Fakta di Balik Kriminalisasi KPK, dan Keterlibatan SBY


Sumber : faktakriminalisasi.wordpress.com

Oleh : Rina Dewreight

Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh “sang sutradara”, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.
Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan Presiden SBY.

Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan, beberapa konglomerat hitam — yang kasusnya masih menggantung pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.
Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.

Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung –katung di Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keungan untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.

Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk “melenyapkan” Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK), Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya].

Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk “menghabisi Antasari “ adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.

Nyatanya, tidak semua wartawan itu “hitam”, namun ada juga wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak berhasil.
Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan melawan SBY. Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan “alat” untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY.

Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.

Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari.

Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.
Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.

Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.

Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus “dipaksa KPK”. Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan “terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.
Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.

Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadapan. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.

Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.
Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar.
Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menagkap Anggodo!
Sumber : http://faktakriminalisasi.wordpress.com/

32 Tanggapan

  1. Hahaha…….
    Pakai hukum Islam aja
    Potong tangannya
    Kunjungi juga blog saia yang lainnya di http://rizaherbal.wordpress.com/

  2. oalah pak..kalo cuman tangan nya yg d potong,ya mash bisa pinjam tangan orang lain to.. hatinya ntu yg perlu d sunat. biar otak nya bener.

  3. gag nyangka kasusnya bakal berkulir kayak gini…
    ternyata integritas hukum di indonesia memang sangat lemah bahkan mungkin tidak berdaya sama sekali..

    semoga kebenaran segera mendapatkan jalan….
    dan skandal ini segera terbongkar agar masyarakat sipil segera tahu, siapa yang sebenarnya menjadi biang keladi atas carut marutnya bangsa ini..

    demi INDONESIA tersenyum…
    amin.. :))

  4. Assalamu ‘alaikum
    Terorisme yang menamakan islam jelas sangat merugikan islam itu sendiri di samping juga merupakan perbuatan yang merusak dan terkutuk.
    Alhamdulillah Ustadz luqman salah satu ustadz ahlussunnah sangat perduli untuk menjelaskan dan membantah faham menyimpang ini.
    Kami memohon bantuan kepada blogger untuk menyebarkan yang berikut ini. Mudah-mudahan bermanfaat buat kebaikan kita semua.
    klik yang berikut : http://abasalma.wordpress.com/2009/11/17/agar-tidak-menjadi-teroris/

  5. emang sih SBY diem aja namanya udah dicatut dan sampai sekrang Anggoro bisa bebas…sebetulnya PEMEGANG KEKUASAAN di Kita yang mana ya …Presiden Apa Anggodo ya

  6. buktinya apa??
    no bukti means hoax…
    😀

  7. kalo emang SBY seperti itu rasa kagum saya luntur… dan menyesal udah milih dia

  8. Alhamdulillah saya pilih pak JK …. saya tidak merasa berdosa karena tidak memilih SBY …. !!!!!! 🙂 jelas2 pak JK yang langsung perintahkan KAPOLRI tangkap Robert Tantular bos Century… !!!!!

  9. Pantesan rakyat indonesia banyak yang d’tanah airnya yang kaya ini pemimpinnya doyan duit sich… fuck SBY

  10. Jadi Penonton dulu ah…. kayak apa akhir dari cerita ini!!… di filmkan aja, pasi bagus

  11. antasari cuma korban, masalahnya ad di petinggi2 negara ini. setiap orang mau cuci tangan, dan sebagian lagi cm mengandalkan kekuasaan.
    beberapa org gak mau bertindak karena pernah merasa punya jasa am mereka. dan takut kl semuanya kebongkar ampe ke akar2nya.
    nice blog

  12. KENAPA PARA PEJABAT HANYA MEMIKIRKAN PERUTNYA SAJA YA? KENAPA GAK INGET SAMA MATIII

  13. mk nya pmlu di ulang aja dan angkatlah jk sbgai pmmpn trtinggi kita..

  14. saya pikir validitas informasi dari tulisan di atas masih jauh dari cukup…

  15. Fuck U SBY, smoga kau cpat MATI.

  16. kita memang sudah mengetahui cerita besar seperti ini, rakyat selalu dinggap bodoh sehingga selalu dibohongi…maka dari itu tiada kata lain…” Revolusi Sampai Mati “……!!!!!!!!!!

  17. Berani banget lu Bro…:)
    Nggak takut digaruk sama SBY apa….?

    Tapi jika benar2 lurus, SBY harusnya mengganti Kapolri misalnya dgn pak Bibit yang lurus dan Jagung dengan Adnan Buyung atau Chandra.

    Posisi KPK harus di atas Polri dan Jagung agar bisa membersihkan koruptor di situ dari level bawah sampai teratas.

    Untuk komisi baru seperti UKP4 juga tidak berarti jika Polisi bisa menangkap mereka…:)

    Harusnya UKP4 ini anggotanya cukup 7 orang/kurang sehingga kalau ada yang korup mudah dibersihkan. UKP4 inilah yang mengawasi KPK, Pimpinan Polri, dan Jagung. Ada pun KPK, dengan anggota sekitar 500 bisa mengawasi Polri, Kejaksaan, Hakim, dsb.
    http://infoindonesia.wordpress.com

  18. Itu kan Hanya Opini saja, saya bukan pendukung SBY, tapi kita bisa liat dan saya merasakan negara ini lebih baik dari yang lalu2. Korupsi tu udah menjadi karakter bangsa kita, sulit untuk mengubah karakter yang sudah terjadi selama berpuluh puluh tahun, jadi tidak semudah apa yang dibayangkan, siapapun pemimpinnya sangat dan sangat sulit.. dari pada kita buat suatu opini publik dan ternyata salah dan menjadi fitnah dosa lebih baik diam,mata ini ada batasnya jadi biar aja, Kita Bisa Tertipu Tapi Allah tidak bisa ditipu.

  19. jangan main fitnah..fitnah lebih kejam dari suap…

  20. kawan..utk menjadi pahlawan keadilan lebih sulit di jaman edan sekarang ini…dr pd menjadi pahlawan perang di zaman penjajahan…terrenyuh rsanyanya hati kita ini melihat pejabat maupun pemimpin2 yg mengisi kemerdekaan dg membudayakan dirinya utk menguras kekayaan negara melalui korupsi…yang memerangi korupsi malah dihukum yg menjadi jagoan korupsi malah dijunjung..lawong jaman edan,,sing ora edan ora keduman …

  21. terusin ja bos,
    bantai yang salah dan lindungin yang benar….

  22. Kok alur ceritanya lebih nyambung dibandingkan BAP nya Susno Duaji. Feelingnya ,cerita diatas kayaknya terlibat R1

  23. bagaimanapun sby adalah presiden kita

  24. memang bisa terjadi kasus seperti, bayangkan SBY lebih memilih Boediono menjadi wapres..ini bisa menjadi asumsi kalau Boediono menadi motor penyuplai dana kampanye SBY..

  25. fuck politics and fuck you SBY

  26. Mestinya kita semua bicara SUDAH CUKUP!!!!!!!!!! berhentilah PARA KORUPTOR memeras rakyat dan negari ini , tanah – tanah sudah kering … susu para ibu – ibu miskin, anak – anak miskin , pemuda- pemudah miskin , sudah KERING !!!!!!!! hanya tinggal tulang kering , untuk bicara juga tidak sanggup lagi.

    Para KORUPTOR PEJABAT NEGARA CUKUP SUDAH!!!! jangan sampai SUNAMI YANG MENCUCI SEMUA KEBOHONGAN 2 ITU. MARI TEGAKKAN HUKUM DAN KEBENARAN ,BONKAR SEMUA KORUPSI OLEH PEJABAT KITA. GANTI DAN COPOT YANG TDK BERANI MENEGAKKAN HUKUM DAN MEMBELA RAKYAT.

  27. RAKYAT , PARA PEMUDA , IBU – IBU , ANAK 2 KAUM INTELEK MARI BERSATU , JANGAN MAU TERTIPU BUJUK RAYU PARA PEJABAT ,POLITIKUS PEMERAS RAKYAT , KITA USUNG TERUS USAHA MEMBONGKAR DAN MENGADILI PARA KORUPTOR, BANK CENTURY, KASUS BIBIT- CHANDRA. , DAN KORUPSI PEJABAT DIDAERAH 2 LAIN . JIKA SEMUA UANG KORUPSI ITU KITA KUMPULKAN MAKA RAKYAT PASTI SEJAHTERA , HARGA MINYAK PASTI KITA DAPAT KENDALIKAN, HARGA PANGAN DAPAT KITA KENDALIKAN, TRANSPORTASI DAPAT KITA KENDALIKAN.

  28. Bukti keterlibatan SBY adalah tidak dilaporkannya anggodo ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik nya. Kita masih ingat ketika transkip beredar, SBY merasa gerah namanya di catut dalam kasus perseteruan KPK dan Polri. Tapi ketika rekaman di buka di MK dan anggodo mengaku suara tsb adalah suara nya, SBY pura-pura tidak tahu lagi dengan pernyataan nya tentang namanya dicatut.
    Selain itu ketika SBY memberikan pidato tentang sikap dari rekomendasi tim 8, SBY pun sama sekali tidak menyinggung nama anggodo. Ada apa ini wahai SBY yang dalam pencitraannya selalu baik dan bersih.
    Ibarat kata Mario Teguh dalam sebuah acara di sabtu pagi di Metro TV, para pejabat kita bukan berutang budi melainkan berutang keburukan. Artinya keburukan yang sudah diberikan akan dibayar dengan keburukan untuk menutup keburukan yang telah terjadi.

  29. Wduh gak ada yg bner dwonk..Kl lge sumpah kya orang bner pdhal boongan..Kbal neraka x yah

  30. TERIMAKASIH TAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  31. Yang sabar ye semuanya,, kebaikan dan keburukan pasti akan terungkap,, tinggal kita tunggu aja semua nama yg pada di sebutin di atas, termasuk yg pada nulis di sini MASUK KE LIANG LAHAT, di tunggu aja bro!!!!!!!!

  32. WOw, artikelnya bagus 😀 thanks atas infonya ya..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: