Nasehat Bagi Caleg dan Capres, JIKA MAU MENANG, JANGAN PERGI KE BESILAM


TINGKAT rasionalitas yang dicapai oleh seseorang atau komunitas tertentu tidak selalu sejajar dengan kemajuan yang dicapai pada aspek-aspek lain dari kehidupan. Dalam dunia politik hal itu kerap terjadi. Seseorang mau jadi calon anggota legislatif merasa benar meminta dukungan ke kuburan orang-orang yang pernah dianggap suci. Padahal jika dirasionalkan kuburan itu kan cuma tempat bagi orang meninggal yang secara agama hanya menunggu ketentuan berikutnya: apakah ke sorga atau ke neraka.

Mending ke Besilam atau ke tempat-tempat berdiamnya para pucuk pimpinan organisasi tarikat, sebab di sana masih mungkin ada konsultasi, atau kalau merasa benar-benar sakral juga bisa melakukan pengakuan dosa di sana. Pengakuan dosa yang diekspresikan secara tulus di depan orang yang dianggap berwibawa memang secara psikologis bisa menambah kekuatan bagi seseorang. Tetapi cobalah tak usah beri persembahan yang akan menggambarkan adanya jarak sosial dan martabat yang tak semestinya dengan para tokoh di situ. Pantangan pemberian persembahan itu sekaligus dimaksudkan bahwa kewibawaan bagi para tokoh itu —-yang dibentuk sedemikian rupa atas nama agama—- memang sesuatu yang tak pantas dikomersilkan.

Lebih dari itu tidak usah melakukan hal-hal lain. Para pemimpin tarekat itu juga manusia biasa, akan mati juga, selain tetap pasti dibelit oleh sejumlah masalah manusiawi yang orang lain mungkin tak perlu tahu.
Sudah pasti para pemimpin tarekat itu tidak mengerti dunia politik. Jika mereka tahu politik dan menguasai energi pengubah arah politik, sudah barang tentu dari dulu-dulu masyarakat dan Negara sudah baik mereka bikin.

Oleh karena itu sebaiknya dihentikanlah cara pandang yang salah seperti selama ini kepada mereka-meraka yang secara feodliastik selalu disebut “tuan guru” dan sebutan-sebutan lain yang memenjarakan diri dari kesetaraan di depan tuhan. Mereka tak akan bisa menolong. Petunjuk indikatif bersifat samar-samar berdasarkan tebakan-tebakan hipotesis yang mengambang tentang segala hal yang diajukan, tentu selalu mungkin didapatkan di sini. Sama halnya dengan kelaziman yang bisa didapatkan dari jasa pedukunan. Kemampuan seperti itu salah besar jika dianggap menjadi dominasi di kalangan kamp-kamp petinggi tarekat.

Jaringan mereka juga bukanlah sesuatu yang selalu dapat diandalkan. Mengapa? Mereka manusia juga seperti yang lain. Punya sahwat dan keinginan material yang godaannya sedahsyat yang terjadi pada orang lain di luar kamp-kamp itu. Manusia —di mana pun dan kapan pun—- tidak pernah luput dari dosa akibat bohong bermotif cari keuntungan, keserakahan dan sifat-sifat buruk manusia lainnya. Antara satu dan lain manusia hanya dibedakan oleh seberapa tepat ia mempelajari dan selalu memperbaharui imannya atau sebarapa taqwa ia kepada sosok (zdat) tuhan yang diyakininya. Harap difahami, dari zaman nabi Adam sampai sekarang dan sampai tibanya hari kiyamat, tuhan itu bisa berpindah-pindah sosok, dari zdat yang maha tinggi dan maha kuasa ke bentuk-bentuk sesembahan lain seperti materi, kesenangan duniawi dan lainnya.

Tawhid Yang Lemah

Dalam persepektif ajaran Islam mungkin fenomena penuhanan zdat lain selain yang mustahak (yang berhak untuk dipertuhan) lazim disebut kekeroposan tawhid. Jika ditabulasi permasalahan Indonesia sebagai Negara yang penduduknya mayoritas muslim, tentu persoalan utama yang menjadi penyebab ialah kekeroposan tawhid. Tawhid yang benar tidak mungkin melahirkan mega korupsi, mental menerabas, ananiyah (tinggi sebenang) di antara sesama tokoh dan komunitas, termasuk satuan-satuan kerdil keumatan atas nama keparpolan Islam.

Adalah juga kekeroposan tawhid yang amat nyata ketika Majlis Ulama Indonesia kemarin memberi fatwa haram golput. Alasannya, jika benar-benar ingin memerankan agama (Islam) sesuai dengan kemauan ajaran agama itu sendiri, maka sebetulnya Majlis Ulama Indonesia itu —-paling tidak untuk saat sekarang—- wajib memberi fatwa partai mana dan siapa-siapa tokoh politik yang haram dipilih, program apa yang wajib dijalankan oleh pemerintahan RI 2009-2014, Solusi terhadap ketergantungan hidup individual dan kolektif terhadap korupsi yang sudah lama sekali merongrong aqidah, dan masih banyak maslahat lain untuk menolong pemulihan martabat bangsa dan Negara yang sakit parah ini.

Tanggungjawab Siapa?

Para ulama, paling tidak yang tergabung dalam majlis Ulama Indonesia yang secara organisatoris disusun secara struktural sampai ke level paling bawah itu, kelihatannya sedang menghadapi dilemma serius dengan semakin jauhnya mereka dari masalah-masalah substantif keumatan. Ada kekhawatiran serius pemeranan diri sekadar pelengkap struktural birokrasi pemerintahan hingga misi menjadi kabur.

Bagaimana dengan organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan NU? Marilah kita cari fakta yang bias membantah bahwa organisasi-organisasi itu tidak mengutamakan orientasi politik praktis ketimbang dakwah, pendidikan dan sosial.

Jika para ulama dan organisasi-organisasi Islam itu sudah tidak merasa berurusan lagi dengan kekeroposan tawhid —-hingga menjadi lazim pemenjaraan diri pada faham-faham klenik dengan segenap variasi dan manifestasinya, hingga menjadi lazim korupsi sebagai bagian dari kehidupan, hingga menjadi lazim umat diperjual-belikan untuk kepentingan poltik praktis—- maka siapa lagi yang akan mengkoreksi? Azab Allah pasti tiba untuk segala macam ketakberesan ini. Itu pasti.

(Shohibul Anshor Siregar, pokok pikiran disampaikan pada Peringatan Milad 45 IKatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Medan, Selasa malam).

4 Tanggapan

  1. tanggung jwbnya umat agama di indonesia
    yang salah di bnarkan
    yang belok di luruskan
    Smangat!

  2. Saya rasa caleg-caleg itu tidak lebih dari calegbrities– ingin ikut terkenal, seperti anak kecil, teriak2 minta ditunjuk, ingin jadi pemimpin tapi tidak tahu apa-apa. shirTalks Political Fashion Company punya desain kaos yang membandingkan caleg-caleg tersebut dengan anak kecil. Lihat saja postingannya di blog saya: shirtalks.wordpress.com/2009/03/10/calegbriti es/

  3. Yap.. Gak hanya yang berbau klenik… Malah para Caleg dan tokoh politik lainnya juga banyak yang berbuat nekad.. Kayak dikoran Sriwijaya Post hari ini, banyak Caleg yang gadai barang salah satunya mobil gara2 kurang duit buat kampanye trus mobil yang dijual itu dia rental biar gak ketahuan udah dijual.. Gila

  4. Banyak juga komentar nasehat, ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: