GOLKAR OPOSISI, ALAMAT NEGERI INI AKAN LEBIH BAIK


Oleh: Shohibul Anshor Siregar

Berkuasa sekian lama di zaman Orde Baru sebagai the ruling party semestinya membuat Golkar dapat memahami denyut jantung Indonesia. Salah satu hakekat terpenting dalam keindonesiaan kontemporer ialah amat dibutuhkannya sebuah partai oposisi sungguhan.

Peran itu secara canggung boleh disebut dicoba dimainkan oleh PDIP pada periode pemerintahan yang sedang berlangsung. Namun sayang sekali harus dikatakan dengan tanpa catatan mengesankan. Jika Partai moncong putih ini akan mengulanginya lagi ke depan, tak begitu besar harapan dapat memberi sumbangan terhadap perbaikan negeri ini. Figuritas Megwaty, posisi khusus suaminya Taufik Kiemas, dan budaya kepemimpinan yang dikembangkan bersama designer politik Batak yang ramai di sekitarnya, semestinya sudah harus dianggap sebuah kegagalan fatal. Bahkan jika PDIP masih akan tetap mengganggap Megawaty dan segenap pernak-pernik titisan Bung Karno menjadi “jimat” politik yang efektif, lembaran suram yang akan didapatkan ke depan.

Hal serupa pasti akan menjadi nasib kelompok mana pun. Zaman berubah dan masyarakat akan meninggalkannya secara perlahan. Kuncinya cuma rasionalitas, atau kita harus menahan matahari terbit setiap pagi.

Sebetulya kultur dan struktur serta SDM para operator partai amat memungkinkan oposisi efektif bila diambil oleh Golkar. Sangat diperlukan kekuatan non ewuh pakewuh (tak segan-segan) dan anti inggih-inggih (tak mengekor) hadir dalam sistem. Sayangnya, para ”saudagar” yang saat ini amat mendominasi jaringan elit Golkar kelihatannya amat keberatan dengan gagasan seperti ini.

Saudagar itu sangat adaptif, dan karenanya sering nyaris tak beridiologi, karena kalkulasinya keuntungan material belaka, dan sering menjadi amat egois karena hanya pintar menghitung benefit (keuntungan) sendiri. Karenanya omong kosong membincangkan idiologi dengan para saudagar, itu tak ada dalam kamus mereka. Golkar harus berani meninggalkan dominasi politik saudagar, dan mulailah menjadi negagarawan sejati.

Menjadi negarawan sejati tidak identik dengan jabatan. Tidak samasekali. Bahkan untuk kondisi Indonesia saat ini, jabatan malah anti kenegarawanan sebab perannya sungguh-sungguh dalam pembangunan korupsi yang menjadi hambatan berkembangnya sebuah bangsa. Korupsi di Indonesia sampai sejauh ini sudah amat berhasil mengembangkan apologetisme yang dahsyat sehingga orang dengan uang banyak bisa menjadi raja meski kemaren harta itu diketahui jelas tak lain kecuali berasal dari perampokan harta negara secara besar-besaran.

Kesia-siaan Demokrasi ala indonesia

Indonesia membuang energi begitu besar dengan membentuk sekian banyak partai yang pada dasarnya hanya beda tanggal lahir dan simbol-simbol formal. Tidak ada pendidikan politik yang dipetik, bahkan lebih merupakan perkayaan jaringan legitimasi atas penguasa walau bagaimanapun tak becusnya.

Seyogyanya partai itu sebuah medan laga idiologis yang tak dapat dipersatukan mengingat filosofi dan cita-cita kebangsaan yang kentara bukan dalam ungkapan, melainkan substansi. Dahsyatnya perbedaan idiologi itu akan sangat berbahaya kecuali rule of the game ditegakkan. Tetapi hanya dari perspektif inilah masyarakat dapat memetik pendidikan politik, menjadi mampu membedakan yang mana yang salah di tengah-tengah kebenaran sekalipun.

Saat ini medan laga politik parpol di Indonesia hanyalah soal siapa yang akan menempati kursi di legislatif, siapa yang akan menjadi Presiden, Menteri dan Kepala Daerah. Dengan itu semua dihitung secara cermat siapa yang akan menguasai anggaran dan berapa pula keuntungan material yang didapatkan oleh kelompok dari arena aji mumpung itu.

Itulah sebabnya Indonesia tidak pernah maju dalam demokrasi dan politik, karena pentas politik dipenuhi orang-orang oportunistik. Ini pulalah jawabannya mengapa semua BUMN dan BUMD di Indonesia tidak ada yang baik, betatapapun Indonesia mempunyai kebiasaan bohong dengan memberi award kepada diri sendiri. Kata pepatah ”garbage in, garbage out” (jika hanya sampai yang boleh masuk, maka yang keluar tentulah hanya sampah juga).

Lebih pahit bagi Indonesia ikon dan simbol-simbol yang dianggap sakral dijadikan ”penjara” yang membatasi bukan saja ruang gerak tetapi sekaligus cara berfikir. Primordialitas semakin diperkental, dan memang dalam proses pembodohan seperti inilah egalitarianisme tidak pernah bisa muncul dan pola merit system diharamkan. Orang-orang dengan andalan simbol dan primordialitas akan sangat diuntungkan. Dengan tanpa dosa mereka mereguk keuntungan dan kenikmatan hidup dari mekanisme pembodohan itu. Jika ada sebuah partai oposisi yang kuat di Indonesia, hal-hal buruk itulah yang pertama-tama menjadi pekerjaan seriusnya.

Maukah Golkar menjadi partai oposisi? Mungkin jawaban apologi yang paling awal harus kita terima ialah bahasa klasik ”sistem politik Indonesia kan tidak mengenal oposisi seperti di negara liberal?” Horas ma (selamatlah) kalau begitu.

Satu Tanggapan

  1. Emang Golkar mau di luar? Emang Golkar punya watak tak jadi pemerintah? Emang ada manfaatnya buat Golkar? Emang gak rugi? he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: