Isu di Balik Terpilihnya Ical, Munas Golkar Bertabur Uang, 1 Suara Dihargai Rp 200 juta


Sumber : Pos Metro Medan

Jumat, 9 Oktober 2009

Kemenangan Aburizal Bakrie memimpin Golkar disambut riuh para pendukungnya. Photo : pm/jpnn

Kemenangan Aburizal Bakrie memimpin Golkar disambut riuh para pendukungnya. Photo : pm/jpnn

AKHIRNYA Aburizal Bakrie (Ical) menang. Anak buah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Kabinet Indonesia Bersatu itu memimpin Partai Golkar hingga lima tahun ke depan. Tapi sebelum hasil Musyawarah Nasional (Munas) di Pekan Baru itu kemarin final, pengamat budaya, Djoko Suud Sukahar -yang intens memantau perubahan di tubuh partai berlambang beringin itu, menganalisis terjadinya isu money politic.

Dalam tulisannya yang diturunkan detikcom, menurutnya, money politic ‘tidak haram’. Malah politik uang itu tampil secara transparan di Munas Partai Golkar kemarin.

Analisisnya, harga ‘suara’ sudah disepakati, dan semua pemilik suara telah diberi panjar. ‘Nilai suara’ itu untuk sementara berada di kisaran Rp 100 juta sampai Rp 200 juta. Tapi diprediksi bisa melambung hingga Rp 500 juta per suara. Edan !

Akibat ‘hujan duit’ yang digelontorkan para kandidat itu, maka secara alami beberapa calon ‘tak berduit’ gugur dengan sendirinya. Keinginan besar Yuddy Chrisnandi, Ridwan Hisjam, serta Ferry Mursidan Baldan ikut tarung jadi mimpi di siang bolong. Bagai cebol merindukan bulan.

Tinggal tiga kandidat yang bersaing ketat rebutan memimpin Golkar. Mereka adalah Aburizal Bakrie, Surya Paloh, dan Tommy Soeharto. Tiga calon ini diuji duitnya, strategi memenangi, serta pengaruh pribadi untuk merebut simpati.

Tak salah jika Kota Pekanbaru, tempat Munas Partai Golkar kali ini ibarat padang Kurusetra. Sebuah medan pertempuran. Perang bubat. Laga untuk mempertaruhkan segalanya. Sebab jika kalah akan kehilangan kans ‘memerintah’, kehilangan harga diri, serta duit dalam jumlah banyak. Aroma ‘perang’ itu terbaui hari-hari ini melalui klaim dukungan yang riuh di mana-mana.

Politik transaksional memang tak terhindari. Hanya repotnya, ‘berdagang’ dengan ‘orang pinter’ itu dilematis. Apalagi yang ‘diperdagangkan’ adalah politik, komoditas yang tak jelas bentuknya. Maka di tengah taburan uang yang ditebarkan, suara yang sudah dibeli pun belum tentu kepegang. Sebab tak sedikit ‘daerah’ yang ‘teken kontrak’ di semua kandidat.

Lihat saja skenario yang gagal terealisasi. Menurut Djoko Suud, yang telah memprediksi kemenangan Ical, ada dua kelompok berencana melokalisasi peserta. Utusan dari daerah seluruh Nusantara dikumpulkan di Jakarta dan berangkat bersama ke Pekanbaru pakai pesawat khusus. Sedang kelompok lainnya mengajak dengan cara yang sama melalui Kota Denpasar, Bali.

Namun langkah itu batal dilakukan. Peserta daerah menolak halus tawaran itu. Dengan politis mereka berdalih ‘pengelompokan vulgar’ selain tidak ciamik juga mencederai demokrasi. Apalagi Partai Golkar telah lama memproklamasikan diri sebagai partai modern yang menjunjung tinggi asas demokratisasi. Ini alasan yang dinilai untuk menaikkan nilai tawar.

Akibat itu, kendati hampir semua peserta telah menerima ‘uang panjar’, peta kekuatan calon pemimpin umum Partai Golkar masih terselimuti kabut tebal. Kabut misteri itu akan terkuak secara evolutif di arena Munas. Penguaknya, apalagi kalau bukan ‘transaksi ulang’, simbiose uang, jabatan, peluang, serta persepsi personal terhadap Partai Golkar ke depan.

Misteri kekuatan ketiga kandidat itu memang menarik untuk dianalisis. Sebab tiap kandidat yang tampil mengantongi plus minus. Kelebihan dan kekurangan. Mulai dari Aburizal Bakrie yang terkuat, Surya Paloh runner up, serta Tommy Soeharto yang kuda hitam.

Ketiga calon ini telah siap dana. Konsep jer basuki mawa bea dalam pakem Jawa mereka sadari sepenuhnya. Jauh-jauh hari mereka ‘sisihkan’ soal ini, untuk melakukan ‘deal-deal’ di daerah. ‘Deal’ itu yang membuat pengurus Partai Golkar di daerah ‘panen’. Panen setelah terkena puso, paceklik berat, habis dedel-duwel kalah dalam pemilihan legislatif.

Panorama mendekati Munas telah mempertegas, bahwa ‘orang Partai Golkar’ itu memang ‘mata duitan’. Namun karena mereka adalah politisi ‘pinter’ yang cerdas sekaligus suka ‘minteri’, maka saya yakin mereka ber-munas tidak sekadar cari duit. Idealisasi untuk partai ini ke depan akan tetap di-nomor-satu-kan. Dengan begitu ‘penabur’ uang terbanyak tak otomatis tampil sebagai pemenang. Benarkah begitu? Kita lihat sama-sama seberapa hebat atau picik intelejensia ‘orang Golkar’ saat berenang di ‘kolam uang’.

Analisis mantan Pemred Harian POSMETRO di Jakarta ini secara tidak langsung dibenarkan Saurip Kadi, Ketua Tim Sukses Tommy Soeharto. “Secara angka Ical memang menang. Tapi secara kehormatan karakter manusia, Mas Tommy yang menang, karena beliau tidak melakukan praktek money politics dan tetap mempertahankan idealisme,” kata Saurip, di Pekanbaru, kemarin (8/10).

Menurut Saurip, fakta bahwa Tommy tidak memperoleh satu suara pun adalah bukti

dia sama sekali tidak melakukan praktek money politics. Mayjen (Purn) TNI ini menambahkan, Tommy tidak menggelontorkan uang ke para peserta bukan karena tidak punya. Jika mau mudah saja bagi Tommy untuk menghamburkan uang demi meraup dukungan. Namun hal itu tidak dilakukan Tommy karena mempertahankan idealisme.

“Kita kemarin sudah menyatakan siap Rp 50 miliar untuk tiap DPD untuk

pelaksanaan program, tapi bukan untuk membeli dukungan. Dengan uang itu mudah

saja kalau Mas Tommy mau membeli suara,” tandas Saurip.

Akbar Ketua Dewan Pembina

Sementara, menyusul Ical terpilih menjadi Ketua Umum, politisi Golkar, Idrus Marham, konon menjadi satu-satunya kandidat terkuat menjadi Sekjen Golkar pengganti Soemarsono.

“Hasil pembicaraan tadi pagi, Pak Agung tetap di wakil ketua umum, Sekjennya 95 persen Idrus Marham dan bendaharanya Setyo Novanto,” kata sumber detikcom di lingkaran utama Ical,kemarin (8/10).

Selain penunjukan Idrus, rapat inti tim Ical juga menetapkan Akbar Tandjung sebagai Ketua Dewan Pembina. “Kalau Pak Akbar kan orangnya sudah sudah teruji dan punya pengalaman banyak. Jadi sudah pas di posisi dewan pembina. Pak Agung tetap diberi pos wakil ketua karena mungkin akan diberi tugas lain,” katanya, tapi enggan menjabarkan tugas lain dari Agung Laksono.

Untuk semua kepengurusan harian DPP Golkar, Ical berjanji menyelesaikannya dengan tim formatur dalam waktu maksimal 2 Minggu. (dc)

Satu Tanggapan

  1. Selamat kepada panitia Munas golkar yang diadakan di riau…
    selamat atas kesuksesannya dalam menyelenggarakan Munas yang sungguh luar biasa…
    walaupun ada sedikit insiden kericuhan dalam Munas tersebut.

    selamat atas terpilihnya Ical sebagai Ketum Golkar periode 2009 – 2015…
    semoga dibawah kepemimpinan ical, golkar bisa lebih menjadi mandiri serta lebih cerdas lagi…
    semoga segala kejelekan dimasa lalu segera lenyap…

    semoga golkar bisa menjadi partai yang bisa bersaing serta berkompetisi dengan jujur dan bersih…
    agar tercipta pemimpin yang bersih dimana masyarakat luas mengharapkan sosok pemimpin yang bisa membawa negeri ini semakin maju dan aman.amin
    Rumah Murah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: