Pemilukada Kota Medan 2010: MAKIN DICACI, RUDOLF AKAN MAKIN MENGUAT


sumber : http://nbasis.wordpress.com


SALAH SATU kejutan terpenting dalam pemilukada kota Medan 2010 ialah majunya mantan Gubsu Rudolf Matzuoka Pardede (RMP) sebagai salah satu calon. Kesediaan mantan Pejabat Walikota Afifuddin Lubis menjadi Wakil bagi RMP juga harus pula dicatat sebagai kejutan penting lain. Mengapa? Mantan ”Walikota” yang baru saja pensiun, tiba-tiba muncul lagi sebagai calon Wakil di daerah yang baru saja ditinggalkannya. Ia yang dikenal tak pernah “berani” berbuat sesuatu untuk Medan, tiba-tiba seolah punya modalitas baru. Pokoknya Afifuddin Lubis dalam manuever politik ini seolah bukan lagi Afifuddin Lubis yang pernah disarankan diberi upah-upah (karena dianggap lemah tondi atau spirit) oleh seorang Anthropolog dari Unimed Usman Pelly, PhD. Muncul pula pertanyaan dari banyak kalangan, apakah ia sekadar korban politik atau memang tukang manuever politik yang amat taktis dan pragmatis.

Jika tersedia waktu dan kesempatan yang cukup, sesungguhnya ada sejumlah kejutan penting dan menarik dibahas, yang bersumber dari diri RMP dalam kaitannya dengan perhelatan pemilukada kota Medan 2010 yang akan berlangsung tanggal 12 Mei nanti. Tetapi posting ini hanya akan menceritakan sedikit tentang sesuatu, seputar ijazah RMP. Bukan yang lain.

Kubu manakah gerangan yang ingin dan merasa mampu menggagalkan pencalonan RMP dalam pemilukada kota Medan 2010? Shootlah dia tentang keabsahan kepemilikan ijazah, maka ceritanya akan panjang. Bisa sepanjang kekuasaan eksekutif tertinggi di negeri ini.

Alkisah Rizal Nurdin mendapat angin baik dari PDIP yang akan mendukungnya untuk menjadi Gubernur, melanjutkan tugas yang sudah diembannya satu periode di Sumatera Utara. RMP yang kala itu adalah Ketua PDIP Sumatera Utara, dipasangkan untuknya dan siap bertarung melalui pemilihan di gedung DPRD. Itu terjadi pada tahun 2003.

Ia tidak mungkin tidak tahu bahwa RMP bermasalah dalam hal sejarah persekolahan dan bukti-bukti autentik ketamatan, kelulusan dan bahkan persekolahannya itu sendiri. Waktu itu ada pansus yang ditugaskan untuk penyelenggaraan pemilihan, yang juga tidak perlu diragukan bahwa para pemimpin dan anggotanya sama-sama tahu apa yang akhirnya menjadi pengetahuan publik yang amat luas di Sumatera Utara: bahwa RMP sungguh diragukan pernah sekolah dengan sempurna dan tamat atau pun lulus untuk beberapa jenjang, kalau bukan semuanya.

Tak lama setelah kemenangan pasangan ini, “keributan” politikpun terjadi. Rizal Nurdin terkesan diam. Dalam diam itu terkesan Rizal Nurdin tak merasa terancam jika RMP akan lengser karena kasus ijazah. Begitukah? Tentu. Mereka itu paket. Jika satu gugur karena tak memenuhi persyaratan untuk mencalonkan diri, maka pasangan itu gugur pula. Jangan cari pasal dalam UU tentang ini. Disini cuma perlukan pendalaman ruh perundangn-undangan.

Di DPRD Sumatera Utara sudah terjadi blok yang berbau sara yang kental karena semangat yang berbalas tentang pelengseran RMP sekaitan ijazahnya itu. Pihak Kepolisian menjadi “pemain” kunci. Presiden Megawati Soekarnoputri merestui saja pasangan bermasalah ini, dan atas nama Presiden hadirlah Mendagri Hari Sabarno melantiknya.

Tragedi sebuah maskapai penerbangan di suatu pagi, saat mencoba tinggal landas dari bandara Polonia, yang sampai kini tak pernah jelas sabab-musababnya, terjadi seperti sebuah keniscayaan untuk perubahan penting bagi RMP. Penerbangan pagi itu gagal, terhempas dengan menimpa rumah penduduk, tak jauh dari ujung landasan. Rizal Nurdin ada di sana, bersama orang-orang penting lainnya. Tak lama kemudian, seolah tak peduli energi politik yang dicurahkan untuk menolak RMP, Mendagri M Ma’ruf atas nama Presiden SBY pun datang ke Medan dan pelantikan RMP sebagai Gubernur Sumatera Utara berlangsung lancar. RMP menjadi Gubernur yang untuk sebagian orang bahkan untuk statusnya sebagai Wakil Gubernur pun dianggap tak pantas.

Ingin disampaikan kepada mereka yang bersemangat menolak RMP dengan dalih sejarah persekolahan dan kepemilikan ijazah, urusan ini pelik. Pada saat yang bersamaan di Padangsidempuan ada seorang wakil Kepala Daerah yang tersangkut soal ijazah, dan lengser. Hukum berbicara lain, dan begitu ramah untuk RMP. Tentang ijazah para pejabat di negeri ini, agaknya bukan hal yang dianggap serius untuk ditangani. Di Sumatera Utara saja, tak kurang dari pejabat eksekutip tertinggi juga disebut-sebut oleh media juga bermasalah. Tetapi itu suara masyarakat dan media, bukan suara kebenaran yang mesti diselesaikan secara adil oleh hukum untuk sementara ini. Ya, paling tidak untuk sementara ini, selagi semua institusi penegak hukum masih dipimpin oleh orang-orang yang kurang memiliki komitmen. Frustrasi yang dalam seperti ini sudah lama. Lihatlah misalnya gambar di samping, sebuah cerminan yang menunjukkan (https://ksemar.wordpress.com/?s=Togar+Lubis) masyarakat nyaris tak percaya kepada mekanisme hukum. Masih harus diyakini Satgas Pemberantasan Mafia Hukum tidak akan mempunyai keberanian untuk sekadar mengintip saja tentang ini. Itu pasti.

Secara substantif begitu mudah pembuktian hukum untuk menentukan status RMP dalam kasus ini. Bayangkan, surat keterangan tentang persekolahannya di SMA Penabur Sukabumi akhirnya menjadi terang benderang karena di sekolah itu hanya pernah ada siswa bernama Rudolf Takapente, bukan yang lain dan tidak bermarga. Padahal dalam persyaratan pendaftaran sebagai calon Wakil Gubernur RMP mengajukan dirinya sebagai mantan siswa dan pernah memperoleh ijazah dari sekolah itu sesuai dengan surat keterangan kepolisian yang dibuat atas pengakuan hilangnya dokumen di sebuah rentang jalan yang pendek di Medan.

Jika hari ini RMP sudah menjadi anggota DPD, maka kira-kira bagaimanalah Irham Buana Nasution bersama para komisioner (KPUD) Sumatera Utara lainnya memberi pengesahan sebagai calon saat mendaftar tempohari? Semua orang tahu ia pernah mengaku tamatan SMA Penabur Sukabumi. Jika dokumen lama itu juga yang diajukan, tentu Irham Buana Nasution posisinya makin salah. Jika misalnya dengan “ijazah baru”, katakanlah hasil kemudahan yang diberikan negara kepada warganya (paket C), juga tak luput dari kewajiban dan kepatutan mempertanyakan RMP sebagai alumni ini dan pemegang ijazah itu. Itu urusan Irham Buana Nasution dan para komisioner lainnyalah.

Tetapi jika hari ini KPUD Medan mempermasalahkannya, bahasa apakah yang sebaiknya muncul dari KPUD Sumatera Utara? Meskipun kewenangan berbeda, untuk pengajuan RMP sebagai calon anggota DPD tempohari tetulah KPUD Kota Medan terlibat dalam proses veryfikasi.

Dua Mendagri dalam rezim yang berbeda. Dua Presiden dalam resim yang berbeda. Beberapa Kapolda dalam masa jabatan yang berbeda di Sumatera Utara. Semua memihak kepada RMP. Jika kali ini dia juga akan mengukir sukses terbaru yang lain, itu bukan kejutan tentunya.

Ada satu keyakinan kuat bahwa semakin “dicaci maki” malah peluang kemenangan bagi RMP akan semakin tinggi dalam pemilihan. Mengapa? Kuncinya solidaritas. Menyaksikannya dalam hujatan pasti mudah sekali menarik simpati dan dukungan politik bagi sebagian yang lain. Kristalisasi sikap dan dukungan amat mudah terjadi untuk konteks ini, dan RMP sudah membuktikan itu berulangkali.

Maka hematlah energi. Masih banyak pekerjaan lain yang menunggu tangan-tangan terampil dan fikiran bening-tulus. Akan halnya negara yang memperkenankan keberlangsungan semua yang dianggap aneh-aneh itu, relakan saja menjadi urusan para elit yang sudah diberi wewenang untuk melakukan perubahan yang diperlukan. Bilamana melalui pemilu yang baru usai merasa tidak juga memiliki perwakilan di lembaga legislatif, maka sebaiknya tunggu saja pemilu berikut untuk membalas orang-orang yang tidak amanah. Jangan pilih lagi nanti. Hanya bargaining serupa itu yang dimiliki rakyat, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: