Jerit Gadis 14 Tahun Korban Amoral Pria Beristri, Aku Dicabuli Ibuku Dipenjarakan


sumber : Pos Metro Medan

Sabtu, 27 Juni 2009
BRANDAN-“DIMANAKAH keadilan itu? Saya yang dicabuli 7 kali, tapi laporan saya tak ditanggapi polisi. Justru laporan pelaku yang ditanggapi, ibu saya ditangkap dan dipenjarakan polisi. Beginikah nasib orang miskin di mata hukum”

Kalimat dan kenyataan pahit itu menimpa Nur (14), gadis malang asal Kecamatan Babalan, Langkat yang tujuh kali disangka dicabuli Khairul (32), pria beristri warga Desa Teluk Meku, Dusun II Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, Langkat. Betapa tidak, meski sudah mengadu ke Polsek Brandan sebulan lalu. Tapi, hingga kemarin laporan gadis malang itu tak ditanggapi polisi.

Ironisnya, polisi yang kala itu menerima laporan itu malah mengolok-olok Nur. Dengan ketusnya petugas itu mengatakan kalau seorang laki-laki sudah biasa jajan alias beli nasi bungkus. “Alah Buk, biasanya tuh kalau laki-laki jajan,” bilang polisi mementahkan pengaduan korban yang kala itu datang didampingi ibunya. Tidak tanggapnya petugas Polres Langkat atas kasus ini terbukti dengan lambanya kasus ini berjalan. “Kejadianya tanggal 23 Desember 2008 Bang, “ ujar Nur saat curhat ke POSMETRO MEDAN, kemarin (26/6).

Diceritakan Nur, insidend itu berawal dari kepergianya mengikuti pengajian (wirit) Remaja Masjid di lingkunganya. Waktu itu, jam telah menunjukkan pukul 19.10 Wib, sambil berjalan sedikit tergopoh-gopoh, Nur melangkah menuju Masjid tempat akan digelarnya pengajian. Namun, di tengah jalan, tiba-tiba langkah Nur dicegat Santi (19) yang saat itu mengendarai sepeda motor Yamaha Zupiter warna biru.

“Nur, mau ke mana kau, kita jalan-jalan bentar yuk ke sana. Aku ada perlulah, nanti kau kuantar ke Masjid,” bilang Santi mengajak Nur kala itu. Tanpa curiga sedikitpun, Nur manut saja dan langsung naik ke atas sepeda motor Santi. Tapi di tengah perjalanan, Nur sempat bertanya perihal tujuan mereka. “Kak, kita mau ke mana rupanya,” tanya Nur. “Udah sebentar aja, kita jumpai Khairul dulu,” hardik Santi sambil memacu laju sepeda motornya.

Tak lama kemudian, keduanya tiba di Simpang Paluh Punggur. Ternyata di simpang gelap itu Khairul dan temanya Sahminan alias Inan sudah menungu. “Kau tunggu di sini, ya dek,” ujar Santi menyuruh Nur menemani Khairul. Tak berapa lama Khairul lantas ngajak Nur naik sepeda motor tarik tiga dengan Inan.

Singkat cerita, usai ngantar Inan ke rumahnya. Nur langsung diboyong Khairul ke kawasan pondok paluh jabu. Dan di pondok inilah petaka bermula. Di pondok itulah kesucian Nur terenggut. “ Setelah makan permen itu, badanku lemas seperti tak bertulang dan kepalaku pun pusing. Aku memang sadar waktu dia (pelaku) membuka celanaku dan menindih tubuhku, tapi aku ngak bisa melawan, untuk menggerakan tangan saja aku nggak bisa. Aku lemas kali, yang pasti aku menangis sejadi-jadinya saat itu,” ketus Nur.

Puas melampiaskan nafsunya, Khairul pun duduk tersandar di tiang pondok sambil berkeluh kesah kepada korban perihal kehidupan rumah tangganya dengan mengatakan akan bertangung jawab atas apa yang terjadi. “ Aku akan tanggung jawab, kau jangan takut, tenang aja ya. Biar kau tau, selama ini aku nggak pernah dibuat senang sama istriku. Istriku Cuma tahu minta uang saja, tapi nggak pernah mengurus aku, kalau kau memang mau menikah denganku, akan kuceraikan istriku itu,” Khairul kala itu seraya berjanji akan membelikan Nur handphone.

Janji manis Khairul untuk menanggung jawapi perbuatanya, sedikit menyejukkan hati Nur. Begitulah, selang beberapa jam di pondok, sekitar pukul 23.20 WIB, Santi datang menjemput Nur. Sejak kejadian itu, Khairul sering menemui Nur. Bahkan, tiap malam Kamis dan Minggu, pria yang berprofesi sebagai pedagang telor itu selalu datang menjemput Nur. “Kalau nngak salah kami melakukan hubungan suami istri sebanyak tujuh kali, dan dia selalu berjanji akan menikahi saya. Tapi kenyataanya dia malah ingkar janji, belakangan istri pelaku Bariah alias Iyek datang menyerang keluarga saya dengan mengatakan kalau saya lonte yang suka menganggu suami orang,” beber Nur.

Dituding seperti itu, keluarga korban (Nur) jelas tidak terima, oleh sebab itu, ibu korban menemui istri pelaku dengan mengatakan, kalau memang menyangkut dengan anaknya ada baiknya istri pelaku datang langsung ke rumah bertanya dan tidak cerita kesana sini. “Kalau memang anakku dibilang lonte dan berselingkuh dengan suamimu, kenapa kau tak datang kerumahku, kenapa pulak harus kau cerita keorang-orang, kalau memang anak ku bersalah datang kemari, “ bilang Sari (40) ibu korban. Selang beberapa hari kemudian, digelarlah pertemuan diantara korban dan pelaku disaksikan istri pelaku dan masing-masing keluarga.

Di sini perbuatan jinah itu diungkap korban dari awal perbuatan hingga komitmen pelaku yang berniat menceraikan istrinya, namun pengakuan korban tidak dibantah pelaku saat itu. Oleh keluarga korban, masalah inipun digiring ke Polsek Brandan. Sayangnya, pengaduan mereka tidak ditangapi oleh petugas. Belakangan korban mendatangi Polres Langkat membuat pengaduan di Mapolres Langkat pengaduan korban diterima dan tertuang di No.Pol:LP/149/IV/2009/Lkt tangal 30 April 2009 diterima Ka SPK A Aiptu WS Banjar Nahor.

Meski telah beberapa bulan kasus ini dimeja polisi, tapi kasusnya seakan jalan di tempat. Malah ibu korban ( Sari) saat ini ditahan di hotel Prodeo Pangkalan Brandan setelah dilaporkan istri tersangka kepihak yang berwajib dengan tuduhan penganiayaan. “Mulai perbuatan pelaku kuungkapkan dihadapan istrinya, sikap istri pelaku kian menjadi-jadi dengan keluarga kami. Istri pelaku (Iyek) yang sering melintas dari depan rumah sering meludah setiap melihat mamak duduk di depan pintu. Karena itulah mamak jadi naik pitam dan memukulnya hingga mamak sekarang masuk penjara, “ ujar anak keempat dari tujuh bersaudara ini dengan suara memelas.

“Kalau kami buat pengaduan kenapa tidak ditangapi polisi, padahal jelas-jelas yang menjadi korbanya aku, aku dicabuli 7 kali oleh pelaku, tapi ketika mereka melapor ke polisi, ibuku langsung ditangkap, kami sudah nggak tahu lagi mau mengadu kem ana bang,” lirih korban terdengar sedih yang saat itu ditemani ayahnya. “Mungkin memang begitulah kalau jadi orang kecil dan susah seperti kami ini, tak ada yang mau mendengarkan jeritan kami. Padahal jelas-jelas korban, “ timpal paman korban diamini keluarga lainya. Terpisah, Kasat Reskrim Polres Langkat AKP M Jawak ketika dikonfirmasi mengaku kalau pihaknya tetap memproses kasus tersebut.

“Memang kita ada disurati dari KPAI (komisi perlindungan anak Indonesi) daerah Sumut, meminta kita melakukan penahan atau penangkapan terhadap tersangka, tapi permintaan tersebut belum bisa kita penuhi karena belum cukup bukti untuk kita menahan tersangka, sebab dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap saksi-saksi, semuanya mungkir termasuk tersangka tidak mengakui, dalam hal ini yang menjadi saksi hanya korban dan orang tuanya, sementara sebelumnya korban dikabarkan ada berhubungan dengan pria lain, intinya kita belum menahan pelaku, tapi proses tetap.” ujar Jawak. (Darwis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: