Celoteh Korban Penculikan di PN Medan, Vonis 10 Bulan Bui A Kuan, Bukti Hukum Bisa Dibeli


Sumber : Pos Metro Medan

Rabu, 5 Agustus 2009
SETELAH dituntut rendah oleh jaksa. A Kuan (41), terdakwa penyandra dan penyiksa sadis kembali mendapat keringanan dari hakim. Tak pelak, seolah kesenangan, pria berdarah Tionghoa itu enggan berkomentar saat dikonfirmasi atas vonis 10 ulan yang dijatuhkan padanya.

Warga Jalan Gelas, Medan Barat itu dinyatakan terbukti bersalah karena merampas kemerdekaan temannya Budi (35) warga Jalan Bilal Medan. Perbuatan itu lanjut hakim I Gede Ngurah SH telah melanggar Pasal 333 dan 365 KUHP. “Pertimbangan yang memberatkan, terdakwa telah membuat korban trauma, dan telah membuat korban mengalami kerugian. Sedangkan yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum dan sangat menyesali perbuatannya. Untuk itu hukuman 10 bulan kurungan dinyatakan layak diberikan untuk terdakwa,” jelas I Gede dalam amar putusannya yang meringankan Akuan 2 bulan dari tuntutan jaksa.

Usai sidang ditutup, Akuan yang dikonfirmasi akan hal ini pun enggan berkomentar sedikitpun. Dengan merunduk, dirinya yang diboyong jaksa Lamria ke tahanan sementara PN Medan tak bersuara sedikitpun ketika POSMETRO MEDAN menanyainya.

Sementara Budi, yang datang ke persidangan untuk melihat putusan itu, mengaku kecewa dengan putusan itu. “Kalau dibilang kecewa ya kecewa lah bang, tapi gimana lagi mau dibuat,” ujarnya dengan raut muka kecewa pada POSMETRO MEDAN. Kekesalannya itu, dijelaskannya lagi, karena hukuman Akuan yang rendah. “Ya sudahlah, kalau hakim memutuskan begitu. Dengan kondisi ini aku semakin mengerti, ginilah hukum itu. Meskipun penyiksaan yang dilakukannya (Akuan-red) sampai sekarang belum juga hilang, tapi biarlah Tuhan yang tahu semua ini,” ujarnya sembari meninggalkan PN Medan.

Tak berbeda jauh dengan jawaban Budi. Rekannya, Anto pun menyesalkan putusan itu. “Sudah jelas kalau hukum ini bisa dibeli. Masak orang yang melakukan perbuatan sadis dihukum ringan. Kalau begininya hukuman orang seperti Akuan, besok-besok lihatlah, pasti adalagi orang yang nekat melakukan seperti perbuatannya. Orang dihukum ringan, macam mana orang tak mau,” ujar warga Serdang yang ngaku berusia 53 tahun itu.

Hal senada pun diungkapkan rekannya Y Sitorus. “Percuma saja polisi menangkap penjahat-penjahat ya, toh kalau di PN Medan ini divonis ringan. Kalau sudah tahu kita begini jadinya, suatu saat aku yakin orang-orang yang tak percaya hukum akan menerapkan hukum rimba, dari pada nantinya orang yang bersalah dihukum ringan,” ujar Sitorus.

penyekapan itu terjadi Sabtu (17/1) silam. Ceritanya waktu itu Budi lagi pergi ke Vihara di daerah Jalan Sunggal Medan, untuk melakukan sembahyang. Sekira pukul 10 pagi, dirinya yang telah siap bersembahyang berniat untuk pulang. Saat hendak menaiki mobil Kijang Innova miliknya, tiba-tiba mobil Isuzu Panther berhenti tepat di belakang mobilnya, tiga orang yang salah satunya menggunakan senjata api jenis FN langsung menodongkannya pada Budi. Oleh ketiga aparat gadungan tadi, dengan menggunakan mobil milik Budi, Budi bersama supirnya pun langsung dibawa ke tempat penyekapan di Komplek Setia Budi Medan. Sebelumnya, saat di dalam mobil, Budi dan Sukirno matanya telah dilakban dan tangan diborgol. Singkat cerita, sesampainya di tempat penyekapan, Budi pun langsung ditelanjangi hingga bugil. Tangannya diborgol, mata dan mulutnya dilakban dan dikurung di dalam kamar mandi.

Sedangkan Sukirno hanya diborgol dengan tanpa baju, berikut mata dan mulutnya dilakban juga, namun tidak disiksa seperti Budi. Beberapa jam dikurung, para penyekap pun menyiksa Budi habis-habisan, supaya mau menyerahkan uang Rp. 2 miliar pada para penyandra. “Kalau kamu mau menyerahkan uang Rp. 2 miliar, kami tidak akan menyiksamu, untuk itu kau siapkan saja uang itu, bisa tidak?” ujar pelaku. Karena tak punya uang sebanyak itu, Budi yang mengaku tak menyanggapi permintaan itu.

Karena Budi mengaku tak punya uang sebanyak itu, para penyandra pun makin menyiksa lebih dalam, kemaluan Budi sempat diketapel dengan karet beberapa kali. Tak puas mengketapel, kemaluan Budi pun sempat ditunjangi, hingga Budi merintih kesakitan. Singkatnya, hingga malam hari penyekapa. Sukirno, supir Budi yang disekap di tempat berbeda berhasil meloloskan diri. Dari lantai dua, Sukirno pun melompat ke canopy rumah penyekapan itu, setelah lompat dari canopy, Sukirno pun lari kesekitar komplek yang sempat dikejar para penyandra.

Namun, karena dewi fortuna berpihak padanya, Sukirno berhasil meloloskan diri, hingga bertemu dengan aparat kepolisian yang sedang berpatroli di sekitar komplek. Setelah Sukirno menerangkan pada aparat kepolisian, rumah penyekapan tempat para kawanan rampok itu pun langsung digrebek. Sialnya, saat digrebek, kawanan Akuan Cs sudah melarikan diri. Usai tuntutan itu, Akuan pun langsung menyampaikan pembelaan lisannya, “saya mohon peringanan buk hakim, saya berjanji takkan mengulangi perbuatan ini lagi,” ungkap Akuan yang sebelumnya mengaku ketiga OTK yang disewanya tuk menculik dan memeras Budi itu adalah mantan anggota GAM yang masih buron. (Syahrul)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: