Tudingan PPMT Sumut Terkait Konversi Minah, Syamsul Pembohong Besar


Sumber : Pos Metro Medan

Jumat, 18 Desember 2009
MEDAN-KELANGKAAN Minyak Tanah (Minah) semakin membuat masyarakat terpuruk. Karena tidak bisa menyelesaikan masalah ini, Persatuan Pangkalan Minyak Tanah (PPMT) Sumut menuding Gubsu H. Syamsul Arifin sebagai pembohong besar.

Tudingan itu mereka sampaikan saat menggelar demo di kantor Gubsu, kemarin (17/12).

“Kami akan terus orasi jika tuntutan tidak dituruti. Dimana hati nuranimu Pak Syamsul. Kami Kesal Syamsul,” teriak coordinator lapangan, Suryanto.

Menurut mereka, Pemprovsu hanya mencari selamat dengan beralibi konversi akibat ketersediaan minyak menipis. “Janji rakyat tidak miskin dan tidak bodoh, hanya bohong. Buktinya rakyat semakin susah, Pak gubernur,” ujar Suryanto.

Menurut para agen Minah itu, kebijakan konversi hanya upaya akal-akalan untuk menguntungkan pihak tertentu. “Ini kebijakan yang tidak fair dan tidak punya prikemanusian, rakyat disengsarakan,” katanya. Pendemo juga menyesalkan tindakan Pertamina yang hanya menyalurkan minyak non subsidi.

Hampir sejam berorasi, perwakilan massa diterima staf biro ekonomi Setdaprovsu, Jalinus. Tapi karena tidak bisa bertemu Gubsu, massa tetap ribut. Melihat situasi itu, Jalinus hanya diam. “Harga minyak non subsidi bisa sampai Rp 9000 per liter, itu namanya penzoliman,” terang Binsar.

Sementara itu, menanggapi banyaknya keluhan masyarakat atas konversi, Direktorat Jendral (Ditjen) Minyak dan Gas menggelar Semiloka dalam kegiatan edukasi dan sosialisasi program konversi di Hotel Dharma Deli, kemarin (17/12).

Piere J Wauran, Kepala Operasi PT. Pertamina Region I Sumatera mengungkapkan, pengalihan ini cukup baik terutama dari segi kesehatan. Dimana, LPG lebih bersih ketimbang minah. “Memakai gas itu meningkatkan kesehatan. Karena gas lebih bersih dan tidak kotor,” imbuhnya.

Menurutnya, Indonesia merupakan pengguna minah terbanyak di dunia. Jika konversi tercapai 100 persen, maka minah dapat dialihkan menjadi avtur yang keuntungannya tentu jauh lebih besar. “Minyak tanah bisa dijadikan avtur melalui proses, tinggal dihilangkan kadar airnya saja,” ungkap Piere.

Seperti diketahui, pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 5 2006 tentang kebijakan Energi Nasional. Tujuan kebijakan ini antara lain, melakukan efisiensi anggaran pemerintah.

Manfaat lain dari konversi minah ke LPG ini adalah mengurangi polusi udara di rumah, menghemat waktu memasak dan perawatan alat memasak, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, peningkatan potensi nilai tambah minyak tanah menjadi bahan bakar avtur.(widya)

Cetak Berita Ini

2 Tanggapan

  1. lagi2 dilema minyak tanah lum diselesaikan dgn baik seusai konversi gas…(duh)

  2. Hajar terus wid…..jng bela pemerintah yang tidak tanggap akan keluhan rakyatnya yang semakin tertindas….kelangkaan BBM di picu oleh pejabat sendiri yang menjadi mafia berdasi……jangan ada menyerah dalam membela aspirasi yang tertindas……..hasil bumi merupakan hak semua rakyat…tanah air tumpah darahku tp nyatanya air dan tanah jg masih sewa…..ok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: