Tudingan Kuasa Hukum Chandra, Pembunuhan Azis Angkat Disetting Teman Dekatnya


sumber : Pos Metro Medan

1249441494zzzzzzzz1

MEDAN-Sidang lanjutan demo maut pembentukan Protap (Propinsi Tapanuli) dengan terdakwa GM Chandra Panggabean (foto), kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, kemarin (4/8). Meski tak seramai sidang sebelumnya, lewat tim kuasa hukumnya, Chandra buat pengakuan mengejutkan. Candra menuding 3 sahabat (alm) Abdul Azis Angkat sebagai otak perencana pembunuhan Ketua DPRD Sumut pada 3 Februari 2009 itu.

Dalam sidang itu, melalui team kuasa hukumnya, Otto Hasibuan SH, Chandra tak menerima dakwaan jaksa yang menudingnya aktor utama perencana pembunuhan Azis Angkat. “Ada 30 butir item kesalahan yang didakwakan pada klien kami, tapi semuanya tak berdasar fakta yang ada. Dalam persidangan ini, jaksa malah memutar fakta-fakta, yang seolah-olah itu pulalah yang terjadi pada saat kejadian,” kata Otto di depan majelis hakim dipimpin Kusnoto SH, yang didampingi 7 hakim anggota.

Dalam eksepsi (bantahan dakwaan-red) yang diberi judul “Protap Suatu Perjuangan yang Tak Pernah Padam”, menurut Otto, aksi 3 Februari lalu adalah aksi damai, dan bukan Chandra pemimpinnya. “Jaksa telah salah, Chandra bukan pemimpin aksi kala itu, akan tetapi Chandra hanyalah sebagai Ketua Pembentukan Protap,” ungkapnya.

Pun begitu, jelas Otto, aksi 3 Februari yang berujung anarkhis itu tidaklah direncanakan sebelumnya. Para pengunjuk rasa hanya mempertanyakan kenapa paripurna pengesahan Protap tak juga digelar DPRD Sumut.

Dirincikannya, saat aksi itu, pihak pengunjuk rasa sebelumnya telah meminta izin pada pihak berwajib, untuk melaksanakan aksi damai di gedung DPRD Sumut dengan menurunkan 5 ribu massa. Jadi, pemberitahuan itu menurut Otto adalah sah sesuai prosedur yang ada.

Soal kericuhan saat aksi itu, Otto manuding pihak kepolisianlah yang ceroboh. Sebab menurutnya, personil polisi yang diturunkan hanyalah puluhan untuk mengamankan 5 ribu massa. “Inikan jelas kalau polisi tidak professional dan tidak sigap. Bayangkan saja, sangat tidak wajar kalau jumlah mereka (polisi-red) yang puluhan bisa mengamankan 5 ribuan massa yang ada. Sangat diherankan, kenapa saat persidangan ini mereka siap untuk mengamankan, tapi sewaktu aksi damai lalu tidak, ada apa ini?” imbuhnya.

Usai Otto, pembacaan eksepsi pun dilanjutkan oleh anggotanya, Adardam Achyar SH. Pengacara berambut tipis dan berkacamata ini pun menerangkan soal keterlibatan tiga sahabat (alm) Azis Angkat, yakni Elmadon Ketaren, Abdul Muluk Siregar dan Edi Arifin alias Arifin.

“Mengapa tiga orang tersebut tidak dijadikan tersangka oleh pihak yang berwajib? Padahal, mereka bertigalah yang membawa almarhum keluar gedung, dan di luar gedung pun mereka yang membiarkan almarhum diamuk massa,” terang penasehat hukum asal Jakarta ini sembari menunjukkan foto-foto ketiganya.

Dirincikannya, dalam foto dan video yang dikumpulkan pihaknya, terlihat Elmadon yang mengaku sebagai pengawal Aziz Angkat, yang diutus Partai Golkar, ikut menggiring Aziz ke luar gedung DPRD Sumut. Saat di luar terlihat Elmadon sengaja membiarkan Aziz diamuk massa sembari tersenyum-senyum.

Sedangkan Abdul muluk, kata Adardam, telah sengaja mendorong Aziz ke kerumunan massa. Dan Arifin, sebagai pengawal Ketua DPRD Sumut itu, sangat terlihat jelas dalam gambar dan video meninggalkan Aziz yang telah diamuk massa.

“Dalam persidangan Joko dan Gelmok pada waktu lalu, terungkap kalau Elmadon telah tahu sebelum hari H, akan terjadi aksi brutal. Itu dia ketahui dari intel Kodam, berartikan sudah ada set perencanaan aksi, jadi siapa sebenarnya ini orang? Kenapa Elmadon tak dimintai pertanggung jawaban,” keluh Adardam.

Setelah Adardam, Berlian Purba SH pun langsung melanjutkan pembacaan eksepsi. Menurutnya, pasal pembunuhan berencana yang dikenakan pada Chandra sangatlah tidak berdasar. “Kalau Chandra membunuh pasti dia ada menyentuh almarhum (Aziz). Faktanya kan Chandra tidak ada menyentuh almarhum sedikitpun, jadi tidak ada pembunuhan di sana,” kata pengacara berkumis tebal ini.

Ditegaskannya, rumusan dakwaan yang dibuat jaksa kabur dan tidak cermat. Karena itu pihaknya meminta r majelis hakim membebaskan Chandra dari tuduhan jaksa. Usai pembacaan eksepsi, oleh pihak jaksa, melalui Windu Suwondy SH, mengaku akan mempersiapkan Replik (tanggapan atas eksepsi-red) di persidangan selanjutnya. “Kami akan ajukan Replik, Pak hakim, kami minta satu minggu untuk menyusunnya,” terang Windu, diamini majelis hakim.

Eks Petinggi Kepolisian Diminta Tanggung Jawab

Sementara di tempat terpisah usai sidang digelar, Otto Hasibuan kembali menekankan dakwaan jaksa tidak berdasar. “Dalam foto dan video kan terlihat jelas kalau yang membawa keluar almarhum adalah tiga orang yang mengaku dekat dengan almarhum. Kalau mereka tidak membawa keluarkan tidak terjadi seperti itu, kenapa sampai sekarang polisi tidak mau membuka kasus ini. Padahal kan jelas dalam foto dan video kalau almarhum tangannya dipegang dan dipaksa keluar, namun saat dikerumuni massa, tiga orang tadi malah membiarkannya. Jadi kenapa polisi tidak menindak hal ini,” tegas Otto.

Dikritisinya, kalau polisi memang benar-benar mau menguak kasus ini, mengapa tidak memeriksa semua pihak, termasuk mantan petinggi polisi di Sumut. “Kalau mau cerita hukum, polisi harus membuka kasus ini. Bukan hanya tiga orang (Elmadon Cs-red) tadi, mantan petinggi kepolisian Sumut waktu itu pun meskinya diperiksa. Soalnya dari Kapolsek, Kapoltabes, dan Kapolda kala itu kan tidak ada di TKP, meskinya karena kesalahan itu, mereka harus dimintai kesaksian juga,” pungkas Otto.

Terpisah, Elmadon Ketaren yang ditemui POSMETRO MEDAN di PN Medan, mengaku tak mempermasalahkan tudingan pengacara Chandra pada dirinya. “Biar sajalah, mereka (Pengacara-red) kan mau membela kliennya, tapi soal apa yang dituduhkan mereka pada saya itu tidak benar,” tegas lelaki jangkung berambut putih ini.

Ditegaskannya, kala itu dirinya tak ada membiarkan (alm) Aziz Angkat dari amuk massa, malah dia sempat mengamankan massa. “Kok mereka membilang saya tertawa, orang saya waktu itu mau mengamankan kok, kan sudah enggak benar itu tudingan mereka. Saya pun kala itu mencoba menelepon rekan lainnya untuk mengasih tahu kondisi brutal itu,” pungkasnya.

4 Terdakwa Kembali Dituntut 7 Tahun

Setelah 11 terdakwa Protap dituntut 7 tahun dan sebagian telah divonis, kemarin 4 terdakwa lain menyusul dituntut 7 tahun penjara. Ke-empat itu adalah Martunggul Edi Yanto Panjaitan, Marihot Pardede, Darwin Anthony Sibarani dan Tardi Siregar.

Dalam tuntutan masing-masing jaksa, keempatnya dijerat dengan Pasal 146 ayat 1 Jo pasal 55 ayat 1 ke-1e KUHPidana. Tuntutan itu dipertimbangkan karena keempatnya ikut serta membubarkan persidangan badan perwakilan rakyat 3 februari lalu melalui demo yang anarkhis. Selain membubarkan sidang, akibat demo maut lalu, gedung DPRDSumut pun mengalami kerusakan didalam ruangannya.

“Perbutan-perbuatan mereka sangat tidak layak dilakukan seorang intelektual mahasiswa. Meskinya mereka memberikan teladan yang baik bagi mahasiswa lain, bukannya malah mencontohkan perbuatan anarkhis dalam penyampaian aspirasi dan pendapat,” ujar masing-masing jaksa dalam amar tuntutannya.

Sedangkan hal yang meringankan, keempatnya dinilai telah bersikap sopan dan belum pernah dihukum. Dari keempat terdakwa yang dituntut kali ini, cuma Darwin Anthony Sibarani yang mengaku adil akan tuntutan itu.

“Tuntutan ini adil, telah sesuai,” ungkapnya pada POSMETRO MEDAN sembari diboyong ke ruang tahanan PN Medan. Namun ketika ditanya dimana letak keadilan itu, Darwin langsung tak menjawab sedikitpun. (syahrul)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: