Pemilukada Kota Medan 2010: KEJUTAN DALAM GUGUS PERSEORANGAN


Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ‘Nbasis:
Pemilukada Kota Medan 2010: KEJUTAN DALAM GUGUS PERSEORANGAN


Meski ada khabar bahwa beberapa pasangan bakal gagal mencalonkan diri karena masalah jumlah dukungan, namun Kota Meedan sudah mencatatkan 8 pasangan peminat. Berikutnya, sesuai tahapan pemilukada Kota Medan, setelah secara resmi pendaftaran untuk calon perseorangan ditutup menjelang pergantian hari tadi malam, akan mendaftar pasangan-pasangan calon yang diusung oleh Partai. Mereka yang akan menyusul itu kita sebut saja pasangan gugus partai.

Banyak kejutan dari pendaftaran 8 pasangan perseorangan tadi malam itu, meskipun selama ini orang-orang itu sudah ”mblusak-mblusuk” dari lingkungan yang satu ke lingkungan yang lain dan dari satu ke lain pertemuan dengan segenap manuever yang sering melibatkan jasa media massa. Kejutan-kejutan itulah yang menjadi pokok bahasan tulisan ini.

Presiden jadi Balon Wakil Walikota.

Kasim Siyo, seorang pemimpin komunitas Jawa yang terkenal di Sumatera Utara, bahkan mendapat pengukuhan di komunitasnya sebagai pejabat resmi Presiden ikut mendaftar. Presiden Putra Jawa Kelahiran Sumatera (PUJAKESUMA) ini rela menjadi bakal calon Wakil untuk Bahdin Nur Tanjung. Martabat dari jabatannya di tengah komunitasnya tentu tidak boleh secara simplistis diukur dari peran pentingnya pada institusi padepokan Tunggal Roso Nuswantoro yang dibangun beberapa tahun lalu di sekitar Patumbak, Deliserdang. Bahwa ia adalah seorang pejabat penting yang untuk sekian lama dapat merepresentasikan mayoritas penduduk Jawa di Sumatera Utara, tidak dapat dipungkiri. Dia pernah penjabat Bupati di Sergai saat awal pemekaran yang tugas pokoknya pada masa kepemimpinan Gubernur Rizal Nurdin itu adalah mensukseskan pelaksanaan pemilukada pertama di daerah itu. Sepintas pertanyaan yang muncul dari kejutan ini ialah, mengapa orang sebesar dia mau jadi bakal calon Wakil Walikota? Tentu jawabannya panjang. Namun itu tentu sebuah keputusan setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk daya genggamnya secara plitik untuk komunitas Jawa. Ia sudah cukup lemah, terutama jika dihubungkan dengan asosiasi-asosiasi komunitas Jawa yang amat jamak saat ini.

Gubernur jadi Balon Walikota.

Rudolf Matzuoka Pardede adalah gubernur yang menggantikan Rizal Nurdin karena meninggal saat kecelakaan pesawat terbang di tengah masa jabatan. Tak berhasil mendapatkan ticket dari partai yang dipimpinnya, PDIP, Rudolf Matzuoka Pardede gagal mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumatera Utara pada tahun 2008. Ia pun menyalurkan kekecewaannya dengan banyak hal, termasuk mendorong puteranya Salomo Pardede masuk ke partai lain dan kini menjadi salah seorang anggota legislatif di DPRDSU. Ia juga berhasil memenangkan 1 dari 4 jatah kursi DPD dari Sumatera Utara dengan keunggulan perolehan suara dibanding ketiga pesaingnya( Damayanti Lubis, Rahmat Shah dan Parlindungan Purba.
Gubernur menjadi Walikota? Itulah nilai kejutan terpenting dari Rudolf Matzuoka Pardede. Dengan dalih mengabdi tanpa batas waktu, dikhawatirkan pula putera sulung pengusaha ternama almarhum Tumpal Darianus Pardede ini pada tahun 2013 akan maju pula dalam pemilukada Gubernur Sumatera Utara. Apa modalitasnya dalam menjajal arena pemilukada kota Medan? Pertama imagenya sebagai orang kaya tentu tidak boleh disepelekan dan itu pernah ia kesankan sebelum ini. Juga kenyataan bahwa meski diawali dengan kontroversi yang amat berbau sara, namun akhirnya masa jabatannya yang singkat di puncak kekuasaan eksekutif Sumatera Utara bisa diselesaikan dengan tanpa gonjang-ganjing. Jika di Sumatera Utara dengan wilayah yang luas dan problematika pembangunan yang lebih jamak bisa ”lulus”, maka pekerjaan di Medan (bila terpilih) wajar dianggap lebih mudah.

Legitimasi seorang Afifuddin Lubis.

Semula Rudolf Matzuoka Pardede akan menggandeng seseorang dari kalangan muslim dengan atribut kekiyaian dan mungkin pernak-pernik seperti serban di kepala, tasbih di tangan dan lain-lain. Kepandaian udolf Matzuoka Pardede mengharuskan acungan jempol kepada orang-orang di balik permainan ini, di antaranya Ramses Simbolon. Meski pun kejutan ini lebih pantas ditujukan kepada Ramses Simbolon, tetapi perhatikanlah Afifuddin Lubis sudah menjadi legitimasi hidup bagi Rudolf Matzuoka Pardede.
Betapa tidak, ia seorang intelektual yang berkarir di birokrasi dan semua orang tahu tipikalnya yang khas. Jujur dan bahkan amat hati-hati kalau bukan penakut, pejabat Walikota Medan yang digantikan oleh Rahudman Harahap karena masa pensiun ini juga pernah ”dibedah” amat pedas oleh Prof.Dr. H.Usman Pelly, MA dengan tuntutan upah-upah mengembalikan ”tondi” Afifuddin yang dianggap lemah dalam menjalankan amanah sebagai pejabat Walikota Medan. Nyaris tak ada kreasi dan inisiatif, Afifuddin mendapat banyak sekali sorotan.
Keberuntungan Rudolf Matzuoka Pardede mendapatkan Afifuddin Lubis juga termasuk, dan mungkin inilah yang lebih penting, ialah simbolisasi keterwakilan aspirasi primordial orang muslim dalam pasangan mereka. Memang tidak mudah jika para pembuat fatwa berbicara melampaui kewibawaan tradisional para pembesar-pembesar etnik tabagsel (tapanuli bagian selatan) dalam konteks haru aya mardomu bulung. Jangan-jangan muncul pula hujatan kelak yang memposisikan Afifuddin Lubis sebagai komprador yang tak pantas disambut dengan ”gondang” sembilan. Dalam hal kepemimpinan masih sangat berpengaruh pandangan antagonistik antar agama yang dalil-dalil qth’i (definitifnya) bukan bersumber dari interpretasi bersifat ijtihadi, melainkan rujukan pada nash-nash yang shahih. Afifuddin Lubis bisa dianggap orang yang malang dengan obsesi amat menyedihkan.
Tetapi tentu semua sudah dihitung begitu cermat dan strategi untuk memberi jawaban terhadap persoalan yang begitu musykil ini harus dianggap sudah selesai di lingkungan advisory team Rudolf Matzuoka Pardede dan Afifuddin Lubis.

Orang Cina dan Orang Nias. Dari gugus pertama berjumlah 8 pasangan ini orang Jawa bukan lagi sebagai kekuatan yang perlu disegani. Mereka sudah berada dalam posisi korban politik dengan munculnya sejumlah nama di hampir setiap pasangan.

PASANGAN BAKAL CALON
WALIKOTA/WAKIL WALIKOTA MEDAN 2010-2015
GUGUS PERSEORANGAN
NO NAMA PASANGAN BAKAL CALON SUKU-BANGSA

1 Arief Nasution Mandailing
Supratikno Jawa
2 Bahdin Nur Tanjung Pesisir
Kasim Siyo Jawa
3 Datuk Chairil Anwar Surbakti Karo
Aja Faisal Mansur Melayu
4 Indra Sakti Harahap Angkola
Delyuzar Harris Minang
5 Joko Susilo Jawa
Amir Mirza Hutagalung Tapteng/Toba
6 Rajamin Sirait Toba
Adi Munasip Jawa
7 Rudolf Matzuoka Pardede Toba
Afifuddin Lubis Mandailing
8 Syahrial R Anas Minang
Yahya Sumardi Jawa

Dari kedelapan pasangan ini sudah ada 5 orang jawa dalam pasangan yang berbeda, dan jika nanti parpol mengajukan calon dipastikan masih akan ada orang Jawa lagi.

Hal yang wajib dinasehatkan kepada parpol hari ini, jika ingin menang, tutuplah pintu buat orang Jawa baik sebagai bakal calon Walikota maupun Wakil. Itu tidak menguntungkan lagi untuk elektibilitas. Sedangkan orang yang selama ini boleh disebut setara premus interpares Kasim Siyo sudah berada pada posisi sulit, dijamin takkan ada lagi orang Jawa yang lebih berbobot. Lalu kalangan mana lagi? Keterwakilan Cina, Simalungun, dan Nias belum terlihat. Jika ada konsistensi preferensi perilaku memilih berdasarkan primordialitas kesukuan maka orang Cina, orang Simalungun dan Nias patut dipertimbangkan.

Akademisi. Selain Soekirman (Wakil Bupati Sergai) dan Gatot Pujonugroho (Wagubsu) kiranya kita tidak punya catatan tentang keberhasilan akademisi dalam dunia pergulatan politik di Sumatera Utara. Akademisi (sejati) bukan orang yang mahir dalam lapangan politik praktis dan jika ada akademisi yang mahir bermain di sisik kebobrokan nilai, hukum dan tradisi luhur politik sekarang ini, maka dipastikan itu bukan akademisi sejati yang lazimnya berbakti kepada negara dan bangsa melalui tri dharma perguruan tinggi. Pesimisme seperti itulah yang muncul ketika para akademisi ikut mencalonkan diri dalam pemilukada kota Medan. Namun siapa tahu, Bahdin Nur Tanjung (berulankali gagal sebatas bakal calon) dan Arif Nasution (pernah gagal DPD) memiliki strategi jitu. Patut ditunggu.

Catatan Kegagalan. Sebagian besar dari figur-figur yang mencalonkan diri ini adalah orang-orang yang pernah tercatat gagal dalam perebutan politik eksekutif dan legislatif. Jalur perseorangan sudah mengakomodasi obsesi mereka paling tidak untuk satu tahap. Tahapan berikutnya masih panjang dan lebih rumit dan menyita sumberdaya yang fantastis.
Tidak ada rumus orang gagal akan selamanya gagal. Namun jika tidak ada kalkulasi yang matang, pencalonan ini bisa menjadi tambahan baru tentang kisah kegagalan. Semoga ini bukan sebuah euforia politik (lagi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: