Seputar Sidang Dugaan Korupsi Kaban Kesbang Linmas, 4 Camat Beratkan Sukyar Mulianto-Agustari


sumber : Pos Metro Medan

Kamis, 8 April 2010
Langkat- Pengadilan Negeri (PN) Stabat, Rabu (7/4) kembali membuka sidang lanjutan dugaan korupsi dua petinggi Kesbang Linmas Langkat; Sukyar Mulianto dan Agustari. Sama seperti agenda persidangan sebelumnya, sidang kali ini juga masih mendengarkan keterangan saksi-saksi yang umumnya para kepala kecamatan (Camat) maupun mantan Camat.

Sidang yang terbuka untuk umum ini digelar didua ruangan yang berbeda. Untuk terdakwa Sukyar Mulianto, majelis hakim menyidangkan perkaranya di ruangan utama. Sementara untuk terdakwa Agustari, digelar di salah satu ruangan sidang yang letaknya persis di sudut bangunan.

Disela berlangsungnya sidang, terlihat sejumlah Camat atau pun mantan, duduk di bangku tunggu menunggu namanya dipangil untuk memberikan kesaksian terkait dugaan korupsi dana Kamtibmas dan Poskodes di Kesbang Linmas angaran tahun 2008, sebesar Rp.1,7 milyar tersebut.

Mereka tampak antri tadi, diantaranya Camat Besitang, Mawardi Natsir, mantan Camat Secanggang Eka Syahputra, mantan Camat Wampu, Hermansyah serta Mantan Camat Sawit Seberang, Nuriadi.

Dalam kesaksiannya, para camat tersebut memberikan keterangan yang berbeda. Seperti keterangan Hermansyah, mantan Camat Wampu. Ia mengaku mengetahui adanya pencairan uang di Kantor Kesbang Linmas setelah sebelumnya mengikuti rapat Muspida di Kantor Bupati Langkat. Usai rapat, dari teman-temannya sesama Camat, Herman mengaku mendengar kalau saat itu ada pencairan uang Kamtibmas.

Masih Hermansyah, katanya saat pencairan uang, dirinya hanya menerima sebesar Rp.3.750.000 dan menandatangani kwitansi kosong bermaterei yang disodorkan bendahawaran Kesbang Linmas, Khatijah. “Kwitansinya kosong pak hakim dan bermaterai, memang saat itu saya tandatangani,“ aku Hermasnyah.

Tambah Herman lagi, uang tersebut, ia pergunakan untuk memberangkatkan 7 orang stafnya ke Humbahas. “Memang kalau dibilang cukup, ya jelas nggak cukup, tapi ya kita cukup-cukupkan saja, artinya dipada-padakan,“ ujar Herman kepada majelis hakim.

Sedangkan Nuriadi mantan Camat Sawit Seberang, mengatakan kalau dirinya hanya menerima uang Kamtibmas dari Kesbang Linmas hanya Rp.2 juta, juga untuk Kamtibmas serta Poskodes Rp.1 juta.

“Kalau dana Kamtibmas saya ada menerima dua kali dengan besaran Rp.2 juta, sedangkan Poskodes sebanyak 1 kali sebesar Rp.1 juta. Kalau saya tidak salah saat itu Kaban Kesbang Linmasnya pak Sukyar Mulianto,“ aku Nuriadi.

Mengenai kwitansi yang ditandanganinya, dengan tegas Nuriadi mengatakan kalau kwitansi yang ditandatangani olehnya memang telah disediakan sebelumnya oleh bendahara. “Saya tandatangani kwitansi kosong yang diberikan bendahara, memang dikwitansi itu sudah ada materainya,“ ketus Nuriadi.

Untuk menyakinkan kebenaran kwitansi tersebut, hakim langsung memperlihatkan bukti tanda terima uang yang didalamnya tertera Rp.15.750.000.

“Apakah benar ini tanda tangan saudara, coba lihat dulu kemari,“ panggil hakim sambil memperlihatkan selembar kwitansi yang telah di photocopy. “Itu memang tandatangan saya pak hakim, tapi kalau mengenai jumlah seperti yang tertera di kwitansi, saya tidak tahu karena waktu itu kwitansinya kosong,” terang saksi ini.

Ditanya hakim apakah ada pertangungjawabpan penggunaan uang tersebut, Nuriadi mengaku tidak ada. “Tidak ada perintah sama kami untuk mempertangungjawabkan masalah uang itu,” aku Nuriadi. Saksi Eka Syahputra dalam keteranganya mengaku kalau dia tidak mengigat secara detail perkara ini. “Memang saya ada terima uang dari Kesbang Linmas, jumlahnya sebesar Rp.3.750.000.

Majelis hakim yang diketahui Elviyanti Putri SH didampingi hakim anggota Fitra Dewi Nasution SH serta Ida Safriani SH yang memimpin jalannya persidangan Agustari, akhirnya menutup siding dan melanjutkannya minggu depan dengan agenda yang sama.

Dugaan korupsi kedua terdakwa terjadi pada tahun 2008, di mana saat itu Pemkab Langkat telah mengucurkan dana Kamtibmas (Stabilitas) sebesar Rp.1,7 milyar lebih yang dananya diambil dari APBD Langkat.

Bahkan, sebagian besar uang tersebut diduga dikorup oleh keduanya karena banyak pihak yang seharusnya menerima, tapi tidak mendapatkan. “Hasil penyelidikan dan audit BPK jumlah kerugian atau uang yang dikorupsi sebesar Rp.1,7 milyar. Dan dari jumlah tersebut, Sukyar Mulianto diduga telah memotong sebesar Rp.500 juta dari jumlah angaran. Atas perbuatanya, kedua terdakwa dijerat dengan Pasal 2 dan atau 3 UU No 31 1999 jo No 20 tahun 2001 tentang tindak pidana Korupsi. (darwis)

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: