Disdik Sumut ‘Bantah’ Program SBY, SEKOLAH GRATIS, MANA?!


Sumber : Pos Metro Medan

Senin, 27 Juli 2009
MEDAN-UNTUK membantu masyarakat kurang mampu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuat program Sekolah Gratis. Iklannya pun telah diluncurkan. Tapi kenyataannya,
program itu tak berjalan dengan baik. Bahkan yang paling mengejutkan datang dari Dinas Pendidikan Sumut. Orang nomor 1 di dinas itu, Bachrumsyah, menampik adanya sekolah
gratis. Loh!

“Sekolah gratis? Mana ada itu! Bahasa Sekolah Gratis itu rancu. Masyarakat telah salah menilai, dan hal inilah yang sering menyebabkan timbulnya banyak komplain dari masyarakat tentang Sekolah
Gratis.” Begitu kata Bachrumsyah. Dia juga mengakui masyarakat telah salah persepsi. Sebab, program Sekolah Gratis yang dimaksud pemerintah berbeda dengan Sekolah Gratis yang dipahami
masyarakat.

“Defenisi sekolah gratis itu nggak jelas. Yang kami pahami, namanya sekolah gratis itu adalah sekolah yang dibiayai pemerintah. Jadi kalau masyarakat berharap semuanya serba gratis, wah … gawatlah,” katanya.

Adapun yang dibiayai pemerintah, jelasnya, dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD). Anggaran untuk sektor pendidikan di Sumut sebesar Rp 722 miliar.

Untuk memperbaiki asumsi buruk masyarakat terhadap pendidikan di Sumut terkait proses suap di sekolah – sekolah favorit, Bachrumsyah berjanji akan mengikis praktek ‘setan’ itu. “Kita akan kikis habis.

Tentunya dengan melibatkan Dinas Pendidikan di kabupaten/kota, karena mereka yang punya sekolah,” ujarnya. Ia tak menampik praktek suap kerab terjadi pada saat penerimaan siswa baru (PSB). Itu terjadi setiap tahun. Tarifnya juga terus bertambah setiap tahunnya. Untuk itu, Februari tahun depan, pihaknya akan bertemu dengan Kepala Disdik se-kabupaten/kota. (mag-2/ pmg)

3 Tanggapan

  1. visit my blog again
    http://jerzz.wordpress.com/
    http://blackercomputerz.wordpress.com/
    jika ingin tukeran link konfirmasi di blog saya y…

  2. Baru-baru ini wartawan angkatan lampau, Mochtar Lubis, memberikan berbagai award.

    Saya kira award-award itu terlalu murah dan terlalu berharga diberikan kepada wartawan-wartawan kita – wartawan-wartawan Indonesia masa kini, sebab wartawan-wartawan itu sebetulnya tidak mampu melakukan tugas-tugas kewartawanan “perjuangan” untuk bangsa dan rakyat.

    Lihat, berbagai kecurangan, berbagai korupsi terselubung dan besar dan mark-up jalan terus, isu pendidikan gratis yang bohong karena hanya versi Mendiknas dimana gratis adalah gratis menurut dia (gratis SPP tetapi buku-buku tetap membel dan mahal buat rakyat biasa) bukan versi publik (gratis ya gratis termasuk buku-buku dipinjamkan dan tidak harus membeli) terus berjalan, berbagai masalah tidak dapat terbongkar dan banyak lagi, semua nyata di depan mata kita, di mata publik, di mata wartawan-wartawan itu. Hampir semua wartawan itu entah kenapa, hanya membuat ulasan basa-basi dengan judul-judul bombastis, tidak pada dasarnya tidak mengunkap hal-hal sejarah atau masa lampau yang signifikan, jadi samasekali bukan merupaka analisa-analisa jurnalistik pembongkaran. Jadi kalau begini aanya, maka tidak pantas penghargaan-penghargaan itu diberikan. Dalam situasi saat ini, pejabat-pejabat di negeri ini tersenyum dan tertawa melihat kemampuan kebanyakan wartawan itu. Pemimpin-pemimpin itu semakin pandai berbohong, tak perlu minta maaf kepada publik meskipun mengeksploitasi tragedi terbaru, yang seolah itu ditujukan terhadapnya. Ini mungkin juga akibat banyak wartawan kita kurang kritis terhadap mereka, karena senang dan nikmat mengandalkan sumber-sumber resmi yaitu mereka, memblow-up mereka. Wartawan-wartawan itu penakut dan idak jelas, mungkin tidak pandai dan tidak berani menulis kritis dan interpretatif. Mereka seharusnya bercermin, dan mengikuti cara wartawan-wartawan Bule menulis. Karena sampai detik ini Indonesia hanya ada semakin banyak wartawan kelas seperti saat ini, maka hancur dan terjajah bangsa ini oleh bahkan manusia-manusia bangsa sendiri yang arogan dan ekspoitatif. Liputan-liputan hanya sekadar meramaikan suasana, tidak mengungkap apa-apa kecuali sekadar melansir statement-statement dari sumber-sumber resmi yang pandai merekayasa cerita. Sebetulnya award-award itu simpan saja kalau hanya juga untuk topik-topik yang semakin menjauh dari berbagai masalah terutama isu-isu Poleksos yang sangat diekspoitasi dan dipermainkandengan arogan oleh pejabat-pejabat sekarang ini. Selamat bangun wartawan-wartawan. Jangan ada yang kaya dan tidur dengan amplop-amplop dan nyaman dengan ketakutan tidak berdasar. Wartawan-wartawan kita boleh terima award-award itu kalau berhasil membongkar kecurangan-kecurangan pemilu misalnya atau membuat SBY memecat Mendiknas itu.

  3. Ternyata yang gratis khan cuma SPP & pinjaman buku paket pelajaran -nya… doang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: