Kasus Perambahan Hutan TNGL Sapo Padang, Polisi Ancam Tembak, Saksi Terpaksa Teken BAP


sumber : Pos Metro Medan

Jumat, 22 Januari 2010
STABAT-KASUS dugaan perambahan hutan TNGL Sapo Padang, Desa Batu Jonjong, Kec. Bahorok, Langkat yang dituduhkan Poldasu terhadap Seri Ukur Ginting alias Okor Ginting, terus menuai kontroversi. Apalagi sebelumnya Kalakar Humas Poldasu menuding Okor telah merusak 4000 hektar hutan milik negara. Tapi, keterangan polisi langsung dibantah Okor, menurutnya lahan yang ia kuasai itu adalah kawasan enclave alias lahan di luar TNGL dengan ahli waris Oka Landas Kembaren.

Bahkan, tentang perambahan hingga 4000 hektar yang disebutkan tadi, menurut Okor jelas mengada-ada dengan tujuan menyudutkan dirinya sekaligus upaya membunuh karakternya. Apalagi, pihak Poldasu seakan memaksakan orang yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini adalah Okor. Diarahkanya Okor sebagai tersangka dalam kasus ini, seperti yang diungkap Ginting (27) warga Dusun Simbelin, Desa Batu Jonjong, Kec. Bahorok yang jadi saksi dalam kasus itu. Meski telah menandatangani berita cara pemeriksaan (BAP), tapi Ginting berjanji akan mencabut keterangannya waktu itu. Pasalnya, bilang Ginting pada POSMETRO MEDAN, Kamis (21/1) di Stabat, saat menandatangani BAP ia tidak diperkenankan untuk membacanya. “ BAP itu sudah dipersiapkan sama polisi dari awal, aku hanya disuruh menandatangi saja. Kata polisi itu, kalau aku ngak tandatangan akan masuk DPO dan bila tertangkap akan ditembak,” ujar Ginting.

Cerita Ginting, penanda tanganan BAP itu berawal dari kedatangan petugas Poldasu ke rumahnya, Kamis (17/12) 2009 sekitar pukul 17.00 Wib. “Kalau kau nggak datang ke Poldasu. Kau akan kami jadikan sebagai DPO yang bila tertangkap kau akan kami tembak, dan di Indonesia inipun kau sudah tidak bisa bekerja lagi,” ancam polisi sembari mencabut pistol dari pinggangnya. Tak pelak, ancaman tembak itu membuat Ginting jadi keder. Keesokan harinya, Jum’at (18/12) sekitar pukul 11.00 Wib, Ginting pun dijemput dari rumahnya oleh beberapa warga pengarap di tempat itu diantaranya Kemaleman, Bukti, Yusuf dan Indra. Menurut pengakuan keempat orang ini waktu itu, mereka disuruh oleh Bripka Bobbi Hendra untuk menjemput Ginting untuk selanjutnya akan diboyong ke Poldasu di Tanjung Morawa.

“Kata mereka saya akan dibawa ke Poldasu di Tanjung Morawa hari itu guna dimintai keterangan sebagai saksi dalam perkara Sasenta Karo-karo, Rudi Suranta Sembiring dan Setia Sembiring, mereka memaksa saya untuk mengatakan tau tentang perkara tersebut dan tidak boleh bilang tidak tau oleh Kemaleman Cs,” ketus Ginting. Ternyata Ginting bukannya dibawa ke Poldasu melainkan dibawa ke sebuah warung ponsel di pingir Jalan Bukit Lawang. Rupanya ditempat itu Bripka BH dan dua petugas lainnya telah menunggu. Tak berapa lama Bripka BH selaku penyidik pembantu melakukan pemeriksaan terhadap Ginting ditempat ini. “Saya tidak dibawa ke Poldasu, tapi saya diperiksa dan dimintai keterangan di kedai ponsel itu,” jelas Ginting. Saat itulah Ginting disodori beberapa lembar kertas yang telah diketik sebelumnya.

Oleh petugas ini, selanjutnya Ginting disuruh menanda tangani berkas yang belakangan ia ketahui adalah BAP itu. “ Waktu itu saya diancam sama polisi yang namanya BH untuk menandatangani keterangan yang sudah dipersiapkan terlebih dulu oleh mereka, saat saya minta untuk dibaca mereka juga tidak mengijinkan, karena takut saya tandatangani juga surat itu,”aku Ginting. Usai menandatangani surat tersebut, Ginting kemudian diberikan uang sebesar Rp 150 ribu oleh BH sambil mengingatkan Ginting untuk tidak buka mulut kepada siapa saja tentang semua ini. “ Jangan kau bilang-bilang sama orang kalau saya telah memeriksamu di warung ponsel pingir jalan ini, dan jangan bilang juga kalau saya beri uang untuk ongkosmu pulang,” bilang Ginting mengutip kalimat petugas saat itu.

Meski telah diperingatkan untuk tidak buka mulut oleh oknum polisi tadi, tapi Ginting merasa tidak terima dengan BAP yang ditandatanganinya itu. Keterangan sekaligus kesaksian saya waktu itu akan saya cabut, karena saya dipaksa sama polisi untuk menandatangani BAP yang saya tidak tau isinya. Dan jika ditanya perihal pembuatan jalan dari Sembelin ke Sapo Padang tahun 2008 yang mengerjakannya adalah rekanan (pemborong) pertapakan rumah Dinas Sosial bukannya Okor Ginting Cs. Kalau tidak salah yang mengerjakan jalan dari Shawmil atau kilang kayu menuju Lau Gambir diawasi oleh Lului PA selaku penunjuk jalan yang digaji oleh Areh PA.

Bahkan lanjut Ginting, pengerjaan proyek itu mengunakan alat berat (Excavator) merek Hitachi warna merah yang telah selesai kontrak kerjanya pada September 2009 lalu dengan operator beko bernama Sudar. Saat pengerjaan jalan tersebut, yang menentukan arah pembuatan jalan menuju lau Gambir, adalah Lului PA dibantu oleh Areh PA. Begitu juga dengan pembuatan jalan menuju tanah Sada Kata PA yang terlibat langsung pengerjaannya mulai dari Kilang Kayu Tampubolon menuju Lau Gambir di Dusun Sapo Padang. Intinya Lului tau persis siapa sebenarnya pemilik Kilang kayu (Shawmil) tersebut yang pastinya bukanlah Okor, tandas Ginting. (Darwis)

Satu Tanggapan

  1. TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: