HANYA KELEDAI YANG TAK TAHU MALU TERJERUMUS KE LUBANG YANG SAMA BEBERAPA KALI


Oleh: Shohibul Anshor Siregar

Pada saat orang sedang malas berfikir produktif, harus ada yang melakukan sesuatu. Sekecil apa pun itu. Tetapi sudah lazim dalam kehidupan sehari-hari, apalagi bila hal itu berkaitan dengan politik, apriori akan selalu muncul.

Orang sukar melihat kebenaran pada sesuatu tindakan terutama bila tindakan itu kurang mendukung terhadap hasrat dan kemauan yang dimiliki atau trend umum yang sedang berlaku. Perhatikanlah orang sering tak mau sendirian dalam kepeloporan.
INILAH sebuah buku yang terbit 5 tahun lalu untuk menandai kekhawatiran atas pemilukada langsung yang dilaksanakan untuk pertamakalinya secara bersamaan di banyak tempat di Indonesia.

Judul Lengkapnya Kota Medan Berubah Atau Ambruk, Penilaian Kritis Tokoh Masyarakat Tentang Kemajuan dan Keterbelakangan Kota Medan. Buku ini hanyalah satu produk dari upaya pendidikan politik masyarakat yang diselenggarakan oleh ‘nBASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisitif & Swadaya, berdiri tahun 1999) di tengah kecenderungan lemahnya posisi bargain masyarakat, atau untuk mengatakan yang sesungguhnya, berada pada sebuah titik kemustahilan terbebas dari pengaruh predistinatif kekuasaan yang “anti” demokrasi.

Meski fokus pada pemilukada Kota Medan, dikandung maksud dalam buku ini untuk tidak cuma memaknai kesulitan-kesulitan terstruktur yang dialami oleh Kota Medan seperti keterperangahan atas keanehan konsepsi kemetropolitanan, khayalan tentang tertib sosial, obsesi yang sukar tentang bekerja bersama dan sama-sama bekerja, banjir yang seolah didesign untuk dinikmati, kesemrawutan lalulintas yang sudah memaku diri pada nasib ala Jakarta, aksesibilitas sosial pada pelayanan umum termasuk kesehatan dan persekolahan, gengsi sosial yang naif pada ranah kemajemukan, proses legislasi yang memperlebar jarak sosial politik antara rakyat dengan birokrasi dan pemerintahan, keterbuaian dalam makna yang kurang difahami secara sempurna ungkapan “ini Medan, bung”, dan lain-lain yang lebih sederhana semisal “sulitnya rakyat menjadi rakyat”.

Sedikit perlu dikutipkan isi buku Kota Medan Berubah atau Ambruk: Harus ada perjuangan yang besar untuk Kota Medan. Sebuah cita-cita bertajuk Medan Kota Metropolitan dicanangkan sejak 5 tahun lalu. Orientasi yang demikian serius ini, tentu saja memerlukan tangan-tangan terampil dan profesional, yang tidak hanya bisa mengucapkan hal-hal yang baik (mengenai kota ini) di depan publik. Pun sebuah konsep tanpa visi rasional dan objektif, adalah kekosongan belaka. Ia berlayar tanpa tujuan, atau sekadar hanya sibuk seperti pemadam kebakaran.

Buku ini ada di tangan para kandidat yang bersaing pada tahun 2005: Abdillah –Ramli dan Maulana Pohan-Sigit Pramono Asri. Ada di tangan Ben Sukma, ada di tangan ulama Bachtiar Ibrahim, ada di tangan pendeta Eben Ezer Siagian, ada di tangan tokoh Angkatan 66 HM Soetardjo, juga Zakaria Lafau yang mantan Bupati Nias, serta di tangan Prof.Dr.Meneth Ginting, MADE. Bahkan sesungguhnya dialog bersama mereka dan tokoh lain seperti Dr.Ibrahim Gultom, MPd, Mutsuhito Solin, MPd, Indra Sakty Harahap, dan yang lain adalah dasar buku ini.

Di tangan relawan-relawan ‘nBASIS buku ini adalah sebuah mission imposible, yang (waktu itu) sambil membagikannya kepada masyarakat, juga berusaha memamahkannya kepada setiap orang yang mereka temui. Mereka yang tak ikut berdialog pun memilikinya, katakanlah si “Paijo” atau Gandalapus Siregar yang, siapa pun yang duduk mendominasi ranah kekuasaan politik, tak merasa perlu tahu tentang mereka kecuali untuk sekejap di bilik suara. Karena menurut salah seorang anggota senior ’nBASIS yang wartawan, Nirwansyah Putera Panjaitan, banyak orang yang memerlukan buku ini meski tak tahu bahwa ia sungguh perlu buku ini. Buku ini bukan hasil buah tangan seorang pengarang, melainkan rumusan-rumusan aspiratif warga kota yang dibahasakan oleh orang-orang ‘nBASIS.

Bergunakah berbicara sekritis ini pada saat sekarang? Seperti dulu dan seperti biasanya saja, ‘nBASIS berusaha mewakili trend yang secara sepintas terkesan minoritas dan sungguh tidak populer atau mungkin kaya resiko. Itu tidak megapa, karena berbicara kebenaran dengan kemungkinan besar dikucilkan jauh lebih penting dari hasrat kepopuleran dan penggantangan segepok suguhan seperti yang lazim terlaksana dalam ”diplomasi meja makan” yang rendah dan menjijikkan.

Buku ini didesign untuk mewakili pikiran bening yang secara laten bersemi kuat di antara belantara yang demikian pekat dalam satu arus umum yang dianggap paling sah dan paling mewakili semua kepentingan yang ada. ‘nBASIS mempersiapkannya tidak pada niat untuk memperlebar jurang pemikiran di antara perbedaan kepentingan yang sudah tidak mungkin lagi terhindari.

Sesungguhnya, buku ini pun tidak hendak menonjolkan perbedaan itu, melainkan sekadar menunjukkan ada sesuatu yang tidak selalu sama dan cenderung kurang dipahami atau dibiarkan saja sedemikian rupa untuk tidak difahami.
(Penulis: Koordinator Umum ’nBASIS)

Satu Tanggapan

  1. mengapa tidak:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: