur sekarang masih calon, kampanyenya di Tapanuli adalah akan mendirikan propinsi Tapanuli jika terpilih menjadi gubsu”. trims atas kunjungan dan commentmya.

  2. salam dari bandung

    saya setuju dengan isi artikel anda

    Iklan politik sontoloyo
    Di sudut kota bertebaran baliho para calon anggoto legislatif, ada yang tersenyum manis seperti koruptor menunggu vonis , ada yang bergaya orator dengan latar belakang gambar sukarno menuding, dan ada juga yang berlatar gambar monyet (mungkin ingin memberi pesan manusia lebih kuasa dari monyet walau monyet dan manusia saudara sepupu menurut teori darwin).
    Ada yang berfose beramai-ramai seperti mahasiswa yang baru di wisuda , ini barangkali calon legislatif bermodal cekak (maaf bukan menghina, Cuma dugaan)

    Ksemar : Setuju dengan argumen anda. Kapan ya kita punya wakil rakyat yang benar-benar mengerti apa yang dihadapi dan dirasakan rakyat ?
    Wahai para penyembah kekuasan…. Kami tidak butuh kau jajakan wajahmu, seperti banci di matan lawang yang membuat gemas para kantip untuk merahasia ………………………..
    http://esaifoto.wordpress.com/

  3. pose2 caleg tuh kocak2,,hhee,,

    Ksemar : “Iya. dan merekalah pula yang merasa dirinya sebagai wakil rakyat sejati”.salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: