MAULANA POHAN


MAULANA POHAN
Oleh : Shohibul Siregar

Untuk saat ini Maulana Pohan dianggap figur terbaik dan paling mudah meraih kemenangan di antara orang-orang yang sedang berusaha memasarkan diri untuk pencalonan Walikota Medan melalui Pemilukada 2010. Fakta bahwa Maulana kalah berhadapan dengan Abdillah pada Pemilukada tahun 2005 dianggap bukan masalah, terutama karena fakta lain yakni tidak berartinya bagi siapa saja kemenangan pasangan Abdillah dan Ramli berhubung mereka berdua tak dapat melanjutkan pemerintahan karena peradilan membawanya ke penjara.

Harap jangan dilupakan bahwa kekalahan Maulana Pohan dengan perolehan suara kurang lebih 40% dari 780 ribuan pemilih (saat itu Medan diperkirakan memiliki pemilih lebih dari 1,5 juta) begitu “anggun”. Dari keseluruhan partai yang berjumlah 24 pada saat itu, design politik yang dijalankan memposisikannya hanya bersama PKS berhadapan dengan Abdillah-Ramli yang “memborong” hampir selebihnya. Bagaimana jika seluruh pemilih didaftar pada DPT dan “tidak dihalang-halangi” memberi suara di TPS? Dalam pemilukada Kota Medan 2005 yang dimenangkan oleh golput itu Maulana Pohan bukan tokoh sembarangan.

Ibarat salah membuat pesanan dari daftar menu di restoran, masyarakat otomatis berpikir ke Maulana Pohan saat mencicipi makanan yang membuat perutnya sakit terguncang. Juga, ibarat luka menganga harapan warga Medan yang tak tersahuti untuk perubahan tidak juga terjawab. Afifuddin Lubis terlihat konstan dalam kegamangan, seolah ia hanya sesosok peran canggung yang tak boleh mengambil inisiatif sama sekali. Tidak mudah bagi Rahudman Harahap untuk menepis anggapan para elit yang menandai peralihan kekuasaan ini tak lebih dari pergeseran komando yang amat tersamar (invisible power) dari satu ke ”majikan” lain. Afifuddin Lubis dan Rahudman Harahap itu hanyalah pegawai di lingkungan birokrasi, tak sama dengan Walikota pilihan yang mendapat mandat dari rakyat. Mereka cuma seolah magang di suatu tempat yang tetap tunduk pada “markas besar”.

Makin cepat Pemilukada Kota Medan justru akan makin baik bagi Maulana Pohan. Popularitas dan potensi elektibilitasnya hanya membutuhkan gerak kecil tetapi sistematis untuk merewind memori masyarakat. Itu tidak begitu sulit mengingat peta politik menujukkan tidak adanya stok pesaing yang berat. Jika hanya tokoh dadakan yang kurang lebih hanya mencitrakan ketersediaan stok budget, itu bukan lawan berat bagi Maulana Pohan. Walaupun mereka melakukan semacam ”akrobat politik” menyambangi komunitas-komunitas tertentu atau bahkan ada yang bergaya di saluran facebook dan momen-momen politik tertentu lainnya, hal itu tak membawa manfaat besar. Rakyat faham, dan amat mengerti kepura-puraan. Sebaliknya Maulana Pohan hanya tinggal menentukan siapa pasangan dan itu boleh didiskusikan dengan parpol atau bahkan bergerak saja sendiri (bersama pasangan) melalui jalur pencalonan perseorangan dengan terlebih dahulu mengumpulkan 70 ribuan dukungan penduduk.

Selain Maulana Pohan ada 2 orang dokter yang sedang uji kemampuan merebut hati warga Medan, Syahrial Anas dan Delyuzar Harris. Dalam profesi yang sama keduanya berbeda hunjaman pengaruh di grass root dan sejarah pergaulan sosial yang sudah terpetakan secara berbeda pula.

Delyuzar Harris pegiat sosial yang tak berjarak dengan client ini tidak dapat dipandang underestimated. Basisnya bertumpu pada jamaah organisasi keagamaan mapan, kelompok-kelompok muda terdidik, kelompok marginal dan lembaga swadaya yang bergerak pada ranah kemanusiaan, pendidikan dan sosial. Titik berat jaringannya berada di Medan bagian Selatan dan hampir seluruh pinggiran.

Sedangkan Syahrial Anas yang terkenal dengan program jamkesmas itu lebih menguasai konstituen dalam bentukan peta mediatif yang masih samar. Ia seorang profesional dalam bidang kesehatan yang menjadi pejabat penting dalam bidang itu, tetapi belum diketahui kadar rajutan sosialnya kepada masyarakat secara langsung.

Diskusi bulanan ‘nBASIS Kamis petang sesungguhnya membahas topik implikasi politik Keputusan MK tentang gugatan hasil pilpres. Namun akhirnya ternyata yang lebih menarik ialah topik dadakan pasca diskusi: Pemilukada Kota Medan 2010. Ini disebabkan mulai menghangatnya masalah itu pekan-pekan terakhir. Sebagai warga kota, mayoritas peserta diskusi sudah pernah ”terlibat” perbincangan hangat tentang kewalikotaan dengan sesama warga lainnya. Pantas mereka begitu antusias.
Mayoritas peserta diskusi mengakui bahwa Kota Medan rusak parah bukan cuma infrastruktur fisik, tetapi lebih parah lagi dari itu. Juga diakui kota paling sulit dibereskan, dan dalam pandangan peserta diskusi nyaris tak ada figur terpercaya yang berfikir sesuatu yang benar-benar penting dan amat perlu untuk merubah kota ini. Kebanyakan mereka hanya orang-orang haus kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: