OLO PANGGABEAN (1) Sepenggal Cerita dari “Ucok Majestik” Yan Paruhum Lubis


OLO PANGGABEAN (1)

Sepenggal Cerita dari “Ucok Majestik” Yan Paruhum Lubis

Oleh: Shohibul Anshor Siregar

OLO PANGGABEAN. Ia misterius dan amat berpengaruh. Coba saja katakan tidak, tetapi dalam hati pasti tak bisa mungkir: ia memang orang yang amat penting. Anehnya, pentingnya Olo atau tingginya pengaruh Olo bukan saja bagi orang yang mengenal dan memiliki kepentingan langsung terhadapnya, melainkan juga bagi orang yang sama sekali tak pernah bertemu dan tak mengenal.

Ucok Majestik, seorang sesepuh yang bernama asli Yan Paruhum Lubis, pernah bercerita kepada saya tentang Olo. Cerita ini melukiskan Olo sebelum terkenal dan berpengaruh besar. Sekitar 5 tahun lalu saya terima penuturan itu.

“Olo anak buah saya dulu. Tahulah kau, kami-kami yang dulu aktif sebagai motor penggerak pemuda di daerah ini sering berpangkalan di sekitar bioskop. Anggota kita banyak, sebagian ada yang menjadi calo tiket. Masih ingat bioskop Majestik? Itu pangkalan sayalah. Orang menyebut saya Ucok Majestik, ya karena penguasa di Majestik itu. Ha ha, begitulah kira-kira.

Jadi saya sedang makan mie rebus ketika seseorang berlari menghampiri saya. “Bang Ucok, Bang Ucok, Olo dihajar orang di depan bioskop Majestik”. Esprit de coprs amat penting bagi saya, wajib bela anak buah dan teman. Saya tinggalkan mie rebus saya dan langsung berlari ke Majestik yang memang tidak jauh jaraknya dari warung tempat saya makan. “Ini bang yang memukul saya, kata Olo menunjuk kepada seseorang”. Tanpa pikir panjang saya hajar orang itu habis-habisan.

Tetapi setelah menyadari kemungkinan yang saya hajar itu adalah seseorang dari korps tertentu, saya langsung ambil sikap. “Olo, kau sembunyi dulu beberapa hari, tunggu kabar dari saya. Cepat pergi. Begitu saya perintahkan kepada Olo yang langsung meninggalkan tempat kejadian. Saya sendiri bergegas ke rumah Mas Soekardi, Komandan PM waktu itu. Saya laporkan kejadian yang baru saya alami. Bang Soekardi faham dan dengan kalem berkata: “ya sudah, kau jangan kemana-mana. Di sini saja kau 3 hari ini. Lain kali hati-hati, jangan sembarang hantam di jalanan.

Ucok Majestik tak menjawab ketika saya tanyakan apakah Olo pernah melawan kepadanya. Olo itu tidak boleh tidak, harus tetap hormat kepada saya. Ini cuma soal regenerasi. Siapa yang mampu melawan usia? Ucok Majestik adalah Ucok Majestik dan Olo adalah Olo. Ia menggantikan generasi di atasnya dan mengembangkan apa yang menjadi bakatnya, jelas Ucok.

Bukan kali ini saja saya mendapat cerita mengenai Olo. Tahun 1995 misalnya, saya menginap di sebuah hotel kecil di Balige. Berseberangan dengan kamar saya menginap pula seorang yang akhirnya saya ketahui petugas intel kepolisian dari Polda Sumatera Utara yang sedang bertugas dalam kasus kerusuhan internal pada HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Saya rasakan betul ia mencurigai saya kemungkinan sebagai provakator yang bekerja untuk menaikkan tensi kericuhan internal HKBP. Hal itu saya ketahui saat pertama kali berpandangan mata, saat tengah malam saya mulai menginap. Meski ia tak bicara, sorot matanya begitu curiga. Ketika itu saya sedang penelitian tentang Ugamo Malim yang sedang mengadakan upacara SI Paha Lima (salah satu ritus tahunan penting) di Desa Huta Tinggi.

“Kenapa kamar saya diacak-acak? Apa pangkatmu, saya ini kalau di militer atau kepolisian setara perwira menengah, apa yang kau cari?” Begitu saya katakan ketika pulang dari lapangan dan menyadari letak semua peralatan dan pakaian yang sudah saya atur sedemikian rupa berubah posisi dan ia tak menyadari kesemberonoan pekerjaannya. Setelah ia minta maaf dan menyatakan semua itu hanya untuk tugas, maka kami akhirnya berteman untuk beberapa hari saja. Petugas intel ini juga saya ajak bercerita tentang Olo, dan ia pun bertutur banyak dan tentu saja dari perspektifnya.

Dua hari sebelumnya saya berkenalan dengan nara sumber lain. “Ibu saya orang Cina tetapi saya bermarga Simatupang. “Ampara (saudaraku), kita sama-sama Lontung (sebuah rumpun marga dalam etnis Batak)”, kata seseorang kepada saya dalam perjalanan naik bus ALS menuju Tapanuli tahun 1995 yang lalu. Ketika itu ia saya tegur saat saya lihat begitu sembrono mengamankan pistolnya di pinggang hingga jatuh ke sisi kiri saya di bawah jok. Orang ini anggota polisi yang pindah tugas ke Tarutung. Kami banyak bercerita tentang Olo, ciri-ciri fisik, kebiasaan-kebiasaan, harisma, pengaruhnya dalam konstelasi politik dan kekuasaan, seteru-seterunya, bidang-bidang usaha, kemahirannya berbahasa Cina, dan lain-lain.

Selain itu berulangkali saya dengar cerita dari sumber-sumber yang berbeda bahwa Olo tidak pernah menikah sebagai konsekuensi dari kepercayaan magis yang ia pegang teguh untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruhnya. Juga sering saya dengar Olo amat humanis, suka membantu orang susah, dan amat haru setiap mendengar sebuah lagu Batak berjudul “Inang” yang kurang lebih bagai ratapan kepasrahan seorang anak yang tetap berharap bukan cuma keabadian kasih sayang, tetapi juga semacam sahala (berkat) dari seorang ibu yang amat dicintai. Saya dengar juga Olo itu penguasa judi yang tidak boleh disaingi oleh siapapun dan dalam menjalankan usaha ini begitu besar jaringan dan pengaruhnya ke masyarakat dan semua jajaran pemerintahan sipil dan militer. Dalam kaitan itu pula sering saya dengar Olo disebut-sebut sebagai pemimpin kelompok yang amat disiplin dan amat tegas. Ia tak segan memberi reward yang merangsang prestasi dan punishment yang amat mengerikan kepada anak buahnya.

Maka ketika Olo meninggal, koran lokal menyebut nama aslinya Sahara Oloan Panggabean. Saya berfikir, agak tak masuk akal nama itu. Mungkin mestinya Sahala Oloan Panggabean. Antara Sahara dan Sahala, itu jauh berbeda. Malah saya tak tahu apakah orang Batak mengenal kosa kata Sahara. Saya akan ke Simasom (Pahae Julu, dekat kota Tarutung, kampung asal Olo) untuk mengecek kepada keluarganya di sana.

Bersambung ………..

7 Tanggapan

  1. Keren bang..
    Dimana ni aku bisa baca kelanjutannya, setelah abang sampai di Tarutung

    Ditunggu Bang, sekurang2nya balas koment ku ini bg.

    Trims..

  2. cari aja bagian dua nya. trims ya bro. salam

  3. saya ingin seperti OLO panggabean

  4. Untuk masalah insiden Golden itu akan saya kirimkan bagaimana peristiwa itu terjadi, diambil dari Hak Jawab dan Bantahan Ucok Majestik, terhadap Buku Surya Paloh dan Redaksi Majalah Tempo, berisi kronologis Pemuda Pancasila dan hubungan antara Ucok Majestik dengan Olo Panggabean

    Medan, 10 Oktober 2012
    Kepada Yang Terhormat,
    Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
    di-
    Kebayoran Centre
    Jl. Kebayoran Baru, Majestik
    Jakarta 12240
    red@tempo.co.id

    Saya yang bertanda tangan dibawah ini;

    Nama : H. Yan Paruhum Lubis alias Ucok Majestik
    Tempat, Tgl.Lahir : Sibolga, 22 – 12 – 1934
    Alamat : Jl. Melati Raya No. 4 Blok XIX Lingk. XI Helvetia-Tengah
    Medan, 20124
    HP : 081264408584
    Jabatan : – Majelis Pertimbangan Organisasi Majelis Pimpinan –
    Nasional Pemuda Pancasila.
    – Pinisepuh Pemuda Pancasila.
    – Mantan Ketua Kubu Pancasila Sumut dan Kordinator
    Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Bersama surat ini menyampaikan Hak Jawab dan Bantahan sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999, Pasal 5: (1), (2), (3); Pasal 18: (2); Peraturan Dewan Pers No.9/Peraturan-DP/X/2008, dan Kode Etik Jurnalistik; terkait pemberitaan Majalah Tempo Edisi 1-7 Oktober 2012, karena terjadi pemberitaan yang tidak benar disebabkan kekeliruan dan tidak akuratnya fakta juga data dalam pemberitaan berjudul: Para Algojo 1965 Pengakuan Anwar Congo; Dari Serdang Bedagai Sampai Medan; Kol 2 Hal 113:
    “…………Anwar dikenal sebagai preman bioskop. Dia dulu menguasai pasar gelap karcis di Medan Bioskop. Oppenheimer menemukan bukti bahwa anggota pasukan pembunuh di Medan pada 1965 rata-rata direkrut dari preman bioskop”.
    “…………Mereka membentuk pasukan pembunuh yang terkenal dan ditakuti di Medan, yaitu Pasukan Kodok. Pasukan ini berada dibawah sayap pemuda partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia, yang didirikan Jendral AH. Nasution: Pemuda Pancasila. Di Pemuda Pancasila Anwar bisa dikatakan salah satu pendiri dan pinisepuhnya”.

    Kemudian pada Kolom 3 Hal 113:
    “…………..Oppenheimer mempertemukan Anwar dengan kawan lamanya, Ibrahim Sinik, pemilik harian Medan Pos yang lantai atas kantornya sering digunakan Anwar untuk melakukan pembantaian”.

    Tidak akuratnya fakta dan data juga terjadi dalam judul berita, Algojo dan Narasumber Skripsi: Hal 116 Kolom 2; “Sikapnya ini berbeda jauh dibanding saat dia menjelaskan caranya menghabisi orang PKI. Dengan mengambil lokasi lantai atas kantor Medan Pos”.

    Meluruskan pemberitaan diatas bersumber pada Film The Act of Killing karya Joshua Oppenheimer yang mengambil setting dan latar belakang peristiwa demo Kampung Kolam pada 25 Oktober 1965 (penggambaran dalam film tentang sebuah kawasan/perkampungan yang diserang massa Pemuda Pancasila dibantu tentara), dan Majalah Tempo memuatnya tanpa melakukan cek dan ricek ulang kepada saya sebagai salah satu pendiri(pembentuk) Pemuda Pancasila di Sumut yang masih hidup selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY. Efendi Nasution alias Fendi Keling, maka saya perlu memberikan hak jawab dan bantahan agar tidak terjadi pemberitaan yang tidak objektif, bias, serta pengkaburan dan pemutarbalikkan sejarah perlawanan masyarakat Sumatra Utara terhadap komunis ditahun 1965. Sekaligus membabi buta menuding organisasi Pemuda Pancasila dijadikan militer melakukan pembantaian massal masa Komunis di Sumatra Utara dan Kota Medan

    Tidak benar dan tidak ada sekelompok pembunuh yang mayoritas adalah preman bioskop, yang kemudian direkrut tentara dan disebut Pasukan Kodok di Sumatra Utara ataupun Kota Medan saat itu. Jika ada anggota Pemuda Pancasila yang direkrut untuk menjadi pembunuh dalam sebuah unit khusus yang disebut Pasukan Kodok, sebagai Ketua Kubu Pancasila Sumut serta Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan dimasa itu, tentunya saya wajib tahu terhadap keberadaan unit itu demikan juga siapa saja anggota Pemuda Pancasila yang direkrut didalamnya. Jadi keterangan seluruh narasumber Joshua Oppenheimer sebagaimana dituangkan dalam film The Act of Killing terhadap keberadaan Pemuda Pancasila di Sumut dan Kota Medan soal pembantaian massal yang dikordinir militer adalah keliru, bercampur fantasi dan euphoria serta tidak didukung fakta dan data yang terjadi saat itu.

    Jika disebut sebagai keterangan atau pengakuan pribadi dari seseorang maupun beberapa orang yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan dan pembantaian massal, dan mereka juga anggota organisasi Pemuda Pancasila, keterangan ini juga tidak dapat diyakini keakuratan fakta serta datanya, sebab tidak pernah ada pembantaian massal yang dilakukan dalam kantor Pemuda Pancasila. Apalagi saat itu, kantor dikawasan Pekong Lima, merangkap kantor Redaksi Harian Cahaya, juga kantor bersama IPKI Sumut dengan Ketua Kerani Bukit, Kantor IPKI Medan dengan Ketua Dana, Kantor Pemuda Pancasila Sumut dengan Ketua MY Efendi Nasution dan Kantor Kubu Pancasila Sumut merangkap Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan, yakni saya, Yan Paruhum Lubis. Dan terakhir menjelang pecahnya peristiwa penculikan dan pembunuhan para jendral di Jakarta, menjadi Kantor Dastagor Lubis yang ditunjuk Partai IPKI Sumut menjadi Ketua Pemuda Pancasila Kota Medan. Setelah sebelumnya kantor bersama kami adalah di Jl. Veteran(bersebelahan dan tidak telalu jauh dengan dengan Kantor Jl. Sutomo).

    Materi lain yang tak kalah pentingnya untuk dikoreksi dengan Hak Jawab dan Bantahan, yakni pembantaian dilantai atas kantor Harian Medan Pos. Kantor Harian Medan Pos saat ini berlokasi di Jl. Perdana 107-109 Medan, kantor dan nama Medan Pos baru ada sejak tahun 1973. Penulisan 9 Mei 1966 pada halaman satu bagian depan atas Koran Medan Pos, merujuk pada historis jika sebelum pengalihan kepemilikan kepada Ibrahim Sinik, koran bernama Sinar Pembangunan. Sebelumnya dimasa G-30/S media tadi bernama Harian Cahaya dan berkantor di Jl. Sutomo(Kantor Darah-Pekong Lima dalam dialog Anwar Congo saat berkeliling dengan mobil bersama teman-temannya), bangunan milik Kerani Bukit Ketua IPKI Sumut. Harian Cahaya saat itu dipimpin oleh Pemimpin Redaksi Arsyad Noeh(kerabat kandung Afnawie Noeh, Ketua BPRPI Sumut), dengan Sekretaris Redaksi So Aduon Siregar. Jadi jelas tidak pernah ada pembantaian di lantai atas kantor Harian Medan Pos sebagaimana ditulis dalam berita Tempo.

    Ketika Harian Cahaya masih terbit, AM. Sinnik(kerabat kandung Ibrahim Sinik, bertanggungjawab dalam pendistribusian media ini, sementara Ibrahim Sinik saat itu sebagai pentolan dan aktifis MURBA Sumut beraktifitas menangani usaha dagang keluarganya sebagai distributor buah-buahan di Medan. Jadi yang bersangkutan belum masuk dalam jajaran redaksi Harian Cahaya ataupun jurnalis Harian Cahaya.

    Hingga pemberitaan edisi Tempo terkait Film The Act of Killing, masih saya sendiri yang disebut sebagai Pinisepuh Pemuda Pancasila, kehormatan itu diberikan organisasi untuk mengenang sejarah eksistensi Pemuda Pancasila menghadapi panasnya bara Komunis di Indonesia, juga di Sumatra Utara dan Kota Medan kurun 1963 -1967, khususnya pengorbanan 9 orang anggota Pemuda Pancasila yang dibantai Komunis dalam priode itu. Serta melihat fakta hingga saat ini tinggal saya sendiri pendiri Pemuda Pancasila di Sumatra Utara dan Kota Medan yang masih hidup, selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY Efendi Nasution.

    Untuk membantu Redaksi Tempo memahami Hak Jawab dan Bantahan, akan saya berikan kronologis peristiwa yang terjadi yang menjadi satu kesatuan yang utuh dalam Hak Jawab dan Bantahan, dan kewajiban Redaksi Majalah Tempo memuatnya secara utuh. Hak Jawab dan Bantahan saya juga harus dimuat di group Majalah Tempo, yang juga ikut menyiarkan pemberitaan dari Film The Act of Killing, sebagai bentuk permintaan maaf dari Redaksi Majalah Tempo lalai hingga meloloskan berita yang tidak benar, karena tidak akuratnya fakta dan data yang disajikan serta cenderung keliru kepada khalayak tentang Pemuda Pancasila. Hingga cenderung menyesatkan publik, masyarakat yang selama ini menjadi pembaca setia-termasuk saya pribadi yang juga pembaca setia Majalah Tempo.

    Pemuatan secara utuh Hak Jawab dan Bantahan sekaligus kronologis yang saya informasikan, sekaligus untuk koreksi adanya unsur plagiat yang dilakukan Redaksi Majalah Tempo, dengan memuat informasi yang ada dalam The Act of Killing dalam berbagai artikel yang berhubungan dengan pemberitaan dengan Judul Utama: Pengakuan Algojo 1965 dan dipecah menjadi sub-sub judul seperti tersebut diatas, menjadi seolah-olah adalah reportase Jurnalis Majalah Tempo, padahal adalah petikan-petikan dari synopsis Film The Act of Killing dan pernyataan Joshua Oppenheimer. Lalu disiarkan untuk publik tanpa konfirmasi kepada saya sebagai pihak yang mengetahui kronologis peristiwa perlawanan masyarakat Sumatra Utara dan mau tidak mau melibatkan Pemuda Pancasila terhadap Komunis dimasa itu, termasuk peristiwa Demo Kampung Kolam. Bila Redaksi Majalah Tempo tidak memuat Hak Jawab dan Bantahan saya ini secara utuh, saya dengan sukarela akan menyelesaikan permasalahan ini melalui jalur hukum, baik secara pidana ataupun perdata sebagaimana diatur oleh UU Pokok Pers.

    Berikut akan saya terakan kronologis fakta dan data yang saya jalani agar Redaksi Majalah Tempo dan masyarakat mengetahui kondisi yang sebenarnya;

    Tahun 1954: Setelah menjatuhkan Pak Mamat yang terpeleset dari tangga Bioskop Majestik saat berusaha menampar saya, karena menanyakan mengapa Pak Mamat memukuli Entong, teman saya yang ingin masuk kedalam pembukaan bioskop paling megah di Kota Medan saat itu, saya dipanggil dengan sebutan Ucok Majestik. Sejak peristiwa itu, saya dipercaya beberapa pemilik bioskop di Medan menjalankan dan mengamankan operasional bioskop-bioskop di Medan, termasuk Bioskop Majestik yang saat itu adalah milik seorang turunan bernama A Hwat.

    Maret 1962: Sekretaris IPKI Sumut Kosen Cokrosentono yang juga Kepala Penerangan Propinsi Sumut, sekaligus guru pengajar Pancasila di era Presiden Soekarno, bersama Ketua II Partai IPKI Bidang Pemuda MY. Efendi Nasution membawa saya ke Jakarta untuk bertemu Ratu Aminah Hidayat di Menteng Raya 70, dan bertemu Jendral AH. Nasution di Cijantung. Ratu Aminah dan Jendral AH. Nasution minta kami membentuk karyawan IPKI(sayap partai), seperti Kubu Pancasila, Pemuda Pancasila, Sarjana Pancasila dst, di Sumut dan Kota Medan, dengan visi misi menjaga tetap utuh tegaknya 4 Pilar Kebangsaan. Ratu Aminah Hidahat menerangkan, awalnya pada tahun 1959, IPKI membentuk Pemuda Patriotik. Dan pada tahun 1960 dalam kongres pertama IPKI di Lembang-Bandung, Pemuda Patriotik berubah nama menjadi Pemuda Pancasila.

    Juni 1963: MY. Efendi Nasution dilantik menjadi Ketua Wilayah Pemuda Pancasila Sumut di Balai Selekta Jl. Listrik Medan(saat ini lapangan kosong disebelah Gedung Pendam I/ BB), saya yang tidak hadir dalam acara pelantikan tadi, kemudian ditunjuk menjadi Ketua Kubu Pancasila Sumut merangkap Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan oleh Kerani Bukit dan Kosen Cokrosentono. Dengan kantor di Jl. Veteran-dekat Jl. Sutomo. Dan 6 bulan kemudian pindah kekantor di Jl. Sutomo(Pekong Lima) sebagai kantor bersama, di gedung milik Kerani Bukit. Sebagai kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan saya menunjuk pengurus ranting kelurahan pertama Pemuda Pancasila di Medan yakni Ranting Pulo Brayan dipimpin Saibun Usman, kemudian saya menunjuk pengurus kecamatan pertama yakni Medan Barat dipimpin Nikolas Pulungan(pemilik Medan Bioskop, Orion Bioskop dan Orange Biokop). Dibentuk juga Kubu Pancasila unit angkatan darat laut dan udara dipimpin Anton Nasution.

    Untuk memperkuat organisasi Kubu Pancasila Sumut dan Pemuda Pancasila Sumut, saya tempatkan orang-orang anggota Pemuda Pancasila dan Kubu Pancasila di bioskop-bioskop sebagai pekerjanya, seperti menjadi Acting Manajer- Supervisor-atau Mandor Besar, yaitu: Bioskop Majestik-Kelly, Bioskop Rex-Dastagor Lubis, Bioskop Deli -Abdullah Teeng dan Syarbaini Tanjung (Ten), Medan Bioskop-Rosiman(pengamanan Medan Bioskop saya ambil alih dari kelompok pemuda Jl. Buntu-PJKA yang saat itu dipimpin Adong), Bioskop Cathay-Barik dan Amran YS(pengamanan Cathay saya ambil alih dari Manis Sembiring dkk), Bioskop Orion-Dahlan, Bioskop Morning-Bakti Lubis, Bioskop Kok Tay-Jep(seorang Pemuda Minang yang biasa kami panggil Jepang), Bioskop Kapitol-Witchin, Bioskop Astanaria-Dame. Hampir setiap malam, saya, Fendi Keling dan Dastagor Lubis menyempatkan diri berbincang perkembangan terakhir Sumut dan Medan, diruangan atas belakang gedung bioskop Rex-Ria(saat ini sebuah restoran didepan gedung UNILAND Medan), sesekali teman Fendi bernama Sahat Gurning bergabung dalam pembicaraan kami.

    17 Agustus 1964: Terjadi bentrok fisik pertama antara massa Pemuda Pancasila dengan Pemuda Rakyat dalam peringatan HUT RI, saya tidak terima hardikan Wakil Ketua Pemuda Rakyat Sumut-Hamid yang memerintahkan agar Pemuda Pancasila berbaris dalam parit, sebab lapangan menurutnya hanya untuk PKI dan ormasnya. Hamid kemudian melakukan propaganda dengan melapor kekantor Kodim dan PM, bahwa Pemuda Pancasila yang saya pimpin berteriak-teriak minta PKI dan ormasnya dibubarkan. Sesuatu yang mustahil karena pada saat itu kami hanya berjumlah 40 orang, diantara ribuan massa PKI yang memenuhi Lapangan Benteng. Saya ditahan Pasi I Kodim Medan Kapten Datuk Akhtar B dan wakilnya Letnan Ramli Markam, namun selang beberapa jam kemudian bebas setelah dijemput Kosen Cokrosentono. Alm. Efendi Nasution yang berjanji akan menyusul saat kami bergerak dari kantor IPKI Sutomo menuju Lapangan Benteng karena ada urusan partai, hingga selesai acara tidak hadir. Dari 40 orang anggota Pemuda Pancasila yang ikut parade ini(namanya dicatat dalam buku besar Partai IPKI termasuk MY Efendi Nasution), tidak ada satupun mereka yang jadi narasumber Joshua yang keterangannya dijadikan dasar pembuatan film The Act of Killing. Anggota Pemuda Pancasila yang ikut HUT RI ini yang sebahagian adalah pengurus IPKI antara lain: Lilik(Kp. Keling), Dahlan, Suhemi Tanjung, Syarbaini Tanjung, Abdullah Teeng, Siwadas(setelah Muslim ganti nama menjadi M. Yusuf), Berlin Tobing, Damos, Keriting, ,Rahmad Lubis, Kiting, Bakti Lubis, Yance, Syahruddin Nasution, Saibun Usman, Mamak Isu, Usman Sitohang, Gusar Panggabean(Abang Alm. Olo Panggabean), Witchin, Sarkunen, Dastagor Lubis, Viktor Sipahutar, Lilik(Glugur Bypass), Dana, Nurdin Ritonga, Iskak Idris, Sailan Daly.

    Sejak keributan Lapangan Benteng itu, PKI dan ormasnya terus melakukan provokasi kepada Pemuda Pancasila. Menjelang meletusnya G-30/S, dengan makin seringnya terjadi gesekan antara massa Pemuda Pancasila dengan PKI dan ormasnya, IPKI pada pertengahan 1965 menunjuk Dastagor Lubis sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Setelah peristiwa Bandar Betsi(14 Mei 1965), Pemimpin Redaksi Harian Cahaya Arsyad Noeh melapor jika percetakan Mistika yang terletak disekitar Jl. Pemuda dekat kantor Polisi Sektor Barat, dan mencetak Harian Cahaya akan diserang Pemuda Rakyat, karena media itu adalah media yang pertama memuat tewasnya Pelda Sujono dalam peristiwa Bandar Betsi yang salahsatu tokohnya adalah Wariman. Malam harinya sekitar 5 truk masa Pemuda Rakyat yang datang kelokasi percetakan untuk membakar percetakan Mistika berhasil kami halau, namun kepada Polisi Sektor Barat yang dipimpin Ramses Sihombing, mereka melapor jika saya memimpin masa Pemuda Pancasila mengejar dan memukuli mereka seraya minta PKI dibubarkan. Saya sempat ditahan satu malam, dan kembali dijamin oleh Kosen Cokrosentono. Gerah karena saya selalu menggagalkan aksi anarkhinya, PKI kemudian menyerang saya lewat Harian Gotong Royong dan Harapan dalam karikatur Yan Paruhum Lubis –> Ucok Majestik –> Setan Kota, dengan sketsa diri saya tengah menyembah Jendral AH Nasution yang duduk dikursi kerajaan, serta disamping kanan serta kirinya dikawal Jendral A. Yani dan Jendral Sambas. Setelah hampir 4 hari menyisiri kawasan Kesawan untuk mencari kantor koran dimaksud, akhirnya saya mengobrak-abrik kantor tadi, karena tidak ada satupun yang mengaku bertanggungjawab atas pemuatan karikatur. Sejak peristiwa itu, saya terpaksa mengungsi kerumah Fendi Keling dikawasan Mandala sampai beberapa bulan menjelang meletusnya peristiwa G-30/S, karena rumah saya di Sekip-Petisah-Majestik selalu didatangi patroli polisi yang ingin memberangus saya. Ketika terjadi peralihan pemerintahan, beberapa polisi yang dulunya rutin menyatroni saya, meminta maaf atas peristiwa itu dan mengatakan untunglah saya dapat lolos dari sergapan mereka, karena atasannya saat itu memerintahkan Tembak Ditempat Ucok Majestik.

    29 September 1965 malam: Bakti Lubis di gantung dan disalib massa Pemuda Rakyat di Padang Bulan Way(kini persimpangan S. Parman), Bakti walau luka parah jiwanya berhasil diselamatkan. Sebelumnya, pagi hari saat menyambut Subandrio dilapangan Polonia Medan kami, sempat meneriakkan yel-yel Hidup Pancasila kepada Subandrio di Lapangan Udara Polonia.

    30 September – 1 Oktober 1065 terjadi peristiwa penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta.

    Setelah aksi penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta, Pemuda Pancasila yang ikut bersama-sama dengan elemen masyarakat, pemuda, pelajar dan minta agar massa PKI menyerah dan membubarkan diri, makin sering terlibat kontak fisik dengan PKI dan masanya. Saya mencatat sejak 1964 hingga akhir 1965, pengurus dan kader Pemuda Pancasila yang wafat dibantai PKI sebanyak 9 orang, Mereka yang wafat adalah: M. Nawi Harahap(diabadikan sebagai nama jalan di Medan). Nawi, ditembak Buyung Jafar saat melintasi kediaman aktifis onderbouw PKI ini dikawasan Jl. Halat. Buyung usai melakukan penembakan dengan senapan berhasil melarikan diri. Hasanuddin, tewas di kawasan Kampung Baru saat rombongan Pemuda Pancasila dicegat Pemuda Rakyat.Yusril DS tewas dibacok saat berada disekitar kawasan Glugur dekat sebuah asrama militer. Mobil Willys yang saya kenderai bersama Raja Ganyang Damanik dan Damos, kacanya pecah karena hantaman batu dan benda keras dari massa Pemuda Rakyat. Saya turun kelokasi itu karena pimpinan Pemuda Pancasila disana, Sahat Gurning minta bantuan karena massa Pemuda Pancasila dikeroyok konsentrasi massa Pemuda Rakyat didaerah itu. Abdul Rahim Siregar, tewas di Kawasan Menteng saat rombongan kami melewati kawasan ini. Kaca mobil Willys saya kembali pecah dihantam peluru senapan Pemuda Rakyat. Rustam Efendi Koto dan Suwardi, tewas diserang massa Pemuda Rakyat dikawasan Lr. Gino, dr. med. Adilin Prawiranegara dan M. Yacub, tewas saat demo ke Kampung Kolam. Dan terakhir Ibrahim Umar kader Pemuda Pancasila yang juga anggota IPTR/Aceh Sepakat tewas saat demo Konsulat RRC di Medan.

    Setelah berhasil meminta massa PKI di belakang kawasan Kebun Bunga menyerah, massa Pemuda Pancasila kembali memimpin masa yang anti Komunis untuk demo kekantor SOBSI di Jl. Padang Bulan Way(kini Sp. Iskandar Muda). Masa PKI yang lari untuk bertahan dilantai 2 gedung itu, melempari kami massa demo dengan benda keras seperti batu, kayu bahkan tombak. Dalam tawuran ini, 11 orang anggota Pemuda Pancasila mengalami luka berat dan ringan. Pimpinan masa PKI, Zakir Soobo yang melihat anggotanya dikurung rapatnya pendemo yang berada dibahagian bawah gedung, turun kelantai bawah, sambil menggigit telunjuknya yang dibengkokkan(lambang Palu dan Arit), Zakir yang pegawai Pertamanan Kota Medan dan direncanakan bakal menjadi Walikota Medan bila revolusi berhasil sempat berteriak kepada saya, “Kau pikir sudah menang kau Cok”. Zakir Soobo tewas dalam tawuran ini, sementara kantor kami duduki. Usai demo, massa PKI yang menyerah kami serahkan kepada Datuk Akhtar B dan Ramli Markam yang datang kelokasi kejadian, setelah demo selesai. Setelah itu hingga seminggu setelah demo kami berkemah digedung itu. Hamid, Wakil Ketua Pemuda Rakyat yang kami temui di Gedung SOBSI ini, malam harinya usai demo menyerahkan dokumen propaganda PKI, yang dikubur dihalaman belakang kantor. Diantara tumpukan dokumen, ada terlihat satu berkas yang berisi tulisan, -. CGMI -> VS HMI, -. Pemuda Rakyat -> VS Pemuda Pancasila, -. Gerwani -> VS Wanita Muslimin; -. Masuki lembaga pemerintahan dan partai-partai serta lancarkan politik Divide Et Impera; -. Lakukan segala cara untuk merebut kembali kekuasaan dengan merebut posisi-posisi penting birokrasi pemerintahan dan angkatan bersenjata; -. Ciptakan krisis kepercayaan kepada pemerintah, miskinkan rakyat, dan bila gagal jika terpaksa lakukan langkah penyelamatan(Strategi Survival) agar tidak hancur total. Seluruh dokumen yang disimpan dalam sebuah peti besi itu, kemudian saya serahkan kepada Kapten Datuk Akhtar B dan Letnan Ramli Markam.(versi Komnas HAM selain Zakir Soobo, tewas 2 orang penjaga kantor, dan kantor dibakar. Faktanya yang tewas adalah Zakir, sementara kantor masih ada hingga sekitar tahun 2004 jadi tidak benar terjadi pembakaran. Gedung lantas dijadikan kantor oleh beberapa organisasi seperti kantor Warakawuri, Pepabri, bahkan Perwalian Gereja Indonesia Sumut. Barulah pada akhir tahun 2004 kantor itu dipagari seng, dan beberapa tahun kemudian bangunan yang ada dalam pagar seng telah rata dengan tanah dirubuhkan pengembang)

    24 Oktober 1965: Rosiman bersama Rahmat Lubis mendatangi saya saat berada di Deli Bioskop, mereka menyampaikan bahwa Bang Fendi ingin bicara dirumahnya. Dalam pertemuan dengan Fendi di Mandala, Fendi mengatakan besok ada aksi masa ke Kampung Kolam, perkebunan terlantar yang menjadi basis para petinggi PKI, seperti Wariman(tokoh Pemuda Rakyat yang terlibat Bandar Betsi di Simalungun). Selain saya dan Fendi, terlihat beberapa teman Fendi mendampinginya, seperti Rosiman, Rahmat Lubis dan Arifin Labi-labi. Disepakati demo ke Kampung Kolam akan dilakukan lewat 3 jurusan, dengan massa dipimpin Fendi, massa yang saya pimpin, dan massa yang dipimpin tokoh masyarakat disekitar kawasan Tembung. Besok sorenya ketika berada dikawasan Kampung Kolam dan konsolidasi, kami ketahui Adlin Prawiranegara dan M. Yacub tidak ada dalam barisan. Saat konsolidasi itu, selain beberapa teman yang selalu mendampingi Fendi diatas, beberapa teman Fendi lainnya seperti Johan, Barik, Arifin, Mat Jali dan Buyung ada disekitar Fendi(namun saya tidak melihat satupun sumber Joshua Oppenheimer untuk filmnya dalam demo itu berada di Kampung Kolam). Adlin dan M. Yacub, kami temukan 5 hari kemudian setelah ditunjukkan pengurus Pemuda Rakyat yang mengetahui tempat penguburan jenazah mereka. Jenazah dibenam kedalam rawa(saat ini persis dibawah tugu peringatan Kampung Kolam). Saat ditemukan, kondisi keduanya mengenaskan karena bahagian mata dan bahagian kemaluan sudah tidak berada ditempatnya akibat penganiayaan. Jenazah keduanya, diikat dengan pemberat montik(roda spoor perkebunan untuk pengangkutan barang), lalu bahagian atasnya ditimbuni sampah, kemudian diletakkan bangkai kambing, serta ditancapkan Pohon Pisang. Massa PKI yang menyerah dalam aksi demo ini, kemudian kami serahkan kepada Letkol. RM. Soekardi yang datang bersama pasukan malam harinya setelah massa PKI menyerahkan diri.

    Setelah penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta, Radio Peking terus menyerang mereka yang anti komunis dengan berbagai hujatan, makian dan propaganda lewat siaran berbahasa Indonesia Kami yang rutin setiap malamnya menyimak sumpah serapah itu dari siaran radio di rumah Dana di Jl. Mahkamah, atau rumah Kuteh Sembiring di Jl. Padang Bulan, berkordinasi untuk mengadakan demo ke kantor Konsulat RRC di Jl. Ir. Juanda Medan. Ketika massa demo dari berbagai organisasi massa dan pemuda tiba dilokasi, pendemo tidak dapat mendekati konsulat yang telah dikawal ketat ratusan aparat militer kita. Massa kemudian dikonsentrasikan di seberang lapangan, yang berbatasan dengan jalan kecil dan dipenuhi tentara kita. Karena terus mendesak agar petisi kami diterima, tentara kita yang menjaga aksi demo kemudian berusaha menemui tentara RRC yang menjaga konsulat, dan berada dibalik pintu gerbang konsulat. Saya, Drajat Hasibuan, Parlin Pribadi Hutabarat, dan Ibrahim Umar kemudian maju mewakili kelompok masing-masing, saat tentara kita minta adanya perwakilan massa demo. “Keamanan tuan-tuan kami jamin”, begitu ucapan militer kita kepada militer RRC yang menjaga konsulat, minta dibukakan pintu untuk menerima petisi kami. Penjaga konsulat yang tidak mau membuka pintu gerbang dalam bahasa Indonesia fasih malah mengatakan, “Ini negara kami, kalau mau masuk minta izin Ketua Mao”, lalu 3 tentera RRC tadi segera bergegas melintasi halaman konsulat menuju kedalam gedung konsulat. Saya dan 3 orang lainnya yang merasa kecewa atas sikap militer RRC itu langsung memanjat gerbang konsulat untuk memasuki halaman agar petisi dapat diterima tentara RRC tadi. Beberapa langkah memasuki halaman, terdengar letusan senjata api. Sejenak kami berpandangan, lalu kami berempat bergegas untuk mencapai teras konsulat. Sekitar 5 langkah berjalan, letusan senjata api kembali terdengar. Kami langsung berjongkok, dan memastikan milter yang tadi menolak membuka gerbang ternyata n telah berada di teras konsulat dengan senapan terhunus tengah membidik kami. Merasa terancam kami segera memanjat pagar agar secepatnya keluar dari halaman konsulat. Sayup masih terdengar teriakan militer kita yang berada diluar pagar konsulat dan berteriak untuk tiarap. Saat itu seluruh tentara kita telah mengambil sikap siaga, berjongkok dengan posisi senapan keatas dan diletakkan diantara kedua lututnya, sedangkan seluruh masa demo yang berada diseberang lapangan terlihat total menidurkan diri ketanah. Parlin dan Drajat begitu sampai diluar pagar segera berbaur dengan massa diseberang lapangan yang tiarap. Sementara saya dan Ibrahim Umar yang belakangan keluar, sambil tetap berjongkok mengendap-endap berlindung dibalik pepohonan yang berada didepan pintu gerbang. Lalu kembali terdengar bunyi letusan senjata untuk yang ketiga kalinya. Setelah tembakan usai saya menoleh kepada Ibrahim yang berada disebelah saya, terlihat dia seperti bersujud-tafakkur. Agak lama saya perhatikan kondisinya itu, karena saya pikir dia masih ketakutan akibat bunyi letusan 3 tembakan tadi. Setelah diperhatikan lagi, saya melihat ada cairan putih keluar dari hidungnya, seperti orang terkena flu. Karena tetap tak bergerak, Ibrahim saya angkat, saat itulah saya baru melihat ada luka menganga dihagian belakang kepala searah dengan hidung yang mengeluarkan cairan putih tadi. Barulah saya tersadar jika Ibrahim telah Syahid, lantas saya teriakkan “motor”, minta bantuan agar Ibrahim Umar dibawa mobil kerumah sakit. Masa yang kemudian histeris akibat kejadian itu meneriakkan “Ganyang Cina”, kemudian bergerak menuju kelapangan Polonia Medan. Akibatnya 2 etnik turunan yang baru keluar dari Lapangan Udara Polonia jadi korban amuk massa, saat itulah militer penjaga Polonia yang berusaha membubarkan kerumunan massa mengatakan, “Ini warganegara Malaysia, bubar…bubar…!”. Akibat insiden ini Fendi Keling sempat ditanya Bung Karno dan dianggap rasis, tapi Fendi mengatakan anggota Pemuda Pancasila bermacam etnis dan suku, jadi kejadian itu bukan rasis, spontan akibat tewasnya Ibrahim Umar diterjang militer penjaga Konsulat RRC.

    Sebenarnya, sebelum bertemu dengan seluruh narasumbernya dalam The Act of Killing, Joshua sempat beberapa kali tanpa lelah berkunjung kekediaman saya, dia menginformasikan dari Partai Buruh diluar negeri yang jadi sumbernya, hanya ada 2 nama yang dapat dimintai keterangan yakni Fendi Keling dan Ucok Majestik. Kepada saya Joshua mengiming-imingi akan dibuatkan film tentang heroisme sejarah penumpasan PKI di Sumatra Utara, khususnya peristiwa Demo Kampung Kolam dengan tema Samson dan Delilah. Saya menjawab, jika ingin membuat film jangan khusus Demo Kampung Kolam, tapi ringkasan berdirinya Pemuda Pancasila di Sumut dan Medan hingga terjadinya aksi massa minta pembubaran PKI dengan puncaknya Demo Kampung Kolam. Karena saya tetap ngotot kepada syarat itu, Joshua tidak berani lagi muncul dan beralih kepada para sumber yang keterangannya dijadikan Film The Act of Killing(dalam situsnya The Act of Killing, sumber Joshua berdalih saya minta bayaran yang cukup mahal, sebuah kilah yang tidak dapat diterima akal tentang kegagalannya mendapatkan keterangan saya. Bila melihat kemampuan Joshua selama beberapa tahun di Medan, termasuk menggiring para sumbernya untuk diwawancarai TV lokal). Dan itu membuktikan jika sejak awal pembuatan filmnya, Joshua hanya ingin membuat propaganda tentang Pembantaian Massal dan Pelanggaran HAM, bukan ingin mengangkat kondisi nyata yang terjadi saat itu. Faktanya, Joshua telah berhasil mendapatkan narasumber utama(mahkota), yakni saya H. Yan Paruhum Lubis, tapi karena keterangan saya tidak sesuai selera propagandanya. Joshua kemudian beralih kepada sumber-sumber lain, yang bercampur imajinasi, diragukan keberadaan dan eksistensi serta kemampuan untuk mengingat sejarah awal Pemuda Pancasila Kota Medan dan Sumatra Utara, ataupun rentetan peristiwa yang terjadi kala itu.

    Fakta dan data-data yang yang jadi pengalaman hidup dan telah saya jalani ini, terjadi jauh sebelum peralihan pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru, jika ada pemikiran yang menganggap saya ataupun mereka yang menentang komunis adalah korban propaganda Orde Baru. Rasanya perlu dilakukan penelitian ulang, dengan berkunjung ke Sumatra Utara dan Kota Medan. Saat ini banyak yang bicara pentingnya menjaga 4 Pilar Kebangsaan; NKRI Harga Mati; dst. Padahal sebelumnya kami Pemuda Pancasila sudah berkorban dan mati untuk itu. Itulah fakta sejarah, bukan propaganda Orde Baru. Termasuk dokumen yang saya peroleh dari tangan Hamid, seluruhnya fakta. Jika Majalah Tempo dan group medianya dapat menembus dokumen-dokumen yang dulunya saya serahkan kepada militer, lebih baik hal itu difinalkan agar dapat menembusnya, daripada memuat analisa-analisa dan propaganda mereka yang sama sekali tidak berada dilapangan saat itu, namun bicara atas kepentingan sesaat semata jadi alat propaganda dengan menjual HAM atau Pembantaian Massal.

    Overste Maliki, Komandan Brigif VII Rimba Raya, saat saya kunjungi di tahanan Sukamulia, dan berada dalam satu ruangan dengan Jalaluddin Yusuf Nasution-Paris Pardede(SOBSI Sumut), Maruli Siahaan, dan tokoh-tokoh lain, dengan latar belakang Palu Arit yang mereka gambar dalam ruangan tahanan sambil menunjukkan telunjuknya yang dibengkokkan(simbol Palu Arit)meneriakkan kepada saya, “Kau pikir sudah menang, Cok”, perkataan yang sama persis dengan ucapan Zakir Soobo saat digedung SOBSI-Iskandar Muda. Itu menunjukkan Pemuda Pancasila adalah musuh abadi Komunis. Segaris bila bila melihat historis sejarah Ratu Aminah Hidayat-Jendral AH Nasution-IPKI dan Pemuda Pancasila.

    Saya sarankan untuk dapat mencatat kondisi masyarakat Sumatra Utara khususnya Kota Medan ketika bangkit bersatu melawan Komunis, Redaksi Majalah Tempo harus menengok kebelakang, bukan hanya kepada Peristiwa Muso di Madiun, tapi jauh sebelum itu yakni Revolusi Sosial di Sumatra Timur, yang berakibat tewasnya tokoh-tokoh masyarakat, termasuk Amir Hamzah yang disebut Komunis adalah kelompok feodal.

    Pengalaman hidup yang terpaksa saya ungkap kepada Majalah Tempo untuk menghadapi propaganda Joshua Oppenheimer, mengingatkan saya meskipun PKI telah bubar tapi Komunis dan syahwatnya untuk berkuasa meskipun lewat merebut kekuasaan, tidak pernah mati di republik ini. Hal itu pula yang menjawab, mengapa saya sempat ditahan Overste Maliki saat dia masih menjadi Komandan Brigif VII Rimba Raya, atau mengapa saya ditahan Gubernur saat itu Brigjen Ulung Sitepu, hanya karena saya mendemo beliau terkait masalah anggaran kakus(dimasa itu ada proyek toilet umum di Pusat Pasar, dimana anggarannya habis namun toiletnya tak pernah ada). Seminggu saya ditahan atas perintah Ulung Sitepu, dan baru bebas setelah Alm. Kosen Cokrosentono yang mengajar tentang Idiologi Pancasila di kantor-kantor militer dan sipil di era Orde Lama itu menjamin dan membebaskan saya. Belakangan baru ketahuan jika Ulung adalah kader Komunis di Sumatra Utara, dan itu menjawab mengapa dia begitu benci kepada saya. Jadi tolong direnungkan, bagaimana bisa santai bila soal idiologi, apalagi bila idiologi itu Komunis. Karena saya dan kawan-kawan telah menjalani masa-masa sulit dan pahit itu.

    Jika Joshua berdasarkan imajinasinya dan imajinasi sumbernya menganggap Pemuda Pancasila adalah alat dari militer, dapat saya kemukan pengalaman saat terjadi kerusuhan yang dikenal dengan “Peristiwa Golden” di Medan. Insiden ini oleh seorang tokoh di Jakarta beberapa tahun lalu ditulis dalam memoarnya dengan menyebutkan saya mati dalam peristiwa itu hingga munculah sosok Olo Panggabean. Dan saya bersyukur, dapat menuntaskan kesalahpahaman itu dengan penulis bukunya secara kekeluargaan. Dan saya menjelaskan, bukan hanya Olo, bahkan seluruh keluarganya yang lain berhubungan baik dengan saya, jadi darimana saya bisa bentrok dengan adik-adik saya itu di Sekip. Dapat saya informasikan, dalam “Peristiwa Golden” ini, beberapa tokoh Pemuda Pancasila bahkan sempat ditahan di Penjara Jl. Gandhi. Tidak ada seorangpun yang dapat menuntaskan masalah itu, hingga kawan-kawan, adik-adik saya di Pemuda Pancasila dalam era Orde Baru ini, harus mendekam dalam tahanan hingga sakit. Saya dan beberapa teman lain yang mengetahui peristiwa tadi kemudian menghadap Raja Inal Siregar ketika itu Kasdam I/BB. Saat itu Raja dihadapan saya, Zulkarnain Rospati, Amril YS, Husni Malik setengah menghardik mengatakan, “Jangan diurus itu, hanya membuat onar dan kerusuhan saja”. Raja lalu agak melunak dan sedikit merubah sikapnya ketika saya katakan, “Janganlah begitu, PKI saja diampuni”. Dan setelah itu atas saran Raja diadakanlah perjanjian antara teman-teman tadi dengan Olo Panggabean di Kodim Medan dengan konsekwensi siapa yang memulai lebih dahulu akan diambil tindakan secara hukum. Kejadian ini dapat menginformasikan bahwa jika benar ada kolaborasi antara militer dengan Pemuda Pancasila, khususnya dalam propaganda Joshua Oppenheimer yang penuh imajinasi dirinya dan para sumbernya tentang Pembantaian Massal itu(benang merah militer dan Pemuda Pancasila). Tentunya kawan-kawan pengurus Pemuda Pancasila tadi tidak perlu mendekam sampai sakit di Jl. Gandhi dalam peristiwa sekitar tahun 1983-1984 itu.

    Dari kronologis yang saya paparkan, Redaksi Majalah Tempo kiranya mendapat gambaran utuh kondisi yang terjadi. Dan jangan berdalih, berdasarkan pengakuan seseorang ataupun para sumber Joshua dalam Filmnya The Act of Killing. Apalagi yang disiarkan dalam pemberitaan adalah utuh tanpa samaran penulisan nama organisasi Pemuda Pancasila dan keberadaan panggung bioskop saat itu, dua dunia yang saya geluti saat itu.

    Saya tekankan, sebagai Pinisepuh Pemuda Pancasila, dan satu-satunya pendiri Pemuda Pancasila di Sumut dan Kota Medan yang masih hidup, selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY Efendi Nasution, keterangan ataupun pengakuan sumber Joshua bertolak belakang, tidak objektif, bias, dan tidak sejalan ataupun persis dengan pengalaman hidup yang saya jalani, sejak ikut mendirikan Pemuda Pancasila Sumut, Kubu Pancasila Sumut dan Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Terakhir saya hanya mengingatkan Redaksi Majalah Tempo, jika terkait idiologi khususnya Komunis, bagaimana bisa santai saja. 9 orang pengurus dan kader Pemuda Pancasila tewas dibantai Komunis, diluar para ulama dan tokoh masyarakat di Sumatra Utara.

    Atas kerjasama Redaksi Majalah Tempo dan group medianya memuat Hak Jawab dan Bantahan ini saya ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan demokrasi yang kita bangun bersama setelah era reformasi, dapat kita jaga bersama untuk Indonesia yang lebih baik dimasa mendatang. Semoga……..

    Hormat Saya

    H. Yan Paruhum Lubis
    alias Ucok Majestik

    ( )
    Tembusan:
    1. Dewan Pers di Jakarta
    2. KOMNAS HAM di Jakarta
    3. Komisi Penyiaran di Jakarta
    4. Komisi Informasi di Jakarta
    5. Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila di Jakarta
    6. Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasia Sumatra Utara di Medan
    7. Pimpinan Redaksi Media Massa Cetak dan Elektronik baik Lokal dan Nasional di Jakarta dan Medan
    8. Pertinggal.

  5. kontol kali kau lae,bujang inam ma,pepek mamamu.

  6. Ada foto olonya gk bg?? Penasaran.. Cuman tau namanya tp gk tau orangnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: