Pembunuhan Kedua di Tanah Babussalam


sumber : Pos Metro Medan

Selasa, 6 Oktober 2009
BESILAM-DESA Besilam yang berada di Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, selama ini dikenal banyak orang sebagai tempat yang Keramat alias penuh berkah. Perkampungan yang didirikan tuan guru pertama yakni almarhum Syekh Abdul Wahab Rokan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Babussalam.

Sangkin keramatnya, setiap merayakan hari ulang tahunnya atau memperingati lahirnya tuan guru Babusalam, tanah bertuah Besilam selalu dikunjungi masyarakat dari pelosok negeri hingga mancanegara.

Di gelaran itu, warga yang datang umumnya memohon doa dari ahli waris Babusalam. Bahkan setiap pejabat di negeri ini seperti Kapoldasu atau Panglima Kodam (Pangdam) yang bertugas di Sumut, hingga Menteri dan Presiden rasanya kurang sempurna bila tidak mengunjungi perkampungan yang dikelilingi perkebunan karet di sepanjang jalannya itu.

Kunjungan para pejabat atau orang-orang penting tadi tak terlepas dari keinginan mendapatkan Syapa’at atau berkah dari tanah yang juga disebut sebagai Mekah kedua setelah di Madinah, Arab.

Bukti bertuahnya tanah Besilam dan orang-orangnya, menurut cerita dari pihak Belanda yang pada saat itu sempat mengambil fotonya, Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan mampu terbang di angkasa, menyerang dengan gagah perkasa, dan tidak dapat ditembak dengan senapan atau meriam.

Sejumlah cerita keramat tentang Tuan Guru Babusalam lainya, beliau yang cukup populer di kalangan masyarakat Langkat. Pada suatu masa pihak Belanda merasa curiga karena ia tidak pernah kekurangan uang, lantas mereka menuduhnya telah membuat uang palsu.

Atas tuduhan yang tanpa bukti itu, Tuan Guru Babusalam merasa sangat tersinggung, sehingga ia meninggalkan Kampung Babussalam dan pindah ke Semenanjung, Malaysia.

Keajaiban pun terjadi. Selama kepergiannya itu, konon sumur-sumur minyak Batavsche Petroleum Matschapij (BPM)—sekarang Pertamina— di Langkat menjadi kering.

Kerang dan ikan di lautan sekitar Langkat juga menghilang sehingga menimbulkan kecemasan kepada para penguasa Langkat kala itu. Akhirnya Tuan Guru Babusalam kembali dijemput dan dimohon untuk menetap kembali di Babussalam (Besilam-red). Setelah itu, sumber minyak pun mengalir dan ikan-ikan bertambah banyak di lautan.

Kalau dahulu, orang-orang akan malas membicarakan tentang Besilam yang bukan-bukan. Artinya banyak orang tidak mau bercerita miring kalau masalah Besilam, karena takut terkena “kiparat”. Sebab perkampungan Besilam memang bukan tempat yang bisa dibicarakan sembarang.

Lagipula, kedamaian perkampungan awal berdirinya pusat penyebaran Tharikat Naqsybandiah tersebut sangat terasa berbeda dibandingkan kampung-kampung lainnya.

Namun, entah pertanda apa, belakangan perkampungan yang relegius itu dilanda prahara. Cucuran air mata dan pertumbahan darah telah menodai perkampungan Keramat tersebut. Beberapa waktu lalu, di Dusun II Hulu, Desa Besilam, tepatnya Rabu (9/9) gempar atas kematian Hj. Basariah (65) seorang paranormal baik hati yang tewas dibunuh dengan tubuh penuh bacokan disaat membaca (mengaji) Al,Quran. Terakhir, Ansor Nasution, tewas di tangan sohibnya sendiri, Mustafa.(*)

%d blogger menyukai ini: