Kasus Langkat Tunggu 2 Alat Bukti


sumber : Harian Sumut Pos

JAKARTA-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) gerah juga dituding ada yang mengintervensi melalui kehadiran makelar kasus dalam menangani dugaan korupsi senilai Rp102,7 miliar di Pemkab Langkat. Juru Bicara KPK Johan Budi SP bahkan berani memastikan, penanganan kasus Langkat itu tidak akan dihentikan alias jalan terus. Dia menjelaskan, proses penyelidikannya memang harus ekstra hati-hati agar begitu dibawa masuk ke tahap penyidikan, bukti-bukti yang didapatkan sudah kuat.

”Proses penyelidikan memang memerlukan waktu agar bukti-bukti yang kita dapatkan cukup kuat karena KPK tidak mengenal SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan, red),” ujar Johan Budi kepada koran ini di gedung KPK, kemarin (6/1).

Dengan tegas, dia membantah tudingan adanya ’permainan dari orang dalam’ di KPK dalam pengusutan kasus ini. Malahan dia katakan, isu-isu semacam itu sudah biasa menerpa KPK, termasuk ketika melakukan pengusutan perkara korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran dan APBD Kota Medan dengan tersangka Abdillah dan Ramli.

”Itulah, orang sering bikin isu. Isu seperti itu dulu juga muncul saat menangani kasus Medan. Tapi buktinya, kita selesaikan juga,” ujar Johan. Mengenai tudingan ’orang dalam bermain’, Johan menjamin itu tidak ada. “Kalau ada, saya yang pertama kali keluar dari sini (KPK, red),” tandas mantan wartawan itu
Dalam kesempatan tersebut, Johan juga membantah rumor yang sempat beredar yang menyebut KPK akan melimpahkan kasus Langkat ke kejaksaan. Ditegaskan, kalau sudah masuk tahap penyelidikan, tidak mungkin KPK melimpahkan kasus ke aparat hukum yang lain. Begitu pun, KPK juga tidak akan menghentikan kasus yang sudah masuk tahapan penyelidikan. “Secara normatif, jika masih tahap penyelidikan, memang bisa tidak diteruskan

Tapi selama ini tidak ada yang tidak diteruskan,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, KPK memang bisa saja tidak melanjutkan sebuah kasus. Tapi, hal itu bisa terjadi tatkala kasus masih dalam tahap telaahan di KPK. “Sementara, kasus Langkat ini sudah melewati tahap telaahan, kini sudah masuk tahap penyelidikan,” urainya.

Kapan akan naik ke tahap penyidikan? “Tunggu saja,” cetusnya. Dia tegaskan, dalam bekerja KPK tidak berdasarkan tekanan dari pihak mana pun. “Tapi tergantung alat bukti. Kalau sudah ada dua alat bukti yang cukup, ya naik,” ucapnya.

Johan mengatakan hal tersebut terkait statemen Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Pidi Winata yang dalam keterangannya Selasa (5/1) mengatakan, seluruh aktivis BEM mengaku kecewa lantaran KPK yang diharapkan sebagai pendekar pemberantasan korupsi, ternyata malah melemah. Masyarakat juga pasti kecewa, kata Pidi, karena beberapa waktu lalu memberikan pembelaan habis-habisan kepada Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto saat menerima perlakukan kriminalisasi. Faktanya sekarang KPK malah lembek. “Ada apa dengan KPK? Kenapa begitu lamban bergerak? Adakah yang mengintervensi lembaga ini?” ujar Pidi.

Pernyataan lebih lugas disampaikan Korwil BEM Jabodetabek, Gempar Dwi Pambudi. Dia mengatakan, berdasarkan hasil penelusuran sejumlah aktivis, memang ada dugaan kuat terjadinya intervensi kekuatan tertentu ke para pimpinan KPK. Gempar mengaku mendapat informasi dari para pegawai fungsional di KPK, yang menyebutkan kerja mereka seringkali terbentur oleh sikap pimpinan.

Sering terjadi, kata Gempar menirukan pegawai fungsional KPK yang ditemuinya, tim penyidik sudah mendapatkan bukti-bukti yang cukup untuk menangkap atau menahan tersangka. “Namun, ketika minta tanda tangan pimpinan untuk melakukan penahanan, tidak diberikan itu tanda tangan. Ini informasi dari orang dalam KPK, yang tidak bisa saya sebutkan namanya. Kita mendapatkan sumber-sumber dari internal KPK bahwa ada pelemahan sistematis,” ujar Gempar. Pimpinan KPK tak mau meneken surat penahanan dengan dalih bukti-bukti masih kurang. “Padahal, menurut para staf, bukti sudah cukup,” kata Gempar.

Sebelumnya, Senin (4/1), satu tokoh Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Ray Rangkuty mengatakan, “Kasus-kasus di tingkat nasional yang mendapat perhatian publik saja hilang begitu saja, tidak jelas. Apalagi kasus-kasus di daerah seperti kasus Langkat itu.”

Lebih lanjut Ray mengaku menjalin komunikasi dengan sejumlah aktivis antikorupsi yang ada di Medan, yang menyatakan sudah kesal lantaran melihat penanganan kasus Langkat ini tampak mandeg. “Kawan-kawan di Medan sudah agak kesal. Bagi warga Sumut, kasus ini sudah jelas siapa aktornya, tapi KPK belum juga menetapkan tersangkanya. Ini hampir final, tapi jadinya malah mandek,” cetus Ray.

Dukungan agar KPK bekerja cepat dan efektif datangdari praktisi hokum di Medan. “Saya pikir, ada trauma tersendiri di tubuh KPK pasca kriminalisasi lemabag itu yang melibatkan Bibit-Chandra. Mereka jadi sangat berhati-hati mengambil keputusan, sehingga masyarakat menilai kinerja mereka terkesan lamban dan jalan di tempat,” kata Praktisi Hukum Universitas Sumatera Utara Julheri Sinaga SH, Rabu (6/1).
Julheri berharap sikap terlalu berhati-hati itu harus cepat diubah. Sinaga juga berharap agar KPK segera mengusut tuntas kasus korupsi yang ada di Sumut. Diantaranya kasus dugaan korupsi Pemkab Langkat yang merugikan negara senilai Rp102,7 miliar.
“Saat sekarang ini masyarakat Sumut butuh KPK untuk memberantas korupsi, kalau perlu KPK harus dibentuk di Sumut, agar kasus korupsi yang ada di Sumut dapat dituntaskan,” tegasnya.

Wakil Direktur LBH Medan Muslim Muis meminta KPK tidak cengeng dalam memberantas korupsi, terutama korupsi yang terjadi di Sumut. “KPK jangan takut karena rakyat pasti mendukung dalam pemberantasan korupsi, terutama korupsi di Sumut,” ucapnya.
Muis juga mengatakan bukan hanya kasus Langkat saja akan tetapi kasus -kasus korupsi lainnya yang ada di Sumut harus menjadi prioritas KPK untuk segera diberantas.(sam/rud)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: