Menjelang Subuh di Bukit Lawang, 7 Kafe Remang Ludes, Bule Perancis Terbakar


sumber : Pos Metro Medan

LANGKAT-Teriakan heboh seorang pemuda, Selasa (5/4) menjelang subuh, spontan membangunkan warga yang bermukim di tepian aliran Sungai Bahorok, Bukit Lawang, Langkat. Besarnya api sulit ditahan. Akibatnya, 7 kafe bersama 28 rumah ludes. Seorang bule Perancis, terbakar.

Informasi dihimpun POSMETRO MEDAN, pascabanjir bandang yang melanda Bukit Lawang pada November 2003 silam, perlahan mengubah suasana objek wisata alam TNGL serta suaka margasatwa orang utan yang terkenal hingga ke mancanegara itu.

Umumnya di sana berdiri bangunan sederhana yang didominasi kayu serta bahan-bahan ringan. Kondisi itu, membuat api dengan mudah menjilati seluruh material di 7 kafe remang-remang, serta 28 bangunan rumah di sana.

Seorang warga yang terbangun melihat kebakaran, hanya bisa menjerit membangunkan warga agar tak jadi korban amukan api. Sebab si jago merah beraksi, tepat pada saat sebagian besar penghuni lokasi wisata itu, tengah pulas di peraduan malam. Tepatnya pada pukul 03.45 wib kemarin.

“Kebakaran…kebakaran…” teriaknya hingga memecah keheningan kampung yang berada di pinggiran aliran Sungai Bahorok, tepatnya di Dsn VII, Ds Timbang Jaya, Bukit Lawang, Bahorok, Langkat.

Beberapa warga yang ditemui POSMETRO MEDAN di tengah puing-puing sisa bangunan pascakebakaran mengatakan, sumber api pertama kali terlihat dari dekat arena permainan bola bilyard.

“Kita belum mengetahui apa penyebab pastinya. Tapi salah seorang warga yang pertama kali melihat, ada api muncul dari atas atap rumah dekat rumah bilyard,” katanya seraya menjelaskan, bangunan rumah dan kafe-kafe remang yang berdiri di tempat itu, umumnya bertingkat.

Ditambahkan pria yang mengaku bernama Izal (35) itu, diduga pengunjung kafe membuang puntungan rokok dan jatuh di atas daun nipah, pengganti material seng penutup atap bangunan.

“Tapi itu belum pasti bang. Soalnya polisi bilang, besar kemungkinan juga karena hubungan arus pendek listrik,” tambah Izal yang sibuk bersama warga membawa ember berisi air. Sebab, hingga tiba pagi hari di sana, puing-puing itu masih membara.

Hasil investigasi, di daerah wisata nasional itu, ternyata tak memiliki fasilitas pemadam kebakaran. Untuk menahan api tak menjalar ke bangunan lain, warga terpaksa merobohkan dinding rumah dan kafe yang terbakar.

“Kalaupun pemadam dihubungi, sudah pasti tak sempat lagi lah. Makanya, kami terpaksa merobohkan bangunan yang terbakar, supaya jangan sampai menjalar ke bangunan lain. Kalau nggak, udah entah macam manalah lokasi ini,” ujar warga yang tak jauh dari posisi Izal di tengah puing-puing kebakaran.

Akibat aksi merobohkan bangunan terbakar, secara tak sengaja menyebabkan seorang bule Prancis tertimpa reruntuhan dinding yang berapi. “Untung tak sampai ada korban jiwa,” ujar Camat Bahorok, Sekula Singarimbun.

Sekula mengatakan, bule Prancis yang belum diketahui namanya itu, telah lama tinggal di Bukit Lawang. Akibat tertimpa bangunan terbakar, korban menderita uka bakar pada bagian punggungya. “Korban sedang santai di sebuah kafe yang terbakar,” katanya.

Dijelaskan Sekula, 28 rumah dan kafe yang terbakar itu, milik 19 kepala keluarga. Dia menampik adanya isu unsur kesengajaan dalam peristiwa itu. Jawaban klasiknya, arus pendek listrik sebagai dugaan sementara penyebab kebakaran.

“Begitu terjadi kebakaran, saya langsung menuju lokasi. Tidak ada korban jiwa, hanya seorang warga keturunan asing berkebangsaan Prancis yang mengalami luka bakar pada punggungnya. Lantaran terkait warga asing, kita menyerahkan persoalannya ke Mapolres Langkat,” ujar Sekula yang mengaku sedang menunggu bantuan dari Pemkab Langkat bagi warga yang tertimpa musibah.

Disinggung soal kesiapan unit armada regu pemadam kebakaran yang seharusnya ada di lokasi sebuah objek wisata, Sekula Singarimbun mengaku pernah membicarakannya melalui Musrembang.

“Tapi akhirnya hanya ada 1 unit mobil pemadam kebakaran untuk wilayah Langkat Hulu. Armada itu ditempatkan di Kecamatan Kuala karena daerahnya berada di tengah Langkat Hulu,” sebut Camat Bahorok itu.(aswin)

Dulu Kampung Neraka, Sekarang Jati Putih

LOKASI kebakaran di Bukit Lawang kemarin, dikenal dengan sebutan Kampung Jati Putih. Sudah jadi rahasia umum, kawasan ini belakangan jadi lokalisasi hiburan malam, plus geliat para pemuas syahwat.

Berbagai sumber yang tak ingin namanya dikorankan mengatakan, dari sejumlah bangunan yang terbakar, ada beberapa bangunan milik warga biasa. Namun tak sedikit pula yang berpraktik mesum. Bahkan sejumlah orang mengaku bersyukur.

“Di tempat itu banyak tumbuh pohon jati putih. Itulah yang kemudian menjadi julukan kampungnya. Tapi di balik nama jati putih, seluruh warga sudah tahu kalau tempat itu merupakan lokalisasi,” sebut sumber yang pantas dipercaya.

Bukan cuma cerita warga, POSMETRO MEDAN pun pernah melakukan liputan investigasi di daerah yang banyak berupah pascabanjir bandang Bahorok 2003 lalu. Sama dengan keterangan warga, amatan waktu itu membuktikan, di sana merupakan lokalisasi mesum.

Sarana hiburan malam, plus wanita-wanita pemuas nafsu yang datang dari luar daerah, selalu menghiasi malam di kampung yang sebelumnya diberi julukan ‘Kampung Neraka’.

Keberadaan lokalisasi esek-esek di objek wisata Bukit Lawang ini ditandai dengan munculnya hingar bingar dentuman musik yang memacu andrenalin. Tentunya diiringi kerlap-kerlip lampu di ruang kafe, plus hidangan miras yang terpampang.

Di sebuah kafe yang sempat disinggahi POSMETRO MEDAN beberapa waktu lalu, selain sajian musik karaoke dan minuman keras, juga tersedia beberapa ruangan di lantai atas. Sembari menikmati minuman ditemani wanita-wanita berpakaian seksi, pra tamu tampak bernyanyi lagu-lagu karaoke.

Untuk naik ke lantai atas, pengunjung memboking wanita-wanita tersebut dengan harga Rp150 ribu. Itu kalau mau short time, plus biaya sewa kamar sebesar Rp30 ribu.

“Kalau di sini, kafenya ya beginian bang. Selain berkaraoke dan minum-minum, kalau abang mau, wanita yang nemani kita nyanyi itu bisa diboking. Nggak perlu susah-susah cari tempatnya, karena di kafe ini ada kamar khusus untuk gituan,” sebut seorang pengunjung yang jadi pemandu investigasi waktu itu.

Dalam pengamatan, terdapat lebih kurang 20 kafe di dekat sebuah tebing cadas, dihiasi jajaran pohon jati putih. “Kalau sudah terbakar gini, mudah-mudahan desa kami terbebas dari maksiat. Apalagi salah satu kafe yang terbakar itu, dulunya milik oknum polisi yang sekarang nggak bertugas lagi di daerah kita ini,” ujar sumber.

Walau tak membantah terkait sejumlah bangunan yang terbakar merupakan kafe remang plus wanita penjajah syahwat, Camat Bahorok Sekula Singarimbun mengaku sulit menjelaskannya secara detail.

“Sebenarnya lokasi terjadinya kebakaran ini merupakan kawasan daerah aliran sungai yang dilarang mendirikan bangunan. Namun pasca terjadinya banjir bandang beberapa tahun silam, inilah yang menjadi dilema bagi kita,” katanya sempat tak fokus menjawab.

Namun lanjut Sekula, pihaknya telah berupaya menertibkan warung kafe remang-remang itu bersama Satpol PP. “Namun ada hal yang sangat sulit, membuat kita susah melakukannya,” ungkapnya. (aswin)

2 Tanggapan

  1. bisa jadi sabotase..tp saya lebih suka menganggap itu sebagai peringatan thdp sesuatu yg dzalim

  2. Ada kesempatan untuk menertibkan hunian liar …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: