AKADEMISI (TENTU SAJA) BOLEH IKUT PEMILUKADA


Oleh: Shohibul Anshor Siregar

Meski dalam tingkat kejurdilan pelaksanaan yang amat memprihatinkan, namun perhelatan pemilukada sejak 2005 tercatat pernah mengorbitkan figur akademisi ke kekuasaan eksekutif di daerah. Tetapi mengingat perbedaan habitat, muncul sejumlah pertanyaan: Berapa besar tingkat keberhasilan “uji coba” para akademisi dalam perhelatan politik di daerah ini? Tidakkah sebaiknya para akademisi itu menunggu kebijakan political pointy dari penguasa?


Adakah rujukan kisah sukses para akademisi dalam perebutan kekuasaan politik di Sumut?  Tentu. Ir.H.Sukirman, Wabup Sergai, adalah seorang akademisi yang berhasil melalui pemilukada (2005). Selain dia ada Gatot Pujonugroho yang sebelum terjun total ke dunia politik dan memimpin PKS di Sumut, memang pernah sebagai dosen. Ia menjadi Wagubsu melalui pemilukada tahun 2008. Selain kedua orang ini, agaknya kita tidak punya daftar nama akademisi yang berhasil, meskipun itu sekadar Wakil saja. Perlu dicatat, baik pemilukada 2005 mau pun pemilukada 2008 tidak terlepas dari aneka penyimpangan mulai dari proses pendaftaran pemilih, perhitungan suara dan penyimpangan-penyimpangan substantif lainnya yang tidak mencerminkan martabat.

Pada era sebelumnya, di Sumut pernah tercatat beberapa akademisi yang menjadi Kepala Daerah. Di antaranya Prof.Dr.Meneth Ginting, MADE, Bupati Karo dan Almarhum Saleh Harahap, Bupati Tapsel. Karena rivalitas pada era ini berbeda dengan sekarang, maka kasusnya tidak dapat dijadikan rujukan. Sama halnya dengan kegagalan Prof.Dr.H.Usman Pelly, MA bersaing dengan Rizal Nurdin untuk jabatan Gubernur. Bagaimana pada perebutan kursi DPD? Dari 4 jatah kursi untuk Sumut, dalam 2 periode ini baru seorang akademisi berhasil lolos, itu pun bukan peraih suara terbanyak. Dialah Prof.Dr.Darmayanti Lubis. Guru besar dari USU ini berhasil setelah uji coba untuk kedua kalinya. Pada periode pertama semua akademisi berguguran.

Dalam pemilihan langsung bukan saja figur harus populer (bukan karena isyu negatif). Dengan itu terbuka peluang elektibilitas yang hanya dapat dilakukan dengan jejaring pemenangan yang mampu meyakinkan pemilih. Itu pekerjaan amat berat bagi orang yang malas “bermasyarakat”. Dengan modal itu saja tidak cukup, sebab segalanya harus dibayar. Dalam tradisi baru politik transaksional bukan saja jaringan, tetapi para pemilih cenderung tak memerlukan preferensi apa pun kecuali keuntungan sesaat berupa imbalan materi. Siapa yang paling mampu membayar, dia memiliki potensi terbesar menjadi pemenang.

Belum ada perubahan sistem pemilukada hingga dipastikan tingkat kebobrokan malah mungkin akan lebih tinggi pada 2010. Jika buruknya sistemlah sebagai salah satu penyebab kegagalan akademisi dalam politik, maka sebetulnya tidak ada alasan bagi mereka untuk maju pada musim ini.

Kemungkinan besar para akademisi lebih memilih jalur perseorangan ketimbang membayar partai sebagai perahu. Konsekuensinya harus mengumpulkan dukungan penduduk. Dalam pengamatan ‘nBASIS dalam pola yang ditempuh telah terjadi banyak kesemberonoan, baik yang sifatnya melanggar ketentuan maupun yang mengingkari strategi penggalangan. Bisa saja dengan menjalin kerjasama dengan institusi tertentu seseorang mendapat bukti dukungan fiktif dengan copy KTP. Tetapi ini potensil sekali untuk gugatan pidana. Seyogyanya dukungan harus diperoleh langsung mirip sebuah akad. Tanpa itu seseorang hanya ingin memiliki persyaratan administratif untuk sekadar lolos sebagai calon tetap. Veryfikasi faktual oleh KPUD dan jajarannya sangat mudah dimanipulasi seperti sebelumnya termasuk pada pemilu legislatif. Tetapi, dengan kesemberonoan itu seseorang sesungguhnya tidak memiliki dukungan konkrit. Inilah salah satu catatan penting pemilukada 2008 di 7 Kabupaten di Sumut.

Para akademisi boleh tercatat gagal beberapa kali dalam perhelatan politik sebelumnya. Jika semangatnya tidak juga surut mestinya kalkulasi politiknya wajib canggih, tidak sekadar asal maju. Jika selera mau jadi penguasa itu tak dapat diredam, mungkin lebih baik menunggu “fasilitas political pointy” dari penguasa sebagaimana pernah didapatkan oleh Prof.Dr.Syamsul Arifin, SH yang menjadi pejabat penting di berbagai level. Juga Prof.Dr.Djohar Arifin Husein dan Syakhyan Asmara yang menjadi Deputi Kementerian Pemuda dan Olah Raga.

Kejatuhan Orde Baru dan Momentum bagi para Akademisi

Pada masa inilah banyak akademisi terjun ke dunia politik melalui partai politik yang waktu itu mencapai 48 buah. Kita kenal Prof.Dr.M.Amien Rais yang setelah menjadi salah seorang lokomotif reformasi lalu mendirikan PAN. Prof. Dr. Budisantoso memimpin Partai Demokrat. Juga ada Prof.Dr.Manasse Malo, dan yang lain. Tentu, yang terjun ke dunia politik itu tidak didominasi pemegang gelar doktor belaka.

Satu dasawarsa reformasi para akademisi dalam ranah politik semakin surut. Ada tuntutan dalam dua dunia yang berbeda. Dalam beberapa kesempatan Amien Rais misalnya pernah mengeluhkan ketidak-siapan. Dengan amat diplomatis dia contohkan, jika ingin sukses berpolitik jangan beri kesempatan pipi kiri jadi korban setelah pipi kanan ditampar lawan. Bahkan mestinya lawan harus ditampar duluan sebelum pernah berfikir melakukan apa pun.

Politik tanpa uang, bagaimana itu bisa berjalan? Karena politik itu begitu memerlukan uang, maka lembaga legislatif-pun menjadi salah satu institusi terkorup. Para politisi bukan saja berlomba mencari benefit untuk partai, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Itulah penyebab mengapa aspirasi rakyat selalu berbeda dengan iperjuangan para wakil di lembaga legislatif dan partai politik.

Akademisi sejati mestinya memiliki motivasi amat kuat dan visi serta misi amat spesifik dan teramat penting (sangkin spesifik dan teramat pentingnya dianggap menjadi satu-satunya solusi) hingga terpaksa memilih ikut dalam perhelatan politik. Mengapa? Jawabannya karena dunia akademis dan dunia politik itu amat sangat berbeda. Kecuali bagi sementara orang yang seumur-umur mungkin cuma “bertengger” di wilayah kampus dengan atribut akademis untuk sekadar status simbol. Atau anda masih percaya meraka menggap itu moral obligation?

(Penulis Koordinator Umum ’nBASIS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: