MORALITAS AKADEMIK: GEORGE JUNUS ADITJONDRO


Oleh: Shohibul Anshor Siregar

TERNYATA puncak gerakan peringatan hari anti korupsi se-dunia yang dirayakan dengan unjuk rasa yang (jadinya) bermassa tak seberapa tanggal 9 Desember 2009 di Monas itu belum menjadi akhir pesan Indonesia untuk bersih (Indonesia Bersih). Masih ada George Junus Aditjondro dengan sebuah moralitas akademik yang tegak menyuruh baca MEMBONGKAR GURITA DI CIKEAS yang segera saja menghebohkan itu.. Pansus Skandal Bank Century sendiri telah memiliki alasan untuk menjadikan buku “kado akhir tahun” ini sebagai referensi untuk tugas berat yang mereka emban.

George Junus Aditjondro begitu berbeda dari teriakan-teriakan jalanan yang kebanyakan memang menghangatkan. Baiklah itu sebagai pembagian tugas tanpa koordinasi saja. Akan berbeda implikasi politiknya, karena memang telaah dengan bukti-bukti seperti yang dibuat oleh sosiolog dari Salatiga ini susah dibendung oleh sasaran. Inisiatif ilmiah George Junus Aditjondro memang langka di Indonesia .

Kampus-kampus besar (nama) seperti tak perlu dan merasa tak bertanggung jawab atas nasib negeri yang mestinya tidak mungkin tidak dapat difahami. Ilmuan mungkin memiliki beberapa kewajiban dasar, di antaranya, pertama, menjelaskan (explanation) atas fenomena yang terjadi dan kedua, meramalkan (prediction) ke depan. Semua itu bermuara pada tanggung jawab moral. Apa yang terjadi di Indonesia bahkan boleh disebut sepi. Ambil contoh proses pemilu. Kampus memiliki organ atau satuan kerja bernama Forum Rektor yang dibentuk untuk memberi pemantauan atas jalannya perhelatan lima tahunan itu. Amat tidak mungkin forum ini tak menemukan penyimpangan-penyimpangan substantif. Ketika memilih lebih baik tiarap daripada menginterupsi segala bentuk penyimpangan substantif itu maka kampus menjadi terasa begitu hambar nilai.

George Junus Aditjondro bukanlah orang pertama dari kalangan akademisi yang berhadapan dengan pemerintah karena moralitas akademik. Deliar Noer pernah mengalaminya dan bahkan konon harus pergi ke Australia karena seolah menjadi persona non grata di negeri sendiri. Ismail Sunny juga mengalami itu. Apakah karena resiko seperti itu yang membuat para akademisi memilih menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau anggota Korpri yang “baik-baik” saja? Ini tidak jelas sama sekali. Jika selama ini ada suara radikal dari kampus, itu cuma mahasiswa yang menggerakkan protes dari jalanan.

Belum lama Amien Rais meneriakkan protes atas praktik korporatisme yang penuh korup di negeri ini melalui bukunya SELAMATKAN INDONESIA. Tetapi ia kini tampak seolah mengalami metamorfosis politik bukan karena usia yang menbuatnya seperti berpuasa berdakwah. Karena jika alasan usia malah Ahmad Syafii Maarif rekannya dari Muhammadiyah yang kantornya dibongkar maling kemaren, yang usianya lebih tua, justru tidak mengganggap perlu berpuasa meneriakkan sesuatu yang perlu untuk kemaslahatan bangsa.

Reaksi SBY

Buku yang belum diluncurkan secara resmi itu ternyata mengalami musibah “penghilangan” dengan alasan yang simpangsiur. George Junus Aditjondro akan menghadapi gugatan sesuai adab akademis “buku lawan buku”. Dalam dialog yang difasilitasi oleh salah satu stasiun tv Jakarta kemaren, George Junus Aditjondro menegaskan hal itu dan bahkan tak sedikit pun merasa moral obligation yang dilakukannya harus direvisi, bahkan ketika dihadapkan dengan salah seorang yang disebut-sebut dalam bukunya sebagai bagian dari gurita Cikeas itu.

SBY tidak nyaman. Dalam pidatonya saat menghadiri Peringatan Natal 2009 di Jakarta Convention Centre menyesalkan berkembangnya fenomena yang menurutnya adalah tabiat dan perilaku fintah dan perilaku kasar bernuansa kekerasan. Bagaimana seharusnya menyikapi buku George Junus Aditjondro?

Dulu seorang pendeta bernama Victor Immanuel Tanja menulis tentang HMI yang menurut komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia ini perlu direvisi. Sikap mereka pada umumnya bermacam-macam, mulai dari yang emosional sampai yang rasional. Agussalim Sitompul, akademisi dari IAIN Yogyakarta, yang konon dikenal sebagai “perpustakaan berjalan HMI” itu termasuk salah seorang di antara yang memilih sikap rasional dan membuat buku bantahan. Victor Immanuel Tanja menghadiri forum yang diselenggarakan oleh HMI dan di antaranya mempertemukan kedua tokoh. Itu yang terbaik, dan George Junus Aditjondro tak perlu merasa waswas akan mengalami perlakuan yang pernah terjadi sebelumnya.

(Penulis: Koordinator Umum ‘nBASIS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: