ILUNI KEHILANGAN KEPERCAYAAN KEPADA KEPEMIMPINAN NASIONAL


Oleh: Shohibul Anshor Siregar

• Setelah buku Gurita Cikeas dari George Junus Aditjondro, ILUNI Jakarta menutup tahun 2009 dengan pernyataan kehilangan kepercayaan atas kepemimpinan nasional;
• Ada apa dengan perguruan tinggi hingga begitu pasif menyaksikan perkembangan tak sehat di lingkungannya?

ILUNI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia) Jakarta menegaskan bahwa tahun 2010 adalah tahun perlawanan. Dalam rekomendasi 30 Desember 2009 yang sekaligus merupakan refleksi akhir tahun, kelompok ini memberi judul “seruan” tertulisnya dengan nada menggugat almamater “Peran Universitas Indonesia Dalam Menyelamatkan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”. Ada apa dengan Universitas Indonesia? Ada apa dengan almamater?

Rekomendasi 7 butir ini ditandatangani 29 orang, di antaranya Hariadi Darmawan, Chudry Sitompul, Bagus Satriyanto, Biner Tobing, Akmaldin Nur, dan lain-lain.

Menelaah pada perjalanan bangsa, ILUNI Jakarta menyesali pilihan neoliberal untuk Indonesia selama 42 tahun sebagai biang ketergadaian kedaulatan, harkat dan martabat bangsa. Alur pikiran yang disusun berawal pada gugatan terhadap legitimasi kepemimpinan nasional melalui pemilu 2009 yang berlangsung penuh kecurangan. Mereka menyesali kesadaran politik semu yang berpangkal pada metode “penyunglapan” kebenaran berdasarkan trend perspektif juridis formal yang mengabaikan rujukan juridis filosofis dan sosiologis. Tidak menjadi aneh jika dengan sendirinya Indonesia memulai kembali lembaran kenegaraan dan kebangsaannya dengan situasi saling tidak percaya, terbiasa melanggar, dan kehilangan ketauladanan serta terancam disintegrasi.

”Kebenaran juridis formal itu justru menunjukkan bahwa demokrasi dalam balutan dan sanjungan citra positif di panggung politik justru telah mengabaikan makna terdalam dari ruh kedaulatan rakyat yang masih ditindas oleh struktur ekonomi neokolonoialis”. Demikian bunyi rekomendasi butir ke 3.

Dalam penegasannya tentang kepemimpinan nasional yang sibuk mengurus diri sendiri dan selalu siap memilih jalan melankolis untuk dan atas nama bangsa dalam menanggulangi problematika rakyat, ILUNI Jakarta menyesalkan akibat yang tidak terhindari berupa penegakan hukum tanpa muatan keadilan. ILUNI Jakarta tidak segan-segan menyatakan bahwa pihaknya telah kehilangan kepercayaan kepada kepemimpinan nasional.

ILUNI Jakarta pun mendakwa: “Jalan keluar atas situasi itu adalah mengembalikan Pancasila sebagai pedoman ideologi perjuangan bangsa, mengingat semakin masifnya kekuatan neoliberalisme yang memorak-porandakan sendi kehidupan bangsa”.
Krisis pertanggungjawaban.

Dari keseluruhan bunyi rekomendasi tidak terdapat penjelasan eksplisit tentang judul yang menggugat almamater sendiri itu (Peran Universitas Indonesia Dalam Menyelamatkan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara). Kemungkinan saja ke 29 penandatangan rekomendasi ini telah sampai kepada kesimpulan tentang keniscayaan peran yang mestinya dimainkan oleh almamater mereka, sebagaimana almamater-almamater lain di Indonesia dengan, sekiranya dianggap cukup, menjalankan fungsi-fungsi normatif saja berdasarkan tri dharma perguruan tinggi. Jika perjalanan negara dan bangsa ini telah salah selama 42 tahun (menurut ILUNI Jakarta) dengan pemosisian diri sebagai bagian mata rantai “kerajaan” neoliberalisme, almamater tidak boleh “tiarap”.

Memang cukup mengherankan jika kampus yang sering dijuluki sebagai institusi yang identik dengan kekuatan moral force tidak berbuat sesuatu yang seharusnya atas berbagai ketidak-beresan yang terjadi. Ketimpangan sosial semakin lebar dan korupsi semakin menjadi kebiasaan yang “dimaafkan”. Malah belakangan isyu yang lebih mengemuka dari kampus justru kekhawatiran halayak atas pemosisian kampus sebagai badan usaha komersial atas nama BHMN (Badan Hukum Milik Negara).

Dalam setiap pemilu sejak tahun 1999 kampus memiliki organ kerjasama antar perguruan tinggi untuk mengawasi jalannya perhelatan politik 5 tahunan itu. Organ kerjasama itu diberinama Forum Rektor. Tetapi, di tengah buruknya penerapan demokrasi dan dengan kecenderungan yang lebih buruk sampai pemilu terakhir (2009) Forum Rektor justru tidak pernah menunjukkan sesuatu sebagai respon pertanggungjawabannya sebagai lembaga ilmiah.

Untuk perkembangan buruk lainnya perguruan tinggi juga terkesan tidak ingin tahu. Hanya mahasiswa yang menggelar demonstrasi, dan itu bukan bagian dari pertanggungjawaban perguruan tinggi. Itulah yang sering diberitakan oleh media dari berbagai kota besar di Indonesia sehingga perguruan tinggi seolah masih selalu membela masyarakat. (Antara satu dan lain kota terdapat perbedaan sensitivitas mahasiswa. Di Sumatera Utara mahasiswa tidak merasa punya urusan meski media sudah memberitakan keterangan pejabat KPK tentang dugaan kuat atas korupsi gubernur saat menjabat Bupati Langkat selama 2 periode sebelumnya. Di Indonesia timur dan beberapa daerah di Jawa, kasus kecil saja bisa membuat kota seperti dalam keadaan perang akibat ketegasan mahasiswa yang berhadapan dengan kepolisian dan petugas-petugas lain dari birokrasi).

George Junus Aditjondro

Menutup tahun 2009 George Junus Aditjondro menggugat Indonesia yang membiarkan begitu saja kemenangan Partai Demokrat dan SBY dalam dua babak pemilihan itu. Ia menuduh ada proses penghalalan segala cara (Machiavelli) yang rumit dan tersembunyi (hidency) dengan modus penarikan uang secara tidak sah dari berbagai sumber yang akhirnya merugikan masyarakat. Gurita Cikeas dilukiskannya sebagai mesin pengadaan uang berkedok berbagai yayasan.

Lihatlah George Junus Aditjondro menjadi seorang yang benar-benar kesepian di tengah banyaknya Universitas dan akademisi bergelar profesor yang berdamai dengan segala bentuk ketidak-beresan. Seakan menyindir pedas, ia pun menyatakan dirinya pelaku Presidential Election Watch di tengah watch-watch yang ada, baik yang memusatkan perhatian kepada politik, hukum dan kegilaan korupsi. George Junus aditjodro bukan lembaga. Ia seorang diri menunggu perguruan tinggi sadar diri atas tanggungjawab moralnya.

Penulis: Koordinator Umum ’nBASIS

Satu Tanggapan

  1. Ketidakpercayaan juga sejenis penyakit, bisa menular ke mana-mana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: