Masa Akhir Pemerintahan Syamsul Arifin di Langkat. 101 Milyar Uang Negara Amblas


Sumber : antarasumut.com

Medan, 30/4 (www.antarasumut.com).- Ada kabar tak sedap dari Kabupaten Langkat, Sumut, yang benar-benar mengejutkan. Hasil audit tim Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menjelang akhir tahun 2008 menunjukkan, sekitar Rp 100 milyar uang kas Pemkab Langkat lenyap. Jika hasil pemeriksaan itu benar, berarti kebobolan itu terjadi ketika H. Syamsul Arifin SE, yang kini memangku jabatan Gubernur Sumut, memegang tampuk kekuasaan di kabupaten tersebut. Syamsul berjaya menjadi Bupati Langkat selama dua periode.

Syamsul Arifin, mantan Bupati langkat dua periode yang kini menjabat Gubsu

Syamsul Arifin, mantan Bupati langkat dua periode yang kini menjabat Gubsu

Sebenarnya kasus ini sudah lama tersibak, akan tetapi karena dikemas dengan rapi, sehingga nyaris tak tercium khalayak. Konon kabarnya Wakil Bupati H.A. Yunus Saragih yang kemudian dinobatkan menjadi bupati, sehubungan dengan naiknya Syamsul menjadi Gubsu, kebingungan memutar roda pemerintahan dan pembangunan, karena kas kosong. Akibatnya, ia pun melaksanakan tugas dengan apa adanya, dan sempat kepayahan mengeluarkan dana untuk belanja rutin.

Kasus ini dipercaya menjadi batu sandungan bagi Syamsul, yang kini memang sedang dililit banyak masalah, di antaranya keabsyahan surat keterangan tamat SMEA, yang masuk ke pengadilan, tapi anehnya dalam perkara perdata. Kasus lain lazimnya akan bermunculan, jika kelak perkara Syamsul sempat ditangani KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Hal tersebut berdampak buruk, karena akan memaksa Syamsul harus hengkang dari posisinya yang sekarang.

Yunus Saragih sebenarnya telah memberikan aba-aba tentang amblasnya isi kas pemkab tersebut. Dalam acara penglepasan jabatan bupati sehubungan dengan terpilihnya Ngogesa Sitepu menjadi Bupati Langkat. Yunus mengungkapkan, selama memangku jabatan bupati, ia tidak menggunakan dana pemerintah karena kas kosong melompong. Ia terpaksa merangkul pihak swasta untuk membantu menghimpun dana.

Memang Syamsul piawai bermain. Tetapi harapan selalu beda dengan kenyataan. Dalam kampanye pemilihan bupati Langkat yang lalu, Syamsul terang-terangan menggiring massa untuk memilih Asril Naim. Sosok ini adalah PNS dengan jabatan terakhir yakni Kepala Dinas Pendapatan Pemkab Langkat. Syamsul sangat berharap agar Asril terpilih, sehingga kas pemkab yang sempat kosong melompong, tidak sampai terkuak ke permukaan. Tapi dalam Pilbup putaran ke-2 Asril kalah dan Ngogesa Sitepu yang keluar sebagai pemenang.

Di berbagai kawasan pemilihan, tim sukses (TS) Asril tampak sibuk membagi-bagikan beras, tapi isu yang berkembang sulit dihempang. Isu tersebut, entah siapa yang melepaskannya, menyebutkan, Asril mendapat dukungan dana dari “bandar judi”. Akibatnya warga pun enggan mencoblos namanya, walau pun sempat menerima sumbangan beras. Harapan Syamsul pun kandas total, karena sosok yang diandalkannya, kalah dalam pemilihan.

Syamsul memang kesohor dermawan. Sering mengantongi uang dan kemudian membagi-bagikannya pada orang-orang yang dijumpainya, termasuk anak-anak.
Menjelang pilgubsu yang lalu, di kediamannya di Jalan STM Kampung Baru, puluhan orang terutama masyarakat papan bawah, setiap hari antri di jalan masuk depan rumahnya mengharapkan sumbangan. Di antara yang antri itu ada juga sosok wartawan yang memang sudah kenal baik Syamsul.

Demikian juga ketika Syamsul berkantor di kantor Gubsu, ada saja yang antri menunggu sumbangannya. Biasanya mereka tidak pernah kecewa, walau pun besar kecilnya sumbangan itu bervariasi. Tidak jelas dari mana sumber keuangan itu sehingga Syamsul seperti sinterklas dengan seenaknya membagi-bagikan hadiah. Kini ketika kasus kosongnya kas Pemkab Langkat itu terkuak ke permukaan dan menjadi pergunjingan warga di kabupaten tersebut, mereka yang pernah antri menunggu sumbangan Syamsul, kelimpungan karena malu hati.

Cerita lainnya mengungkapkan, Syamsul secara khusus pernah menemui Ngogesa dengan mengatakan, bertanggung jawab atas kebocoran kas Pemkab Langkat. Bahkan Syamsul menjanjikan, siap untuk mengembalikanm dana yang lenyap itu.
Seperti syair sebuah lagu, ternyata janji itu tinggal janji. Ngogesa kepayahan memutar roda pemerintahana dan pembangunan karena kas kosong. Banyak proyek yang diprogramkan, tidak dapat dilaksanakan, karena kas masih kosong melompong. Untuk tahun anggaran 2009 ini, dananya juga belum masuk sepenuhnya.

Masyarakat mengharapkan, agar kasus ini diusut dengan tuntas, sehingga masyarakat tidak tersilaukan dengan kedermawanan Syamsul. Instansi yang paling cepat menangani kasus korupsi ini yakni KPK, karena dapat langsung bertindak tanpa perlu menunggu izin presiden untuk memeriksa seorang gubernur.
Syamsul tampaknya membutuhkan seorang ahli keuangan, sehingga tidak gampang mengucurkan sumbangan, yang ternyata menyebabkan bobolnya kas pemkab Langkat. (R01MOS).-

2 Tanggapan

  1. Saat pemilihan, aku sama sekali tak memilih wlo wagub nya dr PKS. karena samsul memang tak pantas jadi gubernur. moga kasus nya cepet diselidiki. AMIN

    To Sarah : Tapi sangat sedikit orang di Sumut ini yang punya pemikiran seperti Mbak Sarah. Trims ya atas kunjungan dan commentnya. salam

  2. samsul arifin itu tak benar jadi gubsu sebap semenjak menjabat menjadi bupati stabat kasusnya banyak sekali.

    To Sdr. Ade Putra : “Sepengetahuan kami juga gitu, tapi apa mau dibilang, masyarakat sumut begitu antusias mendukungnya saat pilgubsu lalu. Nasi telah jadi bubur, si tukang kombur itu sekarang telah menjadi gubernur. trims atas kunjungan dan commentnya. salam”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: