Terjadi di Langkat, Tak Hafal PR, Murid Dirotan


Sumber : Pos Metro Medan

pm/aswin. Yulva menunjukkan memar di punggungnya.


BRANDAN-KEKERASAN fisik tenaga pengajar kembali terjadi. Kali ini dialami seorang murid Lembaga Pendidikan Islam Darul Munawarah, Jl. Sutomo, Pangkalanbrandan, Langkat. Pelajar tersebut dipukul rotan hingga meninggalkan bekas memar di punggungnya.

Adalah Adinda Yulva (11), korban kekerasan itu. Siswi yang tinggal di Jl. Dahlia, Gg. Usman, Kel. Brandan Timur Baru, Kec. Babalan, Langkat, mengaku dipukul gurunya, Khadizah alias Izah (30), karena tak mampu menghafal pekerjaan rumah (PR) yang dikerjakannya.

Kekerasan itu diterimanya pada Tanggal 11 September lalu. Tak terima dengan perlakuan Izah, orangtua Yulva pun membuat laporan ke Polsek Pangkalanbrandan : STPL No. Pol .: 525/ XI /2009 /LKT/ Brandan.

Ditemui POSMETRO MEDAN kemarin, Yulva mengaku perlakuan kasar itu bukan yang pertama. Sebelumnya, Izah juga pernah memukulnya dengan rotan. Saat itu, beber Yulva, dia baru saja masuk sekolah, setelah 5 hari tidak masuk. Akibatnya, sulung dari 2 bersaudara ini enggan melanjutkan pendidikan.

Sayang, Kapolsek Pangkalanbrandan AKP Mhd Sofian Sinaga yang coba dikonfirmasi, tidak bisa dihubungi. Sementara, Kapolres Langkat AKBP Mardiono Sik Msi, mengaku akan mengecek kasus tersebut. “Kita akan cari tahu sampai di mana penanganannya,” ungkap Sofian.

Guru Jewer Siswa

Kekerasan guru juga dialami Galuh Wisnu Setiawan. Perlakuan itu dikarenakan siswa kelas I SDN 064994, Jl. Marelan Raya, Kel. Tanah Enam Ratus, Kec. Medan Marelan, ini berdiri di bangku kelas. Akibatnya, kuping Wusni bengkak, sehingga susah tidur.

“Anakku menangis saat mau tidur, katanya kupingnya sakit. Setelah kulihat, ternyata kuping kanannya merah dan bengkak,” ucap Jajang (37), orangtua Wisnu yang ditemui POSMETRO MEDAN usai buat pengaduan ke Polsek Labuhan, Rabu (9/12) siang.

Esoknya, Jajang yang tak terima dengan perlakuan guru itu, N Br Panggabean, lansung mendatangi sekolah anaknya. “Masa dia (N Br Panggabean( bilang anakku itu bandel kali dan sering bermain dalam kelas. Karena itu dia menjewer kuping anakku. Masih untung tidak ditampar, begitu katanya. Kesal kali aku mendengar jawaban guru itu,” beber Jajang. Karena mendapat jawaban yang tak memuaskan, warga Jl. Paku, Gg. Pendidikan, Kel. Tanah Enam Ratus, langsung buat laporan polisi.

Nuraida Br Panggabean, guru sekaligus wali kelas I Wisnu, mengaku telah minta maaf kepada orangtua Wisnu. “Aku sudah minta maaf sama mereka. Tapi mereka tetap tak mau terima. Padahal, saat kejadian itu anak didikku itu disuruh mengerjakan tugas, tapi dia malah jalan-jalan dalam kelas. Tugas yang kusuruh pun malah dikasihnya sama temannya untuk dikerjakan. Sedangkan dia main ke bangku belakang sambil membawa buku gambar dan bercerita sama temannya. Kek mana aku gak kesal, berulang kali kusuruh duduk di bangkunya, dia tak perduli,” jelas Br Pangaribuan.

Sementara, Kepsek SDN 064994 Tajuddin mengaku akan berupaya menempuh jalur damai. “Kita upayakan untuk berdamai. Kalau damaikan lebih baik dari pada berseteru. Kita akan menjumpakan kedua belah pihak,” ungkapnya.

Kanit Reskrim Polsek Labuhan Iptu Antoni Rajagukguk, mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan atas laporan korban. “Kita masih memeriksa saksi-saksi dan kasus ini masih dalam penyelidikan,”singkatnya.(dian/joko)

Cari Hukuman Mendidik

KEKERASAN fisik yang dilakukan 2 oknum guru di atas sangat disayangkan. Seperti yang dikemukakan Koordinator Divisi Litigasi Pusaka Indonesia Elisabeth Juniarti Perangin-angin SH. Menurutnya, “Guru itukan membina. Boleh saja menegur muridnya yang bandel, tapi ada batasannya.”

Dia mengakui ada anak bandel yang baru bisa diam kalau sudah dipukul. Tapi ia mengingatkan, agar guru tidak berlebihan dalam memberi hukuman itu. “Kalau cuma dijewer sekali terus bengkak, berartikan terlalu keras dan mungkin pakai alat atau apa, makanya diselidiki dulu bagaimana kejadiannya. Tapi kalau memukul pakai rotan, itu sudah kelewatan,” ungkap Juni.

Untuk itu Juni menyarankan, sebaiknya guru memberi hukuman yang sifatnya lebih membina daripada harus menggunakan kekerasan, apalagi sampai menyakiti murid hingga meninggalkan bekas.

“Orang tua juga harus bijak menyikapi sifat anak. Kalau anak mengadu mengenai kejadian di sekolah atau perlakuan dari gurunya, orang tua harus mencari tahu tentang yang sebenarnya dan membimbing anaknya,” imbuh Juni seraya mengatakan, sifat bandel pada anak-anak cukup wajar, tapi kalau berlebihan orangtua juga ikut bertanggungjawab. (widya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: