Debat Cawapres Putaran II: JAGALAH AGAR TIDAK PECAH KONGSI


sumber : ‘nBasis
Inilah hasil dari sebuah interaksi sosial politik yang melukiskan pencarian identitas sebuah bangsa. Di satu pihak masyarakat menuntut kandidat Presiden dan Wakil “berkelahi” untuk ditonton. Di pihak lain selera yang semakin rendah itu sesungguhnya telah menjauhkah rakyat dari visi masa depan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menyebabkan terbangunnya model seleksi kepemimpinan nasional yang akan selalu memberi jalan mudah bagi kemenangan figur yang paling lihai dalam memainkan peran “lain yang difikirkan, lain yang diucapkan dan lain pula yang dikerjakan”.

HANYA Mohammad Ali lah seorang petarung di panggung penjagalan yang mampu mengakomodasi dua hal yang bertentangan sekaligus pada saat bersamaan —menghabisi lawan tanding di atas ring dan memuaskan penonton yang haus hiburan. Meski sebagai legenda jagal di atas ring sepanjang masa, Mohammad Ali adalah news maker yang pintar, cermat, dan efektif serta intimidator ulung yang menjengkali semua lawan-lawannya dengan kata-kata melemahkan hingga merasa tak berdaya di hadapannya. Ia beda dengan dua petarung yang pernah mengalahkannya Joe Freizer, George Foreman. Ia juga bukan Tyson yang kekuatan tinjunya luar biasa, di atas rata-rata.

Kali ini sudah semakin sukar membutiri hal baru yang perlu dicatat dari ketiga Cawapres. Apalagi ada hasrat yang tinggi untuk lebih memikirkan seni berdebat, memainkan kata-kata. Semakin tak penting pokok pikiran. Sadar bahwa jutaan mata sedang memirsa, ketiga cawapres terkesan safety first menyembunyikan jawaban-jabawan tangkas untuk mengedepankan jawaban yang populis, meski akhirnya terasa menjadi tidak rasional. Ini persis perjalanan pemerintahan SBY yang tidak rasional tetapi populis dan amat cocok untuk bangsa yang hak-haknya terampas tanpa sadar.

Pada posisi menyuarakan hal terakhir itulah Prabowo Subianto berada dan tetap mempertahankan diri dengan keberanian mengambil resiko. Itulah satu-satunya misi buat dia: memulangkan martabat dan harga diri bangsa yang sudah melayang entah kemana. Indonesia tidak usah mengarang tentang persentase alokasi anggaran untuk ini dan untuk itu. Itu kalkulasi kosong belaka. Hal-hal kecil itu pastilah akan selesai dengan sendirinya jika bangsa ini memiliki kembali uangnya sendiri yang dirampas orang lain atau yang diserahkan oleh policy negara ini kepada orang lain.

Katakanlah seseorang mampu menghitung uang sampai digit tak terhingga, tetapi apalah jadinya jika ia sendiri tidak mampu menciptakan uang itu sendiri? Itulah analogi Indonesia kini buat Prabowo: seorang akuntan yang tak punya duit. Tugas Prabowo mengisi APBN, bukan membagi-bagi APBN dalam persentase orang-orang sekolahan.

Indonesia, dalam persepsi Prabowo Subianto, harus secara radikal merubah posisi dan peran: menjadi toke atau sekalian menjadi The King. Itu pantas didapatkannya. Hutangnya (Indonesia) memang banyak, tetapi diplomasi internasional akan dilakukan untuk rescheduling, dan anggaran pembayaran utang itu akan diberi leading strategis dan teknis kepada negara pemberi pinjaman untuk diinvestasikan di sini juga.

Di luar Ring

Dari beberapa tempat Indonesia dapat menikmati debat-debat penggembira di antara para tim kampanye yang disiarkan oleh saluran tv. Cakap bernada sombong dan terkadang penuh fallacy sering menjadi andalan orang-orang yang dipasang SBY-BUDIONO. Tanpa sadar, hampir untuk semua diskusi dan perdebatan segitiga ini, orang-orang SBY-BUDIONO itu selalu dalam posisi pengudang reaksi pemosisian diri sebagai common enemy, tidak saja karena fakta sebagai incumbent.

Bagi MEGA-PRABOWO dan JK-WIRANTO terdapat kendala waktu. Untuk semua usaha keras nereka meruntuhkan image incumbent, sungguh tidak cukup waktu untuk membuat rakyat menjadi faham atas hutang-hutang jatidiri bangsa saat ini. Indonesia ini luas sekali, kampanye beberapa minggu tidak sampai mendemamkan pelosok, hanya memeriahkan media massa dan komunitas-komunitas tertentu di berbagai kantong pemukiman. Itu pun berbiaya mahal sekali.

Terasakah sampai kini bahwa satu-satunya harapan buat MEGA-PRABOWO dan JK-WIRANTO ialah bersepakat untuk sebuah platform moral dan politik untuk legowo menjadi wakil bagi yang lain dari berharapan dengan SBY-BUDIONO pada babak kedua? Platform moral dan politik itu pun wajib mencakup bangunan koalisi permanent untuk oposisi. Agenda oposisi mereka tidak terbatas pada telaahan kritis dan penolakan semua kebijakan yang bertentangan dengan visi strategis mereka, dan bahkan menjatuhkan pemerintahan itu secara konstitusional untuk mereka gantikan. Itu tetap sehat dan konstitusi mengaturnya dengan baik. Dengan begitulah Indonesia bisa lebih baik, karena kebijakan pemerintahannya akan benar-benar pro rakyat, lebih cepat untuk lebih baik dan secara eklektif melanjutkan hanya yang baik-baik. Oleh karena itu jagalah agar tidak sampai pecah kongsi.

Di lain pihak, tentu pemerintahan manapun tidak ada yang rela dijatuhkan, oleh karena itu ia berbuat sungguh-sungguh untuk rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: