Sidang Lanjutan Dugaan Korupsi Dana Bansos, Oknum Wakil Ketua Dewan Terima Rp30 Juta


sumber : Harian Sumut Pos

Tuesday, 16 February 2010

LANGKAT- Nama mantan Wakil Ketua DPRD Langkat, berinisial AGS disebut dalam persidangan dugaan korupsi dana Bansos Rp3,4 Miliar tahun 2008 dengan terdakwa Kakandepag Langkat, Ilyas Lubis dan mantan Kakandepag, Abd Djawat Syukri di Pengadilan Negeri (PN) Stabat, Senin (15/2).

“Saya ingat Oktober 2008 lalu, ada dua kali diperintah kepada Kakandepag Langkat Ilyas Lubis untuk menyerahkan uang ke Wakil Ketua DPRD Langkat, AGS. Jumlah uangnya Rp30 juta,” kata Kasubbag TU Kandepag Langkat, menjawab pertanyaan jaksa saat persidangan.

Sayangnya, ketika majelis hakim mempertanyakan uang dimaksud, Zulham tak mengetahui persis kegunaan ataupun tujuan uang tersebut. Namun disebutkan jika uang dimaksud diberikan Ilyas langsung di ruang kerjanya setelah memanggil Zulham.

Dalam sidang itu ada delapan saksi yang dihadirkan, salah satunya Zulham. Sementara tujuh saksi lainnya merupakan guru-guru Madrasyah Aliyah diantaranya Marlita, Fatima Zahra, Annisa dan Arifin. Dalam persidangan mereka mengaku tidak pernah menerima honor seperti yang disebutkan selama ini.

Bahkan, para saksi ini mengetahui nama dan tanda tangan mereka dipalsukan setelah dipanggil pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Stabat guna dimintai klarifikasi atau keterangan atas bantuan dimaksud.

Menanggapi keterangan saksi, terdakwa Ilyas menyebutkan tidak pernah berhubungan atau berurusan langsung dengan para saksi. Pasalnya, kewenangan itu telah diserahkan kepada kepala seksi (Kasi) masing-masing sesuai tugas pokok dan fungsinya.

Artinya, sambung Ilyas, secara pribadi tidak pernah tahu tanda tangan atau nama saksi dicatut karena menerima berkas disodorkan dan juga telah ditanda tangani staf atau kasi.

Sementara, terdakwa Djawat Syukri tidak hadir dalam persidangan karena masih dalam kondisi sakit. Kepastian itu diperoleh setelah menghadirkan Syamsul Bahri dokter dari RSUD Tj Pura. Berdasarkan analisis medis, disebutkan Djawat menderita komplikasi yakni Diabetes Meletus (DM) dan Dispepsia yang merupakan pengaruh dari DM menyebabkan gangguan di bahagian perut.

Terpisah, Penasehat Hukum (PH) kedua terdakwa, Hasnul Arifin, saat ditemui wartawan seusai sidang terkait penyerahan uang kepada Ghazali yang rumornya merupakan suap atau pelicin menyusul disetujuinya permohonan bantuan atau proposal Depag ke Pemkab Langkat (dana Bansos), enggan memberikan komentar.

Alasannya, Hasnul tidak ingin mendahului jalannya persidangan dan menyerahkan sepenuhnya kepada terdakwa. “Saya tak ingin mendahului persidangan, biarlah nanti terdakwa menjawabnya di persidangan,” elak dia. (ndi)

Satu Tanggapan

  1. Cerita lama dari dulu Indonesia gudangnya korupsi
    =====================================
    Tertarik tentang SQA masuk sini http://sqaindonesi.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: