Drama Maut Pasien Jamkesmas Jalani Operasi Caesar di RS Insani Stabat, Kalau Nggak Dokter yang Bilang Korban Keracunan, dari Mana Pulak Kami Tahu


Sumber : Pos Metro Medan

BARU saja gembira melahirkan anak pertama -meski lewat operasi Caesar, Ny. Yeni (22) malah meninggalkan alam fana ini kemarin (17/11), usai bolak-balik dirawat di RS Insani, Stabat. Warga Dusun 3 B Cambahan, Desa Pante Gemi, Kec. Stabat, Langkat itu diduga korban kelalaian medis. RS Insani menyangkal.

Yeni menghembuskan nafas terahir saat dirawat di RS Haji Medan. Duka langsung menyelimuti rumah kenangan Yeni di Dusun 3 B Cambahan. Para pentakjiah terlihat tak henti menyambangi guna mengucap bela sungkawa. Barisan berpuluh sepeda motor warga tampak memadati lorong menuju rumah duka.

Isak tangis terdengar jelas dari orang-orang di sekitar jenazah Yeni. Di antara mereka yang berduka, tampak Irfan (24), suami (alm) Yeni. Meski bersyukur mendapat keturunan, Irfan mengaku hancur.

“Tolong jangan difoto-foto, saya nggak mau masalah ini dibesar-besarkan, kami ini orang kecil,” pinta kerabat Irfan pada wartawan yang mengabadikan suasana duka. Kemarin, jenazah Yeni disemayamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Kampung Kruni, Stabat.

Kesalahan Saat Transfusi?

Cerita yang beredar pada keluarga korban, maut bermula dari kedatangan Yeni ke RSU Insani di Stabat guna melakukan persalinan. Setelah sesaat ditangani tenaga medis di rumah sakit itu, ahirnya disimpulkan: proses persalinan Yeni harus melalui operasi caesar.

Begitu peralatan medis disiapkan, pasien penguna kartu Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) ini dioperasi di salah satu ruangan Operasi RSU Insani. Itu terjadi pekan lalu, Rabu 4 November 2009. Tanpa kendala, operasi berjalan mulus di awal.

Yeni selamat melahirkan bayi dengan bobot 2,5 Kg. Bayi lelaki itu tampak sehat. Usai opname 4 hari, pihak RS Insani mengijinkan Yeni pulang.

Namun, baru sehari kembali ke rumah, kesehatan Yeni terganggu. Besoknya, dia dilarikan lagi ke RS Insani. Begitu ditangani medis dan diberi obat, Yeni dibolehkan pulang. Tapi besoknya, kondisinya kembali memburuk.

“Kalau nggak salah korban sampai tiga kali bolak-balik ke rumah sakit (Insani), waktu itu keluarga sempat mau ribut (komplain) juga sama pihak rumah sakit, tapi takutnya keluarga kami itu malah diperlakukan semakin buruk sama mereka,” kata seorang keluarga Yeni.

Tiga kali bolak-balik RS Insani, kondisi Yeni dilaporkan kian memburuk dan dia menemui ajal saat dirawat di RS Haji di Medan. Karena kejanggalan itu, “Kita sama keluarga sedang memikirkan langkah yang mau diambil, untuk sementara kita diamkan dulu,” terang Irfan saat dikontak POSMETRO MEDAN, kemarin.

Apa sebab kematian Yeni? “Kami taunya dari rumah sakit di Medan, waktu istriku diperiksa dokter darahnya, oleh dokter di sana (RS Haji-red) menyebutkan kalau istriku keracunan darah,” kata Irfan.

Irfan bercerita. Saat dilarikan ke RS Insani dan kondisi isterinya makin mengkhawatirkan, tim medis di sana menyarankan keluarganya segera membeli darah guna menambah darah Yeni. “Waktu itu,” bebernya, “pihak RS menyarankan kami beli darah ke PMI, harganya Rp.600 ribu, tapi karena tidak punya uang, kami mengusulkan agar pihak kami saja yang mendonorkan darahnya untuk korban. Waktu itulah darah dua orang (dari) keluarga (kami) diambil. Darah yang disedot dan dipindahkan ke Yeni waktu itu adalah darah ayah kandungnya (mertua Irfan) dan paman Yeni.” Golongan darah Yeni diketahui O.

Diduga karena salah transfusi atau darah pendonor golongan B dimasukkan ke tubuh Yeni, itulah yang membuat darah ibu malang itu keracunan. “Kalau nggak dokter yang bilang keracunan darah, dari mana pulak kami tahu,” timpal seorang kerabat yang mengaku berhari-hari menemani Yeni saat dirawat di RS Haji Medan.

“Darah Yeni tiga kali diambil sewaktu di RS Haji Medan untuk dites, hasilnya menurut dokter, Yeni keracunan darah sewaktu dirawat di tempat awal,” tambahnya.

dr. R. Suwelen, yang menangani Yeni di RSU Insani, ketika dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya mengaku, saat Yeni jadi pasiennya, keluarganya mengaku korban muntah berwarna hitam.

Karena itu, “Kita simpulkan saat itu korban mengalami pendarahan lambung dan setelah dicek Hb nya kurang dari tujuh, makanya kita lakukan transfusi darah. Saat pasien masuk, air kencing korban hanya 100 Cc, tapi setelah dilakukan infus dan sebagainya, air kencing korban membaik hingga 1500 Cc. Setahu saya, karena terus saya pantau, tidak pernah ada reaksi transfusi, seperti korban mengigil, timbul bercak-bercak merah, pasien muntah-muntah dan tubuh membiru. Kalau pun ada reaksi atau efek dari transfusi, biasanya tidak perlu menunggu sampai berhari-hari, karena kalau (darah) yang dimasukkan itu salah, saat itu juga akan timbul reaksi,” terang dr. Suwelen.

Dr. Suwelen mengaku, kondisi Yeni saat masuk RS Insani, sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering. Yeni datang dengan kondisi pendarahan lambung dan kurang gizi. “Lagi pula apa mungkin seorang dokter itu mencelakakan pasiennya, aku pemilik rumah sakit ini, apa mungkin aku mau menghancurkan punyaku sendiri,” dengan nada terdengar geram, dr. Suwelen membantah tudingan pihaknya melakukan kesalahan saat transfusi darah.

Beda Golongan Darah Akan Berlawanan

Menurut Prof. Azmi Eskar, kesalahan transfusi tak dapat membuat darah menjadi keracunan. Keracunan pada darah, urainya, terjadi karena beberapa sebab, misalnya akibat obat kimia.

Jika golongan darah pendonor yang dimasukkan ke tubuh pasien tidak sesuai, si penerima akan berlawanan, itu pun tidak sampai menyebabkan keracunan. “Jika darah yang dimasukkan tidak cocok, dia akan pecah dan berlawanan,” terangnya.

Azmi menegaskan, setiap golongan darah memiliki anti. Karena itu, tidak dibenarkan memasukkan golongan darah berbeda atau berlawanan. Namun jika terdesak, dibolehkan asalkan harus ditangani dokter berpengalaman. Pun begitu, itu tidak berlaku untuk semua golongan darah. Misalnya, golongan darah B boleh ditambah dengan darah O jika membutuhkan transfusi, tapi hanya pada waktu pertama kali atau sekali saja agar tidak terjadi perlawanan. Meski begitu, catatan medisnya, tindakan itu tidak bisa sembarangan.

Namun infeksi darah bisa terjadi karena si pendonor tidak sehat, meski pun sama pendonor dan korban memiliki golongan darah yang sama. Infeksi itulah yang akan menyebabkan demam, bisa pula shock. Tapi waktunya tidak sama pada tiap orang. “Kalau dia akut, pada hari itu juga bisa langsung bereaksi. Namun ada pula yang sampai seminggu baru bereaksi,” tandasnya. (darwis/widya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: