Akibat Jual Beli dan Alih Fungsi, Hutan Bakau di Gebang Terancam Punah


Stabat

Ratusan hektare hutan mangrove (bakau) di Desa Pasar Rawa Kecamatan Gebang terancam punah, di duga akibat alih fungsi lahan. Pengalihan disebut-sebut, karena jual beli lahan dilakukan sekelompok orang.

Parahnya lagi, pihak yang bertindak sebagai makelar dalam pengalihan fungsi lahan disebut-sebut melibatkan aparatur desa setempat. Dengan modus, memberikan Surat Keterangan Tanah (SKT) kepada warga, guna diperjual belikan.

Hal ini sangat disayangkan, karena sesuai Surat Edaran Bupati Langkat pada 4 Oktober 1988 No593-7172/Pem/1988 tentang prihal larangan bagi kepala kecamatan dan kepala desa/lurah untuk mengeluarkan SKT, sebagai alas hak atas kepemilikan sebidang tanah.

Hal itu, dikuatkan lagi dengan intruksi Bupati Langkat No593-1254 Tahun 2008 tentang penghentian kegiatan alih fungsi lahan pada wilayah pesisir Kab Langkat yang ditujukan kepada seluruh kepala kecamatan yang berada di daerah pesisir pantai.

Menyikapi itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Team Operasional Penindakan Penyelamatan Aset Negara Republik Indonesia (Toppan-RI) melalui direktur eksekutif M Rusli Sinaga mengatakan, akan mengadukan hal itu ke Bupati Langkat dengan berbagai tembusan melalui surat No091/TOPPAN-RI/Lkt/V/2009.

“Kita meminta bupati serta instansi terkait, untuk menindak lanjuti persoalan alih fungsi lahan dimaksud. Karena, sudah merusak eksositim biota laut pesisir pantai dan melanggar UU No41/99 tentang kehutanan, Bab I Pasal 50 ayat 3 huruf a,b,c,f dan k,”kata Rusli kepada wartawan di Stabat, Kamis (28/5).

Rusli menyebutkan, pengalihan fungsi lahan hutan bakau terjadi belum lama ini. Makanya, pemerintah harus mengusut siapa saja diantara aparatur yang terlibat, karena ganti rugi lahan tersebut berlangsung saat kepala desa dijabat Sainun.

Terkait hal itu, Kades Pasar Rawa Kecamatan Gebang Sainun ketika dikonfirmasi wartawan melalui telepon selularnya membantah, jual beli atau ganti rugi seperti dimaksud berjalan ketika masa tugasnya sebagai Kades.

“Saya gak tahu dengan jual beli atau ganti rugi itu, karena terjadi ketika Usman Safari sebagai Kadesnya. Kalau mau jelasnya tentang lahan-lahan itu, silakan tanyakan ke pak Usman,” ungkap Sainun.
Ketika ditanyakan tentang daftar 75 nama warga, yang tanahnya dialihkan ke PT Perdana Sakti Gema Lestari di masa jabatan Sainun sebagai pelaksana Kades, lagi-lagi Sainun mengaku hal itu hanya sebagai pendataan.

Padahal, dalam surat tertera tanggal 3 Agustus 2007 dilampirkan saksi-saksi berjumlah empat warga masing-masing Subari, Lilis Suryani, Paidi dan Agusrianto dan menerakan tanda tangan serta stempel Camat Gebang, Nanang Hadi Irawan S Sos.

Salah seorang tokoh masyarakat Gebang, Dony Syahputra, juga disebut-sebut terlibat dalam jual beli alih fungsi lahan ketika dikonfirmasi ke telepon genggamnya juga membantah.
“Saya, tak tahu sedikitpun dan tidak terlibat dalam jual beli itu,”tandas Ketua KNPI Kecamatan Gebang.( )

5 Tanggapan

  1. […] View original post here: Akibat Jual Beli dan Alih Fungsi, Hutan Bakau di Gebang Terancam … […]

  2. Huh…dimana-mana sama saja para pejabat ini ya ? 🙂

  3. Wuoh gitu ya? Laporin Greenpeace!

  4. hmmm
    ternyata semuanya sma aja

    pejawat gak becusssssss

  5. hutan kok kayak kacang goreng ya..hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: