Disnaker Diklaim Gagal, 317 Perusahaan Kangkangi Hak Buruh di Binjai


Sumber : Pos Metro Medan
Selasa, 18 Agustus 2009

BINJAI-Disnaker Binjai yang seharusnya melindungi nasib buruh, ternyata hanya isapan jempol. Upaya memerdekakan buruh dari ketidakadilan tak pernah terwujud.

Instansi yang bertugas sebagai pengawas itu justru diklaim lebih berpihak pada perusahaan dan mengesampingkan ha-hak buruh di Binjai.

Buktinya, sampai saat ini sedikitnya 317 perusahaan di Binjai tak kunjung ditindak meski jelas-jelas mengabaikan peraturan ketenagakerjaan dan melanggar UU.

Demikian dikatakan Kepala PT Jamsostek cabang Binjai, H Mustafa Zainal pada POSMETRO MEDAN, kemarin (17/8) terkait banyaknya perusahaan di Kota Rambutan yang mengangkangi hak jaminan sosial karyawannya. Hanya sekitar 65 perusahaan dengan jumlah buruh lebih kurang 910 orang yang telah terdaftar sebagai peserta Jamsostek. Sementara 317 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja mencapai 4.415 orang belum terdaftar sebagai peserta Jamsostek.

“Data yang ada pada kita masih banyak perusahaan yang tidak mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta Jamsostek. Tentunya ini menjadi tugas bagi Disnaker Binjai untuk memperjuangkan hak-hak pekerja,” ujar Zainal. Dijelaskannya,beberapa perusahaan yang masih belum mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta Jamsostek diantaranya Panglong Bima Maju, CV Edi Mandiri, Deli Service, Great Market Swalayan, Hotel Lestari Inn, Hotel Garuda, Koperasi Pertamina, KUD Rukun, Pabrik Roti Wangi, PT Aneka Inti Sari, Ramayana Prabot, Rumah Sakit Bidadari, Yaspend YPIS Maju dan Taman siswa Binjai.

Terpisah, Koordinator Kelompok Study dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-SEMAR) Sumut, Togar Lubis saat dikonfirmasi menegaskan, banyaknya perusahaan yang masih ngangkangi jaminan sosial pekerja adalah bentuk kegagalan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Binjai selaku institusi yang melindungi tenaga kerja. “Bagaimana tidak dikatakan gagal kalau berdasarkan data yang ada di PT Jamsostek masih banyak perusahaan yang tidak mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta Jamsostek. Padahal itu semestinya menjadi tanggung jawab Disnaker Binjai membela kepentingan para pekerja dan harusnya menindak tegas pelaku atau pihak perusahaan yang tidak memberikan hak bagi para pekerjanya,” tandas Togar. (Aswin)

Satu Tanggapan

  1. DERITA KAUM BURUH

    Melambung nya harga kebutuhan pokok menjelang ramadhan, membuat nasib buruh semakin kelimpungan. Gaji Rp.800.000-Rp.900.000 per bulan (rata-rata UMK Surabaya) hanya cukup untuk kebutuhan berbuka puasa dan makan sahur. Bayangkan bila buruh sudah berkeluarga dan memiliki anak, Untuk kebutuhan makan sehari-hari aja pas-pasan, belum lagi untuk kebutuhan anak, istri saat lebaran. Semua harga kebutuhan pokok naik hampir 50%, Betapa menderitanya nasib kaum buruh.

    **********

    Meminta kenaikan UMK pada saat-saat ini jelas suatu hal yang mustahil, berdemonstrasi, mogok kerja atau ngeluruk kantor dewan pasti hanya menimbulkan keributan tanpa hasil, atau bisa-bisa malah digebuki Satpol PP.

    THR (Tunjangan Hari Raya) yang selama ini menjadi kado hiburan bagi buruh sengaja di kebiri pemerintah. UU No 14/1969 tentang pemberian THR telah di cabut oleh UU No 13/2003 yang tidak mengatur tentang pemberian THR. Undang-undang yang di buat sama sekali tidak memihak kepantingan kaum buruh. Atas dasar Undang-Undang inilah pengusaha selalu berkelit dalam pemberian THR.

    Sedangkan UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, lebih memihak kepentingan investor asing dan Bank Dunia. Landasan formal seluruh aturan perundangan ini memperlemah posisi tawar buruh di bidang upah, kepastian kerja tetap, tunjangan dan hak normatif, hilangnya kesempatan kerja, partisipasi demokratis Dewan Pengupahan, dan konflik hubungan industrial. Pada prinsipnya Undang-Undang ini merupakan kepanjangan dari kapitalisme (pengusaha).

    Selain masalah gaji rendah, pemberian THR, Undang-Undang yang tidak memihak kepentingan kaum buruh, derita kaum buruh seakan bertambah lengkap kala dihadapan pada standar keselamatan kerja yg buruk. Dari data pada tahun 2001 hingga 2008, di Indonesia rata-rata terjadi 50.000 kecalakaan kerja pertahun. Dari data itu, 440 kecelakaan kerja terjadi tiap hari nya, 7 buruh tewas tiap 24jam, dan 43 lainnya cacat. Standar keselamatan kerja di Indonesia paling buruk di kawasan Asia Tenggara.

    Tidak heran jika ada yang menyebut, kaum buruh hanyalah korban dosa terstuktur dari dari kapitalisme global.

    “kesejahteraan kaum buruh Indonesia hanyalah impian kosong belaka”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: