KISAH PONARI SANG PENYELAMAT INDONESIA (Catatan Kecil Dari Debat Cawapres Putaran II)


Sumber : ‘nBasis

Do you still remember of Ponari story? Ponari is one of contemporary unlucky and hopless of Indonesian boys. Although finally may be he got the bright future by some kind of magical factor or, let say, a syncretism way happened to him, it doesnt mean that something done of making sense in fact. Normally, people like him absolutely cannot stand on his own feet and absolutely its will be an only small sign of the total history of this country and will be forgetten soon. So can anybody calculate what kind of Indonesia future will be better, more than everybody can say easily? I am afraid Indonesia will goes no where and everybody only can hope God blessed.

Ponari si Bocah Ajaib

Ponari si Bocah Ajaib

PONARI namaku: Mohammad Ponari. Umurku baru sembilan tahun. Rumahku di Indonesia, di Jawa. Aku orang Jawa, Indonesia. Keluarga kami keluarga miskin. Kehidupan begitu susah buat kami, hingga pada suatu hari aku nyaris tersambar petir yang meninggalkan sebongkah kecil batu ajaib. Aku selamat dari bahaya itu sekaligus beruntung karena ternyata batu itu membuatku jadi sakti. Itulah titik awal perubahan hidup keluarga kami.

Bongkahan batu kecil itulah Ponari kini. Akulah batu itu. Batu itulah aku. Di tanganku tergantung nasib (kesehatan) banyak orang. Tak dapat kuhitung berapa banyak orang yang datang meminta jasaku. Ada lurah, ada tentara, ada camat, ada politisi, ada dokter. Mereka sakit semua dan meminta untuk kusembuhkan.

Keletihanku sering hilang dengan sendirinya saat menyaksikan banyaknya orang sakit tak punya uang dan ingin sembuh. Berjubel, ya berjubel. Mereka datang dari mana-mana. Aku baru tahu kampung bernama Kalimantan. Aku baru tahu ada nama kampung Bali. Ada Sulawesi. Ada Sumatera. Semua itu aku tahu karena mereka yang datang menyebut berasal dari kampung-kampung yang jauh itu. Aku makin bersemangat, karena kutahu Gusti Alloh juga senang kepadaku.

Beberapa ingin mencoba mereplika keberuntunganku, dan kandas. Aku orang terpilih. Jangan tanya kenapa. Gusti Alloh senang kepadaku. Kalau perlu kuobati mereka yang ngaku-ngaku punya batu sakti seperti aku. Mereka pasti sakit, sama seperti para dokter yang bekerja untuk kaya. Bukan untuk menyembuhkan yang sakit seperti ibu Prita itu.

Sekarang uangku (keluarga kami) sudah banyak. Ibuku rewel kepada bapakku soal dimana mau menyimpan uang. Selama ini di bawah bantal cukup aman. Sekarang uang kami sudah lebih besar tumpukannya dari 10 bantal. Buaaaanyak sekali. Kami tak perlu lagi raskin. Tak perlu lagi BLT. Sawah kami biar dikerjakan oleh pak lek Tono dan Bu lek Iyem.

Satu saat aku akan datang ke rumah pemerintah. Aku tak tahu, dia baik hati kepada keluarga kami. Kata teman-temanku pemerintah itu rumahnya di Jakarta. Kalau nanti pasien agak sepi, aku mau ajak ibu dan bapak ke rumah pemerintah itu untuk mengucapkan terimakasih karena waktu susah kami diberinya raskin dan BLT.

Aku sudah dibelikan hand phone. Nyaris tak ada dering panggilan. Memang mengasyikkan sekali ada mainan dalam hand phone itu. Aku baru tahu. Bajuku banyak yang baru dibeli. Sepatu juga bagus dan mahal. Rumah kami sudah diperbaiki Ada mainan yang selama ini kudamba, Play station. Teman-temanku si Ucup, Si Goti, Si Krendit dan yang lain boleh gentian main.

Gusti Alloh, mohon restu dan ridhomu aku menjadi Presiden Indonesia nanti setelah aku dewasa. Akan kuobati seluruh rakyatku sembuh semua. Tidak ada yang sakit lagi. Tidak perlu bayar mahal, tidak perlu banyak-banyak dokter. Tidak perlu banyak-banyak rumah sakit. Tidak perlu ibu Prita ditahan Jaksa dan masuk pengadilan karena mengeluh tak diobati di rumah sakit. Jangan Tanya kenapa. Aku cuma ingin membuat rakyatku makmur. Uangku banyak, tak perlu mencuri.

Gusti Alloh, restui aku jadi Presiden Indonesia. Kumohon ridhomu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: