Sidang Korupsi Langkat, Camat Keringat Dingin Jadi Saksi


sumber : Pos Metro Medan
Jumat, 26 Maret 2010

Langkat-Sidang lanjutan dugaan korupsi yang melibatkan Mantan Kaban Kesbang Linmas Langkat, Drs Suhyar Mulianto Msi dan Kaban Kesbang Linmas definitif, Agustari kembali digelar kemarin (25/3) di PN Stabat.

Untuk sidang Sukyar Mulianto, majelis hakim membukanya diruangan sidang utama. Sedangkan sidang dengan terdakwa Agustari dibuka diruangan sidang lainya atau persisnya bersebelahan dengan ruangan Humas Pengadilan Negeri. Sidang yang beragendakan mendengarkan keterangan saksi-saksi camat ini, berjalan ketat. Majelis hakim yang diketahui Elviyanti Putri SH didampingi hakim anggota Fitra Dewi Nasution SH serta Ida Safriani SH memimpin jalannya sidang Agustari.

Beberapa camat yang diminta hadir memberikan keterangan tampak tegang saat duduk dikursi pesakitan memberikan kesaksian. Dari pantuan POSMETRO MEDAN, camat yang datang dan memberikan keterangan yakni, Rajanami YS, Sekula Singarimbun, Sutrisuanto, T. Auzai.

Sebelum menjadi saksi disidang Agustari, para camat ini juga diminta memberikan keterangan dipersidangan Sukyar Mulianto yang digelar bersamaan. Dugaan korupsi yang dilakukan kedua terdakwa terjadi pada tahun 2008 lalu dimana saat itu Pemkab Langkat telah mengucurkan dana Kamtibmas (Stabilitas) sebesar Rp.1,7 Milyar lebih yang dananya diambil dari APBD Langkat. Namun oleh kedua terdakwa, dana yang telah diangarkan buat penanganan Kamtibmas dan Poskodes tersebut tidak disalurkan secara benar.

Bahkan, sebagian besar uang tersebut dikorupsi oleh keduanya karena banyak pihak yang seharusnya menerima tapi kenyataannya tidak mendapatkan. “Hasil penyelidikan dan audit BPK jumlah kerugian atau uang yang dikorupsi sebesar Rp1,7 Milyar, dan dari jumlah tersebut, Sukyar Mulianto diduga telah memotong sebesar Rp500 juta dari jumlah angaran.

“Kalau dana stabilitas, saya hanya menerimanya sebesar Rp3.750.000. Sedangkan uang Poskodes sebesar Rp2 juta Buk Hakim, dan penerimaannya setelah saya menandatangi kwitansi kosong yang telah diberi materai serta stempel,” ujar Sekula seraya menyebut orang yang memberinya uang waktu itu adalah Khadijah selaku Bendahara Kesbang Linmas Langkat.

Lanjut Sekula lagi, awal pencairan dana tadi, bermula setelah sebelumnya digelar rapat Muspida sekitar bulan Maret 2008 membicarakan persiapan Pilkada yang akan dilaksanakan. Usai rapat yang dihadiri seluruh camat se-Langkat tersebut, dari bisik-bisik, para camat diarahkan untuk datang ke Kantor Kesbang Linmas mengambil uang yang katanya dana Stabilitas serta Poskodes.

“Saya dapat informasi dari kawan kalau siap rapat ke Linmas,” aku Sekula. Di Kesbang Linmas, telah ada puluhan camat. Waktu itulah, Sekula bersama beberapa rekannya yang juga camat masuk ke dalam ruangan Bendaharawan Linmas, Khadijah. “Kalau saya ngak salah waktu itu kami ada lima orang yang masuk,” akunya. Saat itu, oleh Khadijah langsung disodori selembar Kwitansi kosong yang telah ditempel materai serta stempel.

“Saya hanya disuruh tandatangan kwitansi kosong, kemudian saya diberi uang Rp3,750 juta, saya tidak tau berapa sebenarnya jumlah angaran yang harus kami terima, untuk dana stabilitas saya ada mengambil 4 termin dengan besaran uang Rp3,750 juta. Sedangkan Poskodes sebanyak dua termin sebesar Rp2 juta,” ujar Sekula seraya mengaku percaya dengan Kesbang Linmas hingga dirinya mau menandatangi kwitansi kosong tadi.

“Kalau masa Pak Sukyar Mulianto saya cuma terima Rp3,750 juta, tapi masa Kaban Linmas ditangan Agustari, saya menerima Rp5 juta,” tambah Sekula. Oleh Jaksa penuntut Umum (JPU) Naufal SH dan Poiman SH langsung memperlihatkan barang bukti berupa kwitansi bermaterai yang pernah ditandatangani saksi, di kwitansi tersebut tertulis kalau dana yang diterima saksi sebesar Rp.15,750 ribu.

“Kalau di kwitansi ini tertulis lima belas juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, coba bapak liat, benarkan ini tandatangan bapak, tanya JPU dihadapan majelis. “Kalau sebesar itu saya tidak pernah terima, yang saya terima hanya tiga juta lebih saja pak, tanda tangan itu memang saya punya,” akunya.

Saksi Rajanami juga mengatakan hal yang tak jauh berbeda. Camat inipun mengaku kalau saat penerimaan uang dari bendaharawan Kesbang Linmas ia hanya menandatangani kwitansi kosong. “ Saya cuma tanda tangan kwitansi kosong saja Buk Hakim,” jelas saksi.

Sidang dilanjutkan minggu depan dan masih beragenda mendengarkan keterangan saksi. Sejak sidang Kaban Kesbang Linmas ini digelar, selain dihadiri sanak dan kerabat kedua terdakwa, juga banyak PNS dilingkungan Pemkab Langkat yang bolos saat jam-jam kerja. Mereka terlihat serius mengikuti sidang kedua petingi di Linmas ini. Kedua terdakwa dijerat dengan Pasal 2 dan atau 3 UU No 31 1999 jo No 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi.(darwis)

Satu Tanggapan

  1. berantas korupsi di indonesia sampai ke akar2nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: