Plesiran ke Bali, Anggota DPRD Binjai Hamburkan Uang Rakyat


Sumber : Pos Metro Medan

Kamis, 22 Oktober 2009

BINJAI

LAIN lagi cerita dewan dari Kota Binjai. Baru sebulan dilantik, para wakil rakyat ini sudah merencanakan tour ke Pulau Dewata, Bali. Agenda ini, lagi-lagi menimbulkan kesan buruk di mata rakyat yang memilih.

Informasi yang dihimpun, jalan-jalan itu akan digelar pada 28 Oktober 2009 mendatang. Anggarannya lumayan besar, Rp 400 juta lebih untuk 30 anggota DPRD Kota Binjai, berserta sejumlah perangkat dewan lainnya.

Meski banyak perbedaan dari berbagai sisi, baik budaya, geografis, mayoritas mata pencaharian rakyat dan lainnya, tour ke Pulau Bali ini disebut-sebut untuk urusan study banding.

“Kita sangat menyayangkan sikap ini. Bukannya menindaklanjuti aspirasi masyarakat setelah dilantik, malah menghabiskan anggaran yang tidak sedikit. Seharusnya biaya itu digunakan untuk program kesejahteraan masyarakat. Sebab saat ini perekonomian rakyat sedang terpuruk,” ujar seorang sumber yang membocorkan informasi rencana tour tersebut pada Aswin, Reporter POSMETRO MEDAN di Binjai.

Informasi ini, tidak dibantah Ketua Fraksi PKS DPRD Binjai, Arjuli Indrawan. Kata dia, kunjungan tersebut dalam rangka kegiatan Pembekalan Nasional yang diadakan di Bali.

“Memang benar ada. Undangannya juga ada. Tapi itukan masih sebatas rencana saja. Kegiatannya seperti belajar,” terang Arjuli yang mengaku, secara pribadi kurang setuju dengan rencana itu. “Kalau mau belajar sih, kan nggak mesti ke Bali. Kan banyak amanah yang harus ditindaklanjuti,” katanya.

Terpisah, Togar Lubis Koordinator Kelompok Study dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-Semar) Sumut, menuding kegiatan itu hanya menghambur-hamburkan uang rakyat. “Inilah wakil rakyat kita yang sekarang. Baru saja dilantik dan belum dirasakan masyarakat sepak terjangnya, malah mau jalan-jalan,” ketusnya.

Dia mengklaim, jika rencana itu jadi, artinya masyarakat Binjai mengongkosi DPRD Binjai tour ke Bali. “Kalau hanya kegiatan Pembekalan Nasional, lihat sekeliling di mana mereka tinggal. Masih banyak yang harus dipelajari. Lemahnya perlindungan hukum terhadap kaum marginal, kemerosotan moral, meningkatkan SDM di tengah-tengah masyarakat. Kenapa harus jauh-jauh ke Bali? Kulturnya sangat jauh berbeda. Itu namanya cuma mau cuci mata,” kesal Togar. (jhonson)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: