Partai Golkar: PENGINGKARAN ATAS FAKTA MAYORITAS POLITIK


Partai Golkar: PENGINGKARAN ATAS FAKTA MAYORITAS POLITIK
Oleh: Shohibul Anshor Siregar

• Apakah pengingkaran atas fakta mayoritas politik akan terjadi pada MUNAS Golkar lusa?
• Jika masih berat memberi amanah kepada Hutomo Mandala Putra, sungguhkah sebuah pilihan bijak jika figur untuk Ketua Umum Partai berlambang pohon beringin ini jatuh pada salah satu di antara Abu Rizal Bakri atau Surya Paloh?
• Apa agenda terberat Golkar untuk bangkit kembali 5 tahun ke depan?

TIDAK mungkin sebuah partai besar seperti Golkar melangsungkan MUNAS —yang di antaranya mengagendakan penentuan Ketua Umum— akan sepi dari tarik menarik kekuatan yang mempertentangkan banyak kepentingan. Trik-trik pamungkas akan saling beradu, dan keluar forum akan muncul kesan kebesaran meski tak akan menyamai catatan sebelumnya. Meskipun sudah banyak yang eksodus ke partai baru, namun pada umumnya kader-kader yang tinggal masihlah figur-figur inti yang tak diragukan kepiawaiannya. Semua itu menjadi hitungan fakta tentang Golkar sebagai bekas partai penguasa.

Sebagaimana diketahui pada pemilu 1999 PDIP mengalahkan Golkar. Tetapi pada pemilu 2004 kembali menduduki posisi puncak. Jika dalam pemilu 2009 partai ini hanya mampu memperoleh posisi runner up, dan gagal memperjuangkan Ketua Umumnya menjadi Presiden RI ke 7, maka partai ini sebetulnya wajib menghitung untung rugi menjadi kekuatan politik standar ganda selama pemerintahan SBY-JK. Selain itu kecurigaan atas adanya agenda-agenda tersembunyi yang mengacu pada kepentingan sempit para kandidat Ketua Umum yang kelak akan menjadi beban berat bagi Partai, mestinyalah menjadi satu perhatian penting.

Presiden RI Orang Jawa
Betapa maju cara berfikir Golkar jika perasaan kebangsaannya menyebabkan tak hirau apakah seseorang yang akan maju menjadi calon Presiden tak perlu dipersoalkan dari kalangan Jawa (mayoritas) atau bukan. Atau jika ini bukan sebuah kemajuan berfikir, maka nama apakah gerangan yang patut disematkan untuk fenomena Golkar pasca Orde Baru ini?

Semua masih ingat bahwa pada tahun 2004 Akbar Tanjung sebagai Ketua Umum dikalahkan oleh Wiranto dalam penentuan calon Presiden melalui konvensi yang rupa-rupanya hanya dirancang untuk menjatuhkan Akbar Tanjung, bukan untuk ditradisikan pada masa JK, Ketua Umum sesudahnya. Wiranto boleh merasa puas dengan kemenangan ”Pemilihan Presiden” internal ini, dan dalam posisi sebagai Calon Presiden usungan partai pemenang pemilu justru kalah berhadapan dengan usungan partai pendatang baru yang perolehan suaranya pun tak meyakinkan waktu itu (SBY). Hendaknya dicatat juga bahwa jasa JK atas kemenangan pasangan mereka begitu besar, dan mungkin juga Akbar Tanjung melalui pemihakan politiknya kepada orang selain Wiranto. Tetapi itu —Kalla dan Akbar Tanjung— sebuah ”pengkhianatan” juga, terutama jika dilihat dari pencalonan resmi Golkar atas Wiranto. Anehnya, setelah membentuk partai baru dan kalah dalam pemilu, tahun 2009 Wiranto yang menjadi calon presiden dari Golkar pada tahun 2004 itu bersedia pula menjadi wakil mendampingi JK, dan kalah. Mengapa kalah? Tak banyak orang yang suka menjawab pertanyaan ini.tetapi yang jelas sebuah pemilihan umum yang langsung dengan one person one vote, tak mungkin mengabaikan faktor sentimen kesuku-bangsaan. Jadi kenapa begitu berani mengajukan diri menjadi calon Presiden di tengah dominasi pemilih suku-bangsa Jawa? Itulah salah satu catatan yang masih harus didalami tentang Golkar semasa kepemimpinan JK.

Agenda kedepan
Bagaimana seorang JK bisa menjadi Ketua Umum setelah ”mengkhianati” partai yang membesarkannya? Mungkin jawabannya ada pada kecenderungan tinggi atas pemihakan terhadap kekuasaan; dan dalam kekuasaan memang harusnya banyak uang untuk diperebutkan. Dengan jabatan sebagai Wakil Presiden, JK menjadi Ketua Umum Golkar. Hal yang sama terjadi pada partai lain, Ketua Umum dipegang oleh orang yang menduduki posisi di kementerian. Akan ada pengecualian seperti PKS yang cara pandangnya memang begitu berbeda.

Kini Golkar sedang dalam penentuan pilihan, akan menjadi partner pemerintah atau menjadi oposan saja. Kedua pilihan itu sama-sama beresiko. Kebanyakan orang sering berfikir bahwa Golkar hanya berpengalaman menjadi penguasa, dan oleh karena itu tak mudah baginya menjadi oposan. Benarkah demikian? Jawabannya tentu tidak, atau katakanlah bahwa jawaban yang amat sederhana ini tidak merepresentasikan watak modernitas Golkar. Mengapa? Jika Golkar ingin secara tuntas mempertimbangkan masa depan partai, menjadi oposan justru memiliki peluang mendapat sanjungan masyarakat dan dengan begitu peluang untuk berjaya kembali cukup terbuka. Diperkirakan, dalam waktu yang tidak lama lagi, perasaan oposisional masyarakat justru akan semakin tinggi dan itu sebuah demand yang tinggi untuk pelembagaan oposisi.

Di luar segala rencana-rencana dan janji-janji kampanye dari SBY-Budiono, dalam kemungkinan yang akan terjadi secara empirik dalam kehidupan (terutama) sosial ekonomi diprediksikan begitu sukar untuk menggantungkan optimisme 5 tahun kedepan. Berada pada jalur pemberi stempel legitimasi bagi pemerintahan SBY-Budiono tentulah akan membuat Golar dan partai apa saja menjadi sasaran ”getah nangka” yang dinikmati orang lain. Golkar pasti berani untuk melangkah sejauh itu. Sayangnya baik Abu Rizal Bakri maupun Surya Paloh adalah sama-sama ”saudagar”, tak ubahnya JK.

Tetapi yang jelas, jika memang ingin mencalonkan Presiden yang berpeluang menang pada periode mendatang, dan jika Ketua Umum otomatis menjadi calon Presiden, maka Golkar melalui MUNAS harus memilih Ketua Umum di luar Abu Rizal Bakri dan Surya Paloh. Entahlah ya!

Satu Tanggapan

  1. politik oh politik…… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: