Kontemplasi (2) : SHORT TEE IS RIGHT HERE !!!


Kontemplasi (2) : SHORT TEE IS RIGHT HERE !!!

Oleh: Tondi

tondi

UCOK MUNTHE nama ikon itu. Ia tak perlu sebesar Bob Marley untuk menjadi ikon. Ia tak perlu setenar Jacko untuk menjadi ikon. Iwa K, Ucok Munthe tak sepopuler itu. Denada dan Saykoji, Ucok Munthe tak sebesar itu. Ucok Munthe itu hanyalah seorang anak muda yang bermukim di pinggiran kota, tak punya mobil mewah, tak punya Black Berry, dan tak punya selain asa dan segunung kesantunan.

Memang kami di sini, di Medan, tak mungkin mampu membesarkan diri. Industri yang mengenyampingkan hal-hal lain kecuali modal telah memojokkan kami. Kami harus menerima itu. Pergilah ke Jakarta. Itu pun tak harap akan selalu berhasil. Di luar The mercys, siapa lagi yang pernah berhasil dari sini? Mungkin bisa disebut beberapa nama lain: Eddy Silitonga. Dari kalangan lebih muda banyak yang harus dihitung, meski belum ada yang melegenda seperti Charles Hutagalung.

Fahami cara berfikirku. Jika aku hanya memiliki segepok daun ubi untuk dimasak malam ini sebagai bekal mengarungi siang terik matahari besok pagi dalam berlapar dahaga ria untuk puasa ini, maka itulah modal dasarku, betapapun itu amat tak berarti dibandingkan dengan aneka makanan tersaji di meja para agniya (orang tajir). Orang tajir akan menikmati sesuatu dari piring dan meja makannya. Aku hanya akan mengunyah daun ubi ini. Mata rantai yang menghubungkan sejuta kemiskinan dan kesederhanaan, mulai dari nande-nande yang bertarung dengan terik mata hari setiap hari untuk bertanam segepok daun ubi ini hingga seluruh kulitnya bak melepuh legam menghitam.

Ia ada di sana, di sepetak tanah yang bukan kebun, mengoper ke pedagang kecil yang oleh para ilmuan sosial di Jawa sering disebut kulakan (pedagang keliling bermodal kandas). Nande-nandeku itu, bukan petani menurut kriteria para ilmuan sosial, bukan farmer. Mereka cuma lasykar gurem, petani penggarap, yang secara teknis mereka sebut peasent.

Kau mungkin tak pernah menyaksikan betapa liarnya hidup bagi mereka ini. Uncertain promises dari rezim ke rezim yang selalu mematut diri untuk teriakan making sense of development. Ya, aku, dan mungkin kau juga, sudah lama muak dengan semua itu.

Sekecil apa pun kami, kita, yang cuma punya seorang Ucok Munthe, tetap saja butuh penghargaan eksistensial. Kami, kita, tak mungkin melawan siapa saja, kecuali sekadar berkeinginan untuk sebuah respek yang pantas. Tetapi dengarlah obsesi kami, obsesi Ucok, obsesi JP, obsesi Doli, obsesi Bayu, obsesi Mansen, obsesi Ari, obsesi Iqbal Kribo, obsesi Taufiq Harahap, obsesi Leste, obsesi kami semua yang takluk meski belum pernah diizinkan ”perang” dengan siapapun.

Perhatikan mata-mata nalar dengan penuh pengharapan dan pikiran-pikran hijau yang penuh semangat itu. Ya, Haposan maksudku, Fachri, dan mereka-mereka yang cuma kukenal sekelebat dari ruang-ruang kelas yang bersebar di seluruh kota. They all my lovely friends.

Ada ketidak-sabaran, dan ada ketidakjujuran. Itulah yang selalu mengikuti dan timbul tenggelam dalam akomodasi bijak kami-kami. Tatkala pertahanan kami jebol, malapetaka menjadi bagian. Apa lagikah gerangan yang masih dapat dipertaruhkan jika segalanya sudah menjadi tercemar? Tak mungkin melakukan apa pun jika kompetisi tidak didasarkan pada keahlian. Memangnya hiphop itu sorak-sorak pinggiran? Bukan. Hiphop bukan sembulan asap rokok dari kerongkongan yang mengepul di udara betapa pun akan sangat mungkin dibentuk dengan berbagai variasi seketika. Promise me: hiphop bukan botol-botol minuman yang kosong melompong karena kesetanan kita di sela-sela industrialisasi penyimpangan (deviasi) kota yang dirancang oleh tangan-tangan bengal.

Ini yang membuatku pusing, dan memaksa asa semakin membeku mengingat prestasi menjadi nomor terakhir dalam capaian. Klik menjadi imam, padahal semua tahu klik menjadi positif jika menjadi bahan pacu. Aku enggan bercerita lebih panjang tentang ini. Aku bukan nabimu.

Tetapi ingin kukatakan, hijrah bagi Ucok Munthe agaknya sudah tertutup oleh usia dan rencana baru bagi hidupnya sesuai keinginan semua keluarga. Tak cukup jika kita cuma berucap terimaksih, melainkan buktikan kepadanya ada karya besar di belakangnya: di tangan para junior yang pernah ditongkronginya sendiri. Maka aku lebih baik menyerukan kepadaku, kepada teman sebayaku, pergilah dari sini. Di sini kau tak akan dihargai. Di pusat-pusat penggodokan kebijakan, di pusat-pusat penentuan industri nasional, di pusat-pusat pencetakan uang nasional. Kesana haru kau pergi membawa semua obsesimu. Karena kau harus siap, maka kau tentu tidak boleh menjadi orang tolol.

Short Tee is right here, for you

Tadi pagi kutemukan sebuah kutipan di facebook: hukum adalah sesuatu untuk membuat rakyat tak memberontak. Tak ada supremasi hukum kecuali sekadar illusi. Itu ditulis oleh orang yang menamakan diri T Irfan Hakiem. Di bawahnya sebuah komentar diberikan oleh Wikalva, Yopi nama depannya. ”Bukankah semua dirancang oleh Machiavelli?” Kira-kira begitu kesan Wikalva. Konteks pembicaraan kedua aktivis itu sedikit berbeda dengan pembahasan kita memang, tetapi isinya bisa menjadi analisis yang berguna.

Maka baik-baiklah kepada ibumu yang tak memerlukan gaji untuk melahirkan dan membesarkanmu. Maka santunlah juga kepada ayahmu yang mematahkan tulang-tulangnya untuk membelamu. Maka akrablah kepada kaka dan adikmu yang penuh harapan akan masa depanmu. Aku tak perlu menyuruhmu pergi ke mesjid atau ke gereja, sebab kau tahu agama bukan sedangkal hiphopmu, kawan.

Short Tee is right here. Short Tee is right here, my friends. For You All.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: